Home / OPINI

Rabu, 1 Februari 2023 - 23:43 WIB

MEMAHAMI KETIKA PRABOWO SEBAGAI CAPRES

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Pengamat Politik – USK – Banda Aceh.

Dalam berbagai forum diskusi yang saya pernah ikuti, banyak pihak yang berasumsi bahwa Mas Prabowo mencalonkan diri sebagai Presiden RI 2024, tujuannya untuk menjaga elektabilitas partai. Dalam hal ini Partai Gerindra. Hanya Prabowo yang dianggap menjadi icon Gerindra. Tidak ada calon yang lain yang diunggulkan. Inilah mungkin, alasan mengapa rencana suksesi kepemimpinan Prabowo ke Sandiaga Uno ramai-ramai “digagalkan” oleh tokoh-tokoh penting di lingkaran Partai Gerindra.

Prabowo berpeluang menang? Boleh jadi, bagi yang yakin. Tapi kemungkinannya tidak terlalu besar. Pertama, pilpres saat ini memang bukan lagi era Mas Prabowo. Kekalahan dua kali dalam capres (2014 dan 2019) telah menjadi beban. Sebagian pemilih jenuh, lelah dan bahkan mungkin juga pesimis. Disamping kekecewaan para pendukung ketika Prabowo memutuskan untuk bergabung ke istana. Tentu semua ini masih bisa diperdebatkan.

Merosotnya elektabilitas Mas Prabowo, hari demi hari, adalah fakta politik yang tidak bisa diingkari. Elektabilitas Prabowo berada di bawah Mas Anies Baswedan dan Mas Ganjar Pranowo. Bagi analis politik, ini mudah dikalkulasi, dijelaskan dan diuraikan. Variabel-variabelnya relatif gamblang.

Baca Juga  KETIKA AMANAH DAN HUKUM DI NEGERI INI “DIPERMAINKAN” SUATU HARI NANTI INDONESIA HANYA TINGGAL SEJARAH MASA LALU

Kedua, Jokowi, seorang presiden yang punya banyak kendali dan kekuasaan sepertinya lebih menjagokan Mas Ganjar-Erick. Indikatornya terlalu banyak untuk diungkapkan. Meski pasangan ini belum ada jaminan untuk bisa maju.

Megawati, nampaknya lebih memilih jagain rumah besarnya di PDIP dengan Trah Soekarno. Ganjar dianggap menjadi ancaman amat serius bagi Trah Soekarno jika ikut nyapres. Terlalu berisiko bagi suksesi kepemimpinan PDIP jika Ganjar punya kekuasaan. Sekarang menjadi anak manis. Tapi, kekuasaan memberi segalanya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh penguasa?

Apakah Ganjar akan diusung oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB)? Tanpa PDIP, diperkirakan elektabilitas Ganjar akan rontok. Ganjar sendiri juga belum tentu punya nyali untuk keluar dari PDIP. Ada semacam stigma: kader PDIP yang keluar dari partai akan hancur dan tak lagi menarik.

Dukungan kekuasaan menjadi faktor yang tidak kalah penting untuk memperbesar potensi kemenangan. Meski rakyat selalu ingin dan terus mendorong agar istana tidak ikut mencampuri kontestasi di pemilu 2024. Tapi, belum terlihat tanda-tanda istana itu netral. Dan dukungan istana clue-nya ke rambut putih. Semua orang seolah serempak untuk menunjuk ke arah Mas Ganjar.

Baca Juga  ENTAH MENGAPA, TEMAN-TEMAN AKTIVIS MENYALAHKAN SAYA?

Informasi luar dan dalam yang bocor ke publik seolah semakin menambah keyakinan publik apa yang diungkap salah satunya oleh Hasnaeni Moein : KPU beroperasi untuk memenangkan Ganjar-Erick, dan Bukan Prabowo.

Bagaimana dengan Sandiaga Uno yang beberapa kali menyatakan “sangat serius untuk mencalonkan diri sebagai Presiden?”

Meski Sandiaga masih bisa menjadi pemain cadangan sebagai cawapres. Bisa menggantikan Erick Tohir jika ada kendala. Atau didorong untuk menjadi cawapres Puan Maharani. Dalam politik semua itu bisa terjadi. Tak ada kata final dan titik dalam komunikasi politik.

Tugas utama Sandiaga lebih pada pertama, upaya menjaga PPP agar berada dalam kendali istana. Supaya PPP tidak kemana-mana. Kedua, untuk mengambil (dan memecah) pendukung Anies dan Prabowo. Anies, Prabowo dan Sandiaga, ketiganya punya ‘massa pemilih’ yang sama. Dengan masuknya Sandiaga, suara Anies dan Prabowo diharapkan bisa tergerus, berpindah dan berkurang. Wallahu Aklam… Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Kita tunggu saja … !!!

Banda Aceh, 02 Februari 2022.

Share :

Baca Juga

OPINI

Menjemput Nakhoda Baru Unimal: Meritokrasi Akademik dan Ujian Integritas Kepemimpinan

OPINI

“Jangan Jual Aqidah Demi Nafkah”: Ajaran Agama Kita Ingatkan Pentingnya Memilih Pekerjaan Halal

OPINI

Merdeka dari Krisis Soft Skills: Menyiapkan SDM Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

OPINI

Perdamaian Harus Menjadi Energi Positif: Mendorong Aceh Menuju Kesejahteraan, Kemandirian, dan Kedaulatan Ekonomi

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?