![]()
Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Politik, USK – Banda Aceh
Pada suatu pagi hari akhir pekan, beberapa minggu yang lalu – saya bersama isteri dan anak-anak pergi jalan-jalan pagi sambil mau menikmati nasi bebek masakan khas Aceh dan hangatnya kopi. Tepatnya, di sebuah “Warkop” yang terletak di jalan lintas Banda Aceh – Medan di pinggiran kota, saya bersama keluarga masuk ke warkop itu. Kami disambut dengan senyuman ramah oleh karyawannya. Secangkir kopi sudah menjadi gaya hidup dan bukan sekadar minuman biasa.
“Kalau dulu orang ngopi ya hanya sekedar ngopi. Sekarang orang sudah mulai pintar mencari mana warung kopi yang enak, suasana yang enak untuk kongkow. Sekarang bagaimana menggabungkan ikatan emosional, manajemen, dan marketing,” kata pemilik warung tersebut kepada saya. Warung Kopi menciptakan imajinasi bukan hanya tempat meneguk kopi biasa, tapi arena aktivitas sebuah komunitas masyarakat, termasuk merancang dan mendiskusikan calon-calon pemimpin masa depan.
Ini tak lepas dari semakin variatifnya kultur ngopi alias minum kopi di kedai. “Dulu ngopi hanya tempat ngobrol, tapi sekarang bisa jadi tempat berproses kreatif, ngobrol masalah pekerjaan, meeting point, “rujuk politik ataupun rujuk cinta” yang hampir kandas. Kita tinggal menyesuaikan dengan pasar saja,” kata karyawan lain lagi sambil tersenyum.
Acara seperti ini membuat konsumen memiliki keterikatan emosional. Belum lagi acara-acara diskusi khas mahasiswa dan politisi yang digelar di banyak warkop saat ini. Namun terciptanya imajinasi di Warkop sebagai tempat rujukan komunitas mahasiswa dan politisi telah menambah nuansa lain dari warkop. Ya, Sebagai pendidik, akademisi dan peneliti, saya tidak sia-siakan momentum ini dan saya manfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan sejumlah informasi tentang fenomena “warkop” saat ini. Saya pikir asyik juga, jika nanti ditulis dan dipublish dibaca warga masyarakat.
Pada sisi lain, “Faktor yang membuat kopi mudah atau susah diterima adalah taste (cita rasa). Kopi enak dan tidak enak itu relatif,” kata pemiliknya lagi. Konsumen sudah terbiasa dengan kopi instan. Warung kopi ini mencoba memberikan informasi tentang berbagai jenis kopi racikan murni yang relatif berbeda. Saat ini, Warkop ini juga mencoba berburu kopi rakyat jenis Arabika langsung ke petani.
Pemiliknya ingin menyajikan kopi segar yang begitu selesai digiling sendiri dengan mesin langsung diseduh untuk dinimati. Hhhmmmm…
LALU, Saya memesan secangkir kopi saring, sementara istri memesan kopi susu, dan anak-anak memesan teh susu panas dan milo. Kopi saring memang selalu menjadi favorit saya untuk mencoba kopi. Kopi disajikan panas-panas, dengan aroma persis aroma yang menjalar di sepanjang trotoar Jalan sumatera itu. Kopinya ramah, pahitnya kuat dan asamnya minim.
Pekat pahit kopinya konon berasal dari biji kopi pilihan yang didatangkan langsung dari Tanah Gayo. Warung Kopi ini menjaga kualitas dengan mengolah sendiri kopi-kopinya, sejak dari biji kopi sampai ketika dihidangkan hangat-hangat dalam cangkir. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk melihat proses pembuatan kopinya, tapi tak apa, saya menikmati kopi sembari terjebak suasana yang membawa ke masa lalu di saat saya masih remaja. Istri saya pun suka dengan kopi susunya, hangat di perut begitu katanya.
Begitulah nuansa Warkop yang ada di kota ini. Warkop di Ujung Pulau Sumatera atau di Aceh ini telah ada Sejak ABAD XVII. Salah Seorang berkebangsaan Belanda membawa kopi arabica ke Batavia, kini Jakarta.
Lambat laun, ketika Belanda “menetap” di Aceh, kopi itu sampai juga ke ujung utara Pulau Sumatra dengan jenis yang makin beragam. Tumbuh dari tanah Nanggroe yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu dan tentu menguntungkan. Apalagi kemudian, prosesnya sejak penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara yang khas, kopi Aceh menjelma sebagai ikon sebuah kota yang khas dan unik.
Bukan hanya di dalam negeri, orang mengenal kopi Aceh ini tampil beda dan berciri khas, di beberapa negara luar minuman khas ini pun sangat diminati. Menurut data Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Provinsi Aceh pada sepuluh tahun terakhir, Amerika Serikat merupakan bangsa pasar terbesar kopi Aceh. Dari 3,6 ribu ton jumlah ekspor, .sebanyak 2,8 ribu ton atau 77,7% diekspor dengan nilai US$8,7 juta. Kemudian disusul Kanada sebanyak 383,7 ton dengan nilai US$1,28 juta, Jerman 172,2 ton (US$536,44 ribu), Taiwan 91,2 ton (US$261,2 ribu), dan Selandia Baru 91 ton (US$324,8 ribu).
