Home / OPINI / POLITIK

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Kebhinekaan dalam Pidato, Penyeragaman dalam Praktik: Catatan Kritis Teuku Muhammad Jamil untuk Sumpah Pemuda 2026

MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 menjadi momentum refleksi kritis. Ilmuwan Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Teuku Muhammad Jamil, melontarkan catatan tajam tentang ironi praktik kebangsaan di Indonesia.

Dalam tulisan berjudul “KEBHINEKAAN DALAM PIDATO, PENYERAGAMAN DALAM PRAKTIK”, Teuku Jamil mempertanyakan makna persatuan yang selama ini hanya diagungkan dalam pidato-pidato kenegaraan, namun sulit diwujudkan dalam penghormatan terhadap kekhususan daerah.

“Sebagai ilmuwan politik yang bergelut dengan dinamika dan persoalan sosial, saya acapkali bertanya: mengapa kita begitu lantang mengagungkan kebinekaan dan persatuan, tetapi sering kali begitu sulit mengakui kekhususan daerah yang justru menjadi bagian dari kekayaan bangsa?” tulisnya.

Menurutnya, sumpah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa harus dipertanyakan kembali: apakah persatuan telah menjadi kesadaran kolektif, atau sekadar rangkaian kalimat sakral yang kehilangan makna ketika berhadapan dengan kepentingan kekuasaan.

Teuku Jamil menegaskan, persatuan bukanlah penyeragaman. Kebinekaan bukanlah sekadar slogan. Dan pengakuan terhadap kekhususan daerah bukanlah ancaman bagi negara, melainkan ujian kedewasaan negara dalam menghormati sejarah, identitas, dan martabat masyarakatnya.

Baca Juga  Pemerintah Tidak Boleh Membiarkan Tenaga Kerja Asing Menyerbu Lapangan Kerja di Negeri Kita

“Di sinilah ironi kehidupan berbangsa terlihat. Kita merayakan perbedaan ketika berpidato, tetapi terkadang mencurigainya ketika perbedaan itu menuntut pengakuan dan penghormatan nyata. Kita meminta daerah setia kepada negara, tetapi negara pun harus membuktikan kesetiaannya pada konstitusi, keadilan, dan komitmen kebangsaan,” ujarnya.

Meminjam kritik moral Muchtar Lubis tentang watak manusia Indonesia, Teuku Jamil mengingatkan bahaya kemunafikan dan hipokrisi kolektif.

“Ketika ucapan tentang persatuan tidak sejalan dengan tindakan, ketika kebinekaan dipuji tetapi kekhususan dipersulit, dan ketika keadilan dijadikan semboyan, tetapi pelaksanaannya dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan,” ungkapnya.

Ia menilai persoalannya bukan semata apakah negara mengakui perbedaan, melainkan apakah negara memiliki keberanian politik untuk memperlakukan perbedaan secara adil.

Baca Juga  OPINI : SANTRI AGENT OF CHANGE

“Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil membuat seluruh rakyatnya seragam, melainkan bangsa yang mampu merawat perbedaan tanpa kehilangan persatuan,” tegas Teuku Jamil.

Dalam catatan kritisnya, ia memberikan peringatan keras:

“Jika kebinekaan hanya diagungkan dalam pidato, sementara kekhususan daerah dipandang sebagai beban, maka yang sedang kita pertontonkan bukanlah kedewasaan berbangsa, melainkan kontradiksi antara idealisme kebangsaan dan praktik kekuasaan.”

Teuku Jamil menutup dengan pesan mendalam untuk Sumpah Pemuda 2026: Persatuan tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam perbedaan. Perbedaan harus dikelola melalui konstitusi, dialog, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat setiap daerah.

“Sebab, persatuan yang dipaksakan akan melahirkan kepatuhan tanpa ketulusan. Sebaliknya, persatuan yang dibangun di atas keadilan akan melahirkan kesetiaan yang berakar pada kesadaran,” pungkasnya.

“Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026.”

 

Penulis: Teuku Muhammad Jamil | Ilmuwan Politik dan Akademisi USK, Aceh

Editor: Redaksi Medialiterasi.id

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Paradoks Orang Pintar: Banyak yang Merasa Tahu, Tapi Tak Peka Merasakan

OPINI

OPINI: Aceh di Persimpangan Sejarah, Antara Kebangkitan Bangsa Tua dan Target Perusakan Generasi

ACEH

Guru Besar USK: Jabatan Publik Bukan Harta Warisan, Jangan Hanya Bagi Jabatan Sementara Rakyat Melarat

OPINI

Sinergi Pemuda dan Polri: Membangun Kepercayaan, Menegakkan Keadilan

OPINI

KABUT ASAP: Ketika Asap Lebih Paham Cara Menutupi Persoalan Daripada Pejabat yang Menanganinya

ACEH

ABEH UBEE ABEH: Slogan Persiraja yang Harus Dibuktikan di Atas Lapangan, Bukan Sekadar Tulisan

HUKUM

PERANCIS MEMBARA: Gedung Bersejarah 143 Tahun Dibakar Amuk Massa, Menara Jam Runtuh di Tengah Demo Biaya Hidup

OPINI

Masker Untuk Rakyat, Topeng Untuk Penguasa: Ketika Negara Gagal Melindungi Warganya