MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Konflik bersenjata yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat mulai berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Harga minyak dunia kini mendekati 80 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran akan lonjakan biaya energi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH, pakar hukum internasional dan ekonomi, menyampaikan keprihatinan atas potensi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah tersebut terhadap Indonesia.
“Lonjakan harga minyak mentah akan langsung membebani APBN, terutama pada pos subsidi BBM yang tahun ini dianggarkan sebesar Rp26,7 triliun. Jika tidak diantisipasi, akan ada efek domino seperti naiknya biaya logistik, harga bahan pokok, dan melemahnya daya beli masyarakat,” ujar Prof. Sutan dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (23/6/2026).
Ia meminta Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, untuk mengambil langkah cepat dan menyusun skenario darurat ekonomi guna melindungi stabilitas nasional.
“Kami percaya Presiden memahami strategi pertahanan, namun saat ini musuh kita bukan hanya senjata, tapi juga gejolak ekonomi global. Maka dari itu, kebijakan fiskal dan perlindungan ekonomi rakyat harus segera diperkuat,” tambahnya.
Menurutnya, jika konflik semakin memburuk dan Iran menutup Selat Hormuz—jalur utama distribusi minyak dunia—dunia akan menghadapi krisis energi yang lebih dalam, dan negara berkembang seperti Indonesia akan paling terdampak.
“Pemerintah harus segera memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terjebak dalam krisis yang lebih luas. Jangan menunggu sampai rakyat tercekik, baru kita bergerak,” kata Prof. Sutan.
Ia berharap pemerintah memperhatikan secara serius gejolak internasional dan dampaknya terhadap ekonomi nasional, khususnya terhadap rakyat kecil yang paling rentan terdampak. (**)