Warung kopi yang berada mulai dari perkampungan hingga pusat kota di Aceh sangat ramai dikunjungi warga dari berbagai usia, baik pria maupun wanita. Kopi Aceh terkenal Bukan hanya di dalam negeri, orang mengenal kopi Aceh ini tampil beda dan berciri khas, rasa dan aromanya sangat berbeda dan di beberapa negara luar minuman khas ini pun sangat diminati. Warung kopi yang berada mulai dari perkampungan hingga pusat kota di Aceh sangat ramai dikunjungi warga dari berbagai usia, baik pria maupun wanita.
Warung kopi adalah tempat dimana orang membahas tentang berbagai masalah rumah tangga, hukum, sosial, dan politik, inilah yang dibicarakan saat orang-orang minum kopi. Berbagai bentuk warung kopi, dari yang sangat sederhana dengan bangunan terbuat dari kayu dan tripleks hingga ruko-ruko beton bergaya bangunan minimalis seperti layaknya pusat pertokoan modern lainnya, menyebar hampir di seluruh wilayah Nanggroe Aceh Darussalam ini. Dan tentu juga para pelaku ekonomi membicarakan strategi usaha dan kerja sama bisnis mereka juga di warung kopi.
Tradisi minum kopi dikenal di banyak masyarakat di berbagai negara. Tetapi, barangkali hanya ditemukan di Aceh, entah di kota maupun desa, sejak subuh hingga tengah malam warga silih berganti ke kedai kopi. Banyak orang desa berdatangan ke warung kopi setelah shalat subuh, ini membuat para suami enggan menyentuh masakan istrinya pada pagi hari.
Banyak yang dapat kita ambil hikmah dari warung kopi mulai dari sisi positif maupun negatifnya, tergantung bagaimana seseorang dapat memaknai warung kopi tersebut, maksudnya di sini adalah untuk apa tujuan kepergian ke warung kopi, manfaatnya, dan resikonya yang akan di dapat secara mutlak.
Masalah kemudian muncul seiring dengan pesatnya pertumbuhan warkop. Beberapa waktu lalu, saat Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam dipimpin oleh Bang Agam atau Bang Irwandi Yusuf, yang kebetulan beliau juga sering mengunjugi warung kopi, sempat cemas karena banyak pegawai negeri yang “meu-wet-wet” dan tidak ada di tempat/kantor ketika jam kerja. Ia melakukan sweeping ke warung kopi-kopi favorit pejabat di Banda Aceh.
Itu membuat orang yang berseragam pegawai negeri menjadi malas untuk duduk di warung kopi, biasanya banyak para pegawai yang berseragam nongkrong pada saat jam kerja di warung kopi SOLONG, warung kopi CHEK YUKEE di jalan pinggir kali banda Aceh, “Warkop” ULEEKARENG, Warung kopi TAUFIK, Warung Kopi SMEA Premium, dan masih banyak lagi warung kopi yang belum sempat saya lewati secara kasat mata di Banda Aceh ini, akan tetapi hal itu tidak membuat perubahan secara menyeluruh pada saat ini, buktinya sampai sekarang masih banyak para pegawai yang berseragam masih terlihat asyiknya nongkrong di saat jam kerja.
Mereka tidak perduli dengan peringatan, karena orang Aceh (kata orang?, maaf bukan kata saya lho … ) sangat sulit untuk menerima perubahan demi kemajuan yang lebih baik, bagi mereka peraturan di buat untuk dilanggar, istilahnya setelah dinasehati akan masuk kuping sebelah kiri dan keluar ke kuping sebelah kanan, inilah fenomena yang terjadi saat ini. Mudah-mudahan pernyataan ini TIDAK BENAR. Mari kita instrospeksi diri masing-masing!
Pada saat Zaman dulu Aceh sangat terkenal dengan wilayah konflik, sehingga warung kopi yang awalnya ramai menjadi sepi karena banyak masyarakat yang takut untuk pergi ke “Warkop”, banyak kontak senjata yang terjadi di nanggroe Aceh Darussalam. Karena saat itu Aceh dalam status operasi militer, sejak dulu warung kopi di Aceh telah menjadi peradaban dan kopi menjadi budayanya, di situ akan terjadi sosialisasi dan silaturrahmi dan warung kopi juga menjadi tempat segala permasalahan yang ada akan di tuntaskan.
