Home / BERANDA

Jumat, 31 Maret 2023 - 19:17 WIB

KETIKA BINATANG “MEMBALAS BUDI”

Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial, USK, Banda Aceh

“Seandainya saya dapat meringankan rasa sakit, atau meredakan rasa nyeri seseorang, atau menolong seekor burung murai yang kebingungan kembali ke sarangnya lagi, Insya Allah, hidup saya tak akan sia-sia” (TM).

—–

TADI MALAM ada kejadian yang amat menakjubkan, untuk pertama kalinya aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana semut-semut bertoleransi padaku, bukan hanya lewat kisah dari al Qur’an tentang Nabi Sulaiman dan tentaranya yang mampu berbicara dengan binatang…(QS. An-Naml [27] : Ayat 18), Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkata lah seekor semut : “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang mu, agar kamu tidak diinjak oleh Nabi Sulaiman AS dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

ADA KISAH Menarik, Ceritanya tadi malam ketika saya bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud kira-kira pada pukul 03.00 Wib menjelang pagi, dan makan sahur (mungkin karena sudah lama juga saya jarang bangun malam karena kelelahan akibat aktivitas sepanjang hari), langsung disambut oleh banyaknya semut yang berkeliaran di lantai kamar buku, padahal saya biasanya shalat di situ, di ruang perpustakaan kesayanganku. Istriku sendiri pada suatu waktu (mungkin saat itu dia lagi marah, perempuan kan biasanya marah atau ngambek, jika dia kesal pada sikap kita …he.he..), pernah bilang begini : Kamar perpustakaan Abang lebih indah daripada taman halaman rumah kita lho …”.

Saya yang mendengar sindiran isteri waktu itu hanya diam dan senyam – senyum aja, karena memang saya tak pernah membersihkan taman. Sudahlah, tak penting itu kok. Kembali lagi kita ke cerita kamar yang penuh semut, pikiranku kok langsung membayangkan bagaimana bila nanti ya saat berdiri untuk melakukan shalat, semut-semut itu naik ke kakiku, aduh … bisa kacau, dan shalatku tidak khusyu’…!!! “Ah nyapu dulu dech sebelum shalat”, begitu kata hatiku.

Dengan mata masih sedikit mengantuk, aku pergi untuk mengambil air wudhu dulu dan segera kembali ke kamar. Mataku langsung terbelalak melihat kamar sudah bersih dari semut, hanya ada 3 ekor semut yang aku lihat di lantai kamar. Begitu cepatnya semut-semut itu bersembunyi, padahal berwudhu’ kan tidak lama, kamar mandinya juga dekat saja, kamar mandinya masih berada di tempat itu, masih terletak di rumahku bukan di Takengon kok…

Baca Juga  Kesal Gegara Ditagih Utang, Kawan Sendiri Dianianya Sampai Bonyok

LUCU banget bila membayangkan mungkin pimpinan semut tadi bilang ke teman-temannya : “Hai semut-semut, masuklah ke sarangmu agar kamu tidak mati tertimpa sajadah, tuan ganteng mu mau shalat…!”. Mungkin itu adalah cara semut membalas budi padaku karena aku memang tidak suka membunuh semut, meskipun semut di rumah banyak, aku lebih suka menyapunya saja, tanpa membunuhnya.

Isteri dan Kekasih hatiku malah tak pernah mau membunuh rayap, padahal rayap kan merusak. Dia bilang padaku suatu ketika : ” Bang, Rayap kan itu makhluk Allah, memang takdirnya dia makan kayu. Jadi ngapain kita bunuh, dia juga berhak hidup kok seperti makhluk Allah yang lain”. Subhanallah …!!!

Ada lagi cerita tentang bagaimana cara hewan membalas budi, ini cerita yang dialami oleh adik sepupuku dan “Brondong”. Ngeri yaaa, namanya kok Brondong, jadi ingat Tante Genit yaaa….?
“Brondong” (ini istilah ku sendiri lho…), itu nama seekor kucing liar yang suka mengganggu cewek-cewek penghuni rumah kost tempat sepupuku ngekost waktu dia masih kerja di Sigli. Kucing itu bila dilihat dengan mata (memangnya mau dilihat pakai apa? Hhhmmm…) tampak mengerikan, makanya mereka memanggilnya dengan ‘brondong’, mungkin, diambil dari istilah “laki-laki muda”, yang suka mengganggu “tante genit”.

Seperti umumnya tempat kost, di depan setiap kamar ada tempat sampah. Tempat sampah inilah yang sering jadi sasaran “Brondong” mencari makanan. Hampir tiap hari ada saja penghuni kost yang marah-marah, karena tempat sampahnya tumpah diaduk-aduk si Brondong. Adik sepupuku dengan cerdik mengamati di mana Brondong biasa makan, akhirnya ketemu di bawah tangga. Maka adik sepupuku suka menaruh sampah yang disukai Brondong di tempat ini.

Otomatis di tempat sampah sepupuku tidak ada kepala ikan, tulang ayam dan makanan yang diburu kucing. Jadi bisa Aman kan? Yang membuat sepupuku heran adalah cara Brondong membalas budi padanya. Bukan cuma tempat sampahnya saja yang selamat dari perbuatