
Duduk santai di kursi plastik di senja hari
Berteman segelas kopi dan roti yang setia
Ada harap yang entah apa jauh terawang
Menuju kenangan akan indahnya bumi Pertiwi
78 tahun negeri ku merdeka lepas belenggu penjajahan
Berdaulat adil dan makmur seperti dalam mukadimah nya UUD ’45
Benarkah?
Tentu saja inginnya bukan hanya angan di atas kertas
Sumber daya alam melimpah adakah kita bisa hidup mewah atau hanya sekedar mimpi
Berkelakar dan bercengkrama dalam sanjungan negara kaya sumber alam di atas tumpukan hutang yang semakin menggunung
Licinnya jalan tol semulus lolosnya kontraktor asing mengusir Pribumi
Tebalnya beton tiang yang memancang sekuat cengkraman yang perlahan melemahkan daulat negeri
Proyek-proyek megah nan mercusuar membuai keadilan yang semakin tenggelam
Daulat pangan tinggal mimpi di bawah gedung-gedung menjulang
Udara kotor semakin pengap sebab penyaring sudah semakin rusak
Hutan hancur sawah pun hilang kemanakah lagi petani berladang
Teknologi gak bisa gantikan pangan dan makanan
Riuh redam hingar bingar tontonan yang sudah ga ada tuntunan
Merasa hebat merasa kuasa lupa hidup bernegara
Kampanye saling memukul saling memfiting merasa unggul tak peduli jauh tersesat
Lukisan harapku semakin murung harapan tak lagi terang
Perang makian perang fitnahan terus menghujani dalam lembaran senja
Cari muka cari panggung ingin selalu agung padahal semua sudah pada linglung
78 tahun negeriku merdeka apakah kamu baik-baik saja ataukah sakit mu semakin kronis
Perut bumi mu dicakar berhamburan terburai tak termakan anakmu
Hutan mu sudah tak seram lagi sebab disana besi-besi dan beton menggantikan pohon
Paru-paru sakit parah oleh debu dan bisingan mesin
Bahaya krisis air krisis pangan sudah pasti menanti
Semoga ibu pertiwi memihak kepada pribumi…
Lhokseumawe, Agustus, 2023