Koran, kopi, teh, kue-kue dan makanan kecil menjadi pendamping saat orang berkunjung ke warung kopi. Tak banyak sarana yang disediakan hanya ada bangku dan televisi. Pada pagi hari banyak orang yang datang untuk sarapan disana hingga tengah malam dan orang menghabiskan waktu sia-sia di warung kopi itu sudah menjadi budaya, pada saat itu yang terlihat banyak di warung kopi adalah para bapak-bapak dan orang lanjut usia yang menjadi langganan ke warung kopi. Jarang terlihat oleh masyarakat warung kopi dulu lebih maju bangunannya, hanya terdiri dari papan maupun bangunan ruko yang apa adanya, biasanya warung kopi didirikan di dekat meunasah maupun di pasar dan di samping jalan raya atau di pelosok-pelosok desa.
Sementara Warung Kopi Pada Masa Kini jauh telah berbeda. Setelah 17 tahun menikmati keadaan damai, kini wajah warung kopi di Aceh sangatlah berbeda. Pernak-pernik tekhnologi menyapa. Di mana-mana banyak sekali warung kopi yang di bangun menjamur di Aceh, di setiap sudut jalan pasti ada warung kopi, Tidak seperti zaman dulu yang menjadi langganan warung kopi hanyalah Anak muda, Bapak-bapak, dan para lanjut usia, kini warung kopi banyak diminati oleh kaum remaja, anak-anak, para wanita khususnya mahasiswi dan mahasiswa tidak jarang juga para ibu-ibu. Semua bercampur baur dalam suatu ruangan.
Beragam macam tujuannya, ada yang datang untuk musyawarah, ada yang datang untuk bertemu pacar, membuka Face Book, WA, IG, dan nongkrong bersama teman-teman. Tidak seperti dulu di saat konflik, jarang terlihat oleh kita wanita yang duduk nongkrong di “Warkop”, kecuali bagi para-para penjual kue yang membawa kue di pagi hari dan kembali saat petang untuk mengambil hasil jualannya. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang tidak mengejutkan lagi bagi Rakyat Aceh.
Bahkan dalam hari-hari ini nuansa warkop di Aceh semakin menggelora. Banyak hal yang dibicarakan dan didiskusikan, mulai dari kondisi negara yang sulit untuk diprediksikan, siapa caleg DPD/DPR RI, DPRA dan Bursa Calon Gubernur pun acapkali menjadi perbincangan dan perdebatan. Masing-masing Timses sibuk menggunggulkan Calonnya dengan berbagai cara. Ada yang sibuk dengan membuat striker dan tidak sedikit pula yang mendesain dalam bentuk video. Hampir semua Timses punya GWA untuk mempromosikan calonnya. Bagi saya, kondisi sangat baik asalkan tidak saling menjelekkan orang lain.
Banyak alasan lain yang menjadikan warung kopi itu sebagai tempat tongkrongan (ngumpul) para masyarakat Aceh, mulai dari sarana jaringan internet (Wifi), Mahasiswa adalah pemburu terbanyak dalam bidang ini, mereka yang memiliki laptop datang secara pribadi maupun berbondong-bondong datang bersama teman dan mulai menggunakan sarana ini secara gratis.
Kenyamanan tempat, bangunan yang sedemikian rupa di rancang oleh arsitek-arsitek handal untuk memikat para pengunjung, mulai dari sarana tempat duduk, kipas angin, sarana WC umum, dan kerlap-kerlip lampu hias di kala malam hari. Selain itu adalah konsumsi yang begitu memuaskan, Seperti minuman dan makanan.
Semua warung kopi sekarang tidak hanya menyediakan kopi semata, minuman seperti juice, minuman kaleng, dan minuman dalam botol, banyak juga disediakan sehingga pelanggan merasa senang jika nongkrong di “Warkop”. Tidak hanya itu, di areal warung kopi juga terdapat jajanan khas Aceh seperti Mie Aceh, Martabak, dan macam-macam dech. Ini tentu saja menjadi target para pelaku ekonomi untuk mengembangkan strategi usaha dan kerja sama bisnis
Karena pada saat ini usaha yang sangat berkembang pesat adalah warung kopi.
Karena warung kopi di Aceh selalu ramai di kunjungi masyarakat Aceh. Beda dengan warung kopi di luar Aceh, Jika di Aceh tidak hanya masyarakat biasa yang mau nongkrong, akan tetapi gubernur, bupati, para petinggi lainnya juga sering berkunjung di tempat tersebut. Bahkan pejabat Aceh pun seringkali “menjamu” para tamu resmi di Warung Kopi. Semoga Warung Kopi Di Aceh Membawa Banyak Dampak Positif Di Bandingkan Negatifnya, Sehingga Kopi Aceh Menjadi Ikon Besar Untuk Masyarakat Aceh dan juga untuk Masyarakat Indonesia, termasuk ketika menteri dan Presiden RI berkunjung ke Aceh, juga Warkop dijadikan tempat santai yang asyik. Mereka semua sangat menikmatinya kopi Aceh yang enak dan harum.
Banda Aceh, 10 Pebruari 2023







