Home / OPINI

Senin, 25 Agustus 2025 - 14:04 WIB

OVA ITU NARASI TANPA BUKTI

by M Rizal Fadillah

MAKSUD hati memeluk gunung apadaya tangan tak sampai, maksud hati mengklarifikasi apadaya hanya mampu bernarasi tanpa ada bukti. Ova Emilia memang sudah kadung pasang badan untuk yang diaku sebagai alumni. Jangan-jangan hingga mati nanti ia akan terus teriak hidup Jokowi. Rektor mau membuat bersih UGM, sayangnya justru menambah kotor. Rezim kampus omon omon.

Ketika dugaan ijazah palsu sudah memasuki tahap proses hukum baik perdata maupun pidana, maka persoalan atau fokus utama adalah bukti dan bukti. Ini yang ditunggu oleh seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, bukan diskusi, orasi, atau unjuk gigi. Apalagi sekedar narasi monolog sebuah klarifikasi.

Sesungguhnya video penjelasan tentang Joko Widodo sudah mendapat kritik dari Roy Suryo, Rismon Sianipar, dr Tifa dan banyak netizen. Penjelasan Rektor Ova Emilia jelas “out of date” karenanya sulit untuk mengubah opini publik yang telah meyakini bahwa ijazah Joko Widodo itu palsu. Bukti-bukti atau dalil penguat kepalsuan sudah terlalu banyak. Nilai video menjadi rendah dan harga Rektor ikut murah meriah.

Baca Juga  JOKOWI MULAI KEHABISAN AKAL

Keterangan Rektor Ova sewaktu dahulu memberi penjelasan, substansi sama dengan kemarin, tidak dipercaya publik. Begitu juga dengan Dekan Fakultas Kehutanan. Keterangan melalui Kepolisian sama saja, publik menuntut bukti. Ketika saat ini ijazah dan skripsi telah disita Polda Metro, maka pihak Polda Metro pun didesak untuk segera mempublikasikan bukti keberadaannya.

Keraguan bahkan ketidakpercayaan atas penjelasan Ova malah menohoknya. Ova ternyata terlibat dalam kasus perbuatan melawan hukum 29 milyar atas Lembaga Penjamin Simpanan. Perusahaan dengan saham terbesar Ova tersebut diputus pengadilan kalah. Publik menilai ini menjadi sandera yang menyebabkan ia harus membela Joko Widodo. Skandal Ova telah menyeret jauh UGM.

Narasi Ova tentang Joko Widodo alumni UGM tidak menjawab pertanyaan. Tunjukan saja bukti-bukti. Joko Widodo telah menggunakan “produk UGM” untuk menjadi pejabat publik lebih dari 10 tahun. Dokumen milik Jokowi termasuk yang ada di UGM adalah dokumen publik. Jika terbukti menipu dan memalsu, Ova yang telah memproteksi dapat dituntut ikut bertanggungjawab. Sekurangnya obstruction of justice.

Baca Juga  GANJAR DAN ANIES TIDAK IKUT PRABOWO

Ova menyembunyikan bukti, Ova hanya bernarasi, Ova kelak harus bernyanyi tentang proteksi.

Emilia itu berasal dari nama keluarga Romawi kuno “Aemilius” yang memiliki akar kata latin “Aemulus” artinya “saingan” atau “berusaha untuk menyamai”.

Semoga saja Ova Emilia tidak sedang berusaha untuk menyamai perilaku ambigu Joko Widodo, sebab jika demikian nantinya Ova akan menjadi sasaran dari kecaman publik.

Ova memang Amelia. Rajin dan mahir bernarasi seperti Jokowi.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 25 Agustus 2025

Share :

Baca Juga

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

OPINI

Merdeka dari Krisis Soft Skills: Menyiapkan SDM Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

OPINI

Perdamaian Harus Menjadi Energi Positif: Mendorong Aceh Menuju Kesejahteraan, Kemandirian, dan Kedaulatan Ekonomi

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026