MEDIALITERASI.ID | OPINI — Sebuah renungan keras yang tengah viral di kalangan jurnalis dan aktivis Aceh berbunyi lantang: “JANGAN HANYA MENGHARGAI MEREKA YANG PANDAI MENJILAT, LALU MELUPAKAN MEREKA YANG TULUS DAN SETIA!”
Pesan ini bukan sekadar keluh kesah. Ini adalah potret buram realitas sosial hari ini, di mana ketulusan sering kalah oleh kepandaian bersilat lidah.
Wahai sahabat dan teman satu profesi, terkadang kita memang tak pandai merangkai kata untuk merayu, memelas, apalagi mencari muka di hadapan pejabat dan pengusaha. Kami hanya datang dengan cara sederhana, berbicara apa adanya, tanpa kepandaian mencari perhatian.
Namun ironisnya, realita berkata lain. Mereka yang pandai mengambil hati justru sering menjadi pengendali keadaan. Ucapan mereka didengar, telepon mereka diangkat, pesan WhatsApp mereka dibalas cepat, bahkan kehadiran mereka seolah selalu dinanti.
Sementara kami yang dianggap polos, berkali-kali menghubungi, mengirim pesan, bahkan mengucapkan salam, tak sedikit pun mendapat jawaban. Seolah ketulusan tak ada harganya.
Fenomena Zaman: Kepandaian Menjilat Lebih Dihargai
Rupanya, di zaman ini, kepandaian menjilat terkadang lebih dihargai daripada ketulusan, dan kedekatan lebih diutamakan daripada kesetiaan. Ini adalah penyakit sosial yang perlahan menggerogoti nilai pertemanan dan profesionalisme.
Kepada para pejabat dan pengusaha, ingatlah satu hal penting: jangan sampai kalian hanya mendengar suara orang-orang yang pandai membisikkan pujian, lalu menutup telinga dari mereka yang selama ini hadir dengan tulus.
Jangan pula merasa hebat hanya karena dikelilingi orang-orang yang pandai memainkan kata dan mengatur kedekatan untuk sebuah kepentingan.
Sebab, orang yang selalu mengiyakan belum tentu tulus, dan orang yang pandai memuji belum tentu setia. Terkadang, mereka hanya pandai membaca peluang, tahu kapan harus mendekat, dan mengerti bagaimana menjadikan kedekatan sebagai keuntungan pribadi.
Yang Polos Bukan Bodoh, Diam Bukan Tak Punya Harga Diri
Sementara kami yang kalian anggap polos, bodoh, dan tak punya kemampuan merayu, mungkin memang tak pandai mencari muka. Namun, kami tahu arti menghargai, menjaga hubungan, dan tetap setia tanpa harus menjilat.
Ingat baik-baik, Tuan! Jangan ukur ketulusan seseorang dari seberapa sering ia memuji, dan jangan ukur kesetiaan dari seberapa lihai ia mengambil hati.
Sebab, ketika jabatan berakhir, kekuasaan berpindah, dan kepentingan tak lagi menguntungkan, belum tentu mereka yang hari ini paling dekat masih berdiri di samping kalian.
Kami mungkin bukan orang yang paling pandai mengambil hati, tetapi jangan sampai kalian baru menyadari arti kehadiran kami setelah orang-orang yang kalian banggakan itu pergi membawa kepentingannya masing-masing.
Tak pandai menjilat bukan berarti tak punya harga diri. Diam bukan berarti bodoh. Dan dianggap tak berguna hari ini, bukan berarti tak pernah berjasa.
Pada akhirnya, WAKTU AKAN MEMBEDAKAN MANA YANG SEKADAR PANDAI MENDEKAT DAN MANA YANG BENAR-BENAR TULUS SERTA SETIA.
Penulis: Sahabat Jurnalis
Editor: Ayahdidien







