Home / OPINI

Selasa, 15 November 2022 - 14:23 WIB

Etika Politik Bar-barian

OPINI – Politik itu memang bukan hanya masalah untuk membidik kekuasaan, tapi konsentrasinya bisa disebut full untuk kekuasaan. Selebihnya hanya lampiran pemanis belaka. Begitulah bar-bar dari politik yang abai pada etika, moral bahkan akhlak yang tidak difungsikan untuk memuluskan tujuan guna menggamit kekuasaan.

Karena itu, politik bisa dipahami memang dominan pula dianggap licik. Karena acap mengabaikan budaya dan etika. Bahkan sekedar untuk bertata krama saja, cenderung untuk dipolitisir pula. Maka itu, budaya “bajing loncat” pun marak dalam budaya politik — atau bahkan dianggap hal yang biasa. Tidak dianggap pamali untuk dilakukan dalam budaya politik entah di negeri mana saja. Apalagi di Indonesia — yang konon masih perlu belajar sampai mentok ikhwal demokrasi — karena masih menjadi semacam “barang baru” di negeri “gotong rotong” ini. Karena itu, setiap orang mulai memahami budaya politik suatu kaum atau suatu bangsa dapat dijadikan penakar dari budaya suatu kaum itu atau dari peradaban bangsa yang bersangkutan.

Baca Juga  KEANGKUHAN DAN KESOMBONGAN ; ITULAH SIFAT IBLIS LAKNATULLAH

Dalam budaya ekonomi, adapun untuk menggaruk keuntungan yang segede-gedenya dengan modal sekecil mungkin — bila perlu tidak mengeluarkan modal sedikit pun — dianggap akan lebih baik. Begitulah kodrat dan iradah Nya politik yang — seakan-akan boleh dan sah — abai pada budaya dan etika — bahkan moral — sehingga birahi untuk melakukan kudeta, khianat, ingkar janji — bahkan tipu daya — menjadi bagian dari faksi politik yang dihalalkan.

Oleh karena itu tak perlu heran jika janji-janji politik tinggal janji — bukan sekedar ingin ditunda atau dipiuhkan — namun hendak di jungkir balikkan agar bisa menjadi penjerat yang mengikat untuk kerja bakti berikutnya yang serba gratisan. Alias tidak pernah akan ditepati. Ya, beginilah realitas dari budaya demokrasi yang belum matang. Banyak hal masih acap diselesaikan dengan uang.

Jadi, istilah janji tinggal janji itu pun bukan cuma dalam urusan percintaan kawula muda seperti yang riuh dinyanyikan itu. Tetapi janji politik justru tidak kalah keji hingga menyakitkan bila sempat tersengat oleh kelakuan mereka yang culas dan degil seperti itu. Dan biasanya, janji-janji itu akan diumbar ke mana-mana dan dimana-mana saat menjelang pesta demoksasi — Pilkada, Pemilu bahkan saat mau pemilihan kepala desa atau Ketua Umum partai politik itu sendiri yang memang sah untuk direbut dengan cara apapun. Penyebab utamanya karena etika dan budaya — bahkan tatanan moral atau akhlak — tak mendapat tempat di relung hati nurani mereka yang culas.

Baca Juga  KETIKA ERA POLITIK PENCITRAAN MENJADI PRIMADONA, "PERAMPOK" TAMPIL SEBAGAI DERMAWAN

Meski begitu, toh permohonan restu pun diminta tanpa malu-malu kepada semua segmen maupun elemen masyarakat untuk perilaku bejat mereka yang tidak yang memiliki etika dan moral bahkan akhlak itu, tanpa merasa berdosa atau pun beban dan pengkhianatan yang dilakukan.

Penulis :  Jacob Ereste, Jakarta, 15 Oktober 2022

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Dari Penilaian ke Asesmen, dari Hukuman ke Disiplin Positif: Menguji Wajah Baru Pendidikan Indonesia

HUKUM

Ketika Klien Bertanya: Memahami Hak dan Peran Advokat dalam Perkara Hukum

OPINI

Untuk Para Pakar Yang Dianggap Goblok, Jangan Pernah Kapok

OPINI

ANALISIS: Dua Gerbang Energi Dunia Terkunci, Indonesia Waspada Krisis Logistik Global

ACEH

Maulid Nabi di Pulo Gajah Mate Meriah dengan Zikir dan Rapai, Tgk. Asnawi Ajak Generasi Muda Teladani Rasulullah SAW

OPINI

Pergantian Menkeu Tanpa Penjelasan

OPINI

Mengembalikan Kedigdayaan Samudera Pasai Melalui Pengembangan Ekonomi Maritim 

EDUKASI

Jangan Langsung Mengajar: Mengapa Lima Menit Pertama Menentukan Semangat Belajar Siswa