Home / OPINI

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:29 WIB

OPINI: Aceh di Persimpangan Sejarah, Antara Kebangkitan Bangsa Tua dan Target Perusakan Generasi

MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Wacana bahwa Aceh kini menjadi target perusakan manusia dengan menghalalkan segala cara kembali menguat. Fenomena terungkapnya pabrik sabu 1,2 ton di Pidie, maraknya korupsi, degradasi adat budaya, hingga tekanan sosial politik, seolah menjadi sinyal bahwa Serambi Mekkah sedang berada di titik paling rawan dalam sejarah modernnya.

Jika ditarik ke akar sejarah, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Aceh Adalah Bangsa Tua Dunia, Bukan Sekadar Daerah

Dalam literatur sejarah dunia, Aceh atau Atjeh Darussalam diakui sebagai salah satu bangsa tertua di Asia Tenggara. Jauh sebelum Republik Indonesia lahir, Aceh telah berdiri sebagai sebuah kesultanan merdeka dan berdaulat.

Aceh adalah pintu masuk Islam pertama di Nusantara dan Asia Tenggara. Dari Bandar Aceh Darussalam, cahaya Islam menyebar ke Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina Selatan. Jejak peradaban Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara adalah bukti sahihnya.

Sejarah mencatat, saham kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengorbanan rakyat Aceh. Saat Agresi Militer, Aceh menyumbang pesawat Seulawah RI-001, menyumbang emas, dan menjadi benteng terakhir perjuangan mengusir penjajah dari Samudera Hindia hingga Selat Malaka.

Aceh pernah berdaulat jauh sebelum Portugis datang, sebelum VOC Belanda menjajah 350 tahun, sebelum Jepang menduduki, dan jauh sebelum konsep RI/RIS itu sendiri ada. Ini adalah fakta historis global.

Baca Juga  Menggila Pembuatan Berhala Patung Soekarno 

Modus Perusakan Generasi: Dari Narkoba hingga Adu Domba

Inilah yang kemudian memunculkan tesis penting: kebangkitan kembali sistem hukum Islam, ilmu pengetahuan, dan peradaban Aceh Darussalam yang adil dan bermartabat di akhir zaman, niscaya akan mendapat perlawanan dari berbagai penjuru.

Serangan itu tidak lagi dalam bentuk kapal perang dan meriam. Tetapi serangan senyap yang jauh lebih berbahaya:

1. Melalui Agama: Pendangkalan akidah dan pengaburan sejarah kejayaan Islam Aceh.

2. Melalui Narkoba: Menjadikan Aceh sebagai target pasar dan bahkan basis produksi, seperti terbongkarnya pabrik 1,2 ton di Pidie. Ini adalah perusakan generasi muda secara sistematis.

3. Melalui Korupsi & Ekonomi: Memiskinkan rakyat di atas tanah yang kaya.

4. Melalui Pendidikan, Adat dan Budaya: Menggerus nilai Imtaq dan Imtek, menghilangkan jati diri Keacehan.

5. Melalui Tekanan Keamanan: Fitnah, provokasi, adu domba, dan penggiringan isu negatif terhadap hak-hak Bangsa Aceh yang sejatinya cinta damai, keadilan, dan kemerdekaan bagi semua bangsa.

Ketika narkoba masuk ke gampong-gampong, ketika adat Seudati dan Saman mulai dilupakan, ketika sejarah Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar tidak lagi diajarkan dengan bangga, maka sejatinya itulah bentuk penjajahan gaya baru.

Baca Juga  PEMERINTAHAN YANG LEGITIMATE DAN KUAT, DIHASILKAN DARI PROSES POLITIK YANG BERADAB

Teguran Alam dan Ujian Kezaliman

Para ulama sering mengingatkan, Aceh adalah Negeri Syuhada, Negeri Para Aulia dan Waliyullah. Tanah para Kesultanan. Ketika kezaliman dan ketidakadilan merajalela di muka bumi Aceh Sumatera, maka teguran itu datang dalam bentuk bencana yang bertubi-tubi.

Bukan karena Allah benci, tetapi karena kasih sayang-Nya agar rakyat Aceh kembali ke jati diri: sebagai bangsa yang beragama, berbangsa, dan bernegara dengan sistem hukum Islam yang rahmatan lil alamin.

Menjawab Tantangan: Saatnya Bangkit

Aceh sedang memasuki fase penentuan. Fase diuji dengan cobaan paling berat sebelum bangkit kembali.

Pertanyaannya: Apakah kita akan diam melihat generasi Aceh dihancurkan oleh sabu 1,2 ton, oleh korupsi, dan oleh adu domba? Atau kita bangkit kembali merajut sejarah gemilang sebagai Bangsa Tua Dunia yang bermartabat?

Menjaga Aceh bukan hanya tugas orang Aceh, tetapi tugas sejarah untuk peradaban dunia.

Wallahu A’lam.

 

Penulis: Iqbal | Editor: Ayahdidien

 

Opini Media Literasi: “Aceh sebagai bangsa tertua di Asia Tenggara kini jadi target perusakan generasi lewat narkoba, korupsi, adu domba di tengah kebangkitan kembali peradaban Serambi Mekkah.”

Share :

Baca Juga

ACEH

Guru Besar USK: Jabatan Publik Bukan Harta Warisan, Jangan Hanya Bagi Jabatan Sementara Rakyat Melarat

OPINI

Sinergi Pemuda dan Polri: Membangun Kepercayaan, Menegakkan Keadilan

OPINI

KABUT ASAP: Ketika Asap Lebih Paham Cara Menutupi Persoalan Daripada Pejabat yang Menanganinya

ACEH

ABEH UBEE ABEH: Slogan Persiraja yang Harus Dibuktikan di Atas Lapangan, Bukan Sekadar Tulisan

OPINI

Masker Untuk Rakyat, Topeng Untuk Penguasa: Ketika Negara Gagal Melindungi Warganya

OPINI

Opini Guru Besar USK: Bendera Bintang Bulan Aceh dan Ujian Kepastian Hukum Negara

OPINI

Waktu Akan Membuktikan: Penjilat Pergi Saat Kepentingan Habis, yang Tulus Tetap Setia

OPINI

Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara Negara