“Kuasa Akan Dicabut, Yang Tersisa Hanyalah Amal dan Kenangan”
Oleh: Redaksi MEDIALITERASI.ID | Aceh – Rabu, 5 November 2026
MEDIALITERASI.ID | OPINI – Bersyukur, ketika media sosial masih menyisakan ruang untuk postingan yang mengajak kepada kebaikan. Di tengah derasnya kabar yang memancing amarah dan perpecahan, kita masih menemukan seruan untuk mendoakan kebaikan bagi sesama.
Kita doakan, siapa pun yang menginginkan kebaikan, semoga Allah SWT memberikan kebaikan dan keberkahan itu untuknya. Selalu.
Firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 26 menjadi pengingat yang sangat dalam bagi siapa pun yang sedang berada di kursi kekuasaan:
“Katakanlah: Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali ‘Imran: 26)
Ayat ini menegaskan satu hal yang sering kita lupa: kekuasaan itu bukan milik kita. Kekuasaan itu titipan.
Allah yang memberi, Allah pula yang bisa mencabutnya, kapan pun Dia kehendaki, dengan cara apa pun yang Dia kehendaki. Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada kursi yang selamanya diduduki.
Karena itu, jangan jadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa hebat. Jangan jadikan pangkat, kedudukan, dan kekuasaan sebagai alat untuk merendahkan orang lain.
Jadikan jabatan sebagai kesempatan untuk berbuat manfaat.
Sebab, kita tidak akan selamanya berada di kursi kekuasaan. Akan ada waktunya kita turun. Dan pada saat itu, yang tersisa hanyalah tiga hal:
Pertama, kenangan. Apa yang orang ingat tentang kita saat kita berkuasa? Apakah mereka mengingat kebaikan, atau justru mengingat kesombongan?
Kedua, penilaian manusia. Sejarah akan mencatat, apakah kita pemimpin yang melayani, atau penguasa yang dilayani.
Ketiga, dan yang paling berat, pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Setiap keputusan, setiap tanda tangan, setiap kebijakan, akan ditanya kelak.
Maka pesan redaksi MEDIALITERASI.ID hari ini sangat sederhana:
Rendah hati saat berkuasa, tetap bermartabat saat tak berkuasa.
Orang yang rendah hati saat berkuasa, akan tetap dihormati saat ia sudah tidak berkuasa. Sebaliknya, orang yang sombong saat berkuasa, akan ditinggalkan saat kekuasaannya dicabut.
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua, apa pun jabatan kita hari ini – kepala desa, camat, bupati, pejabat, wartawan, atau rakyat biasa – menjadi orang yang amanah, yang menggunakan setiap titipan untuk kebaikan, bukan untuk kehebatan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.







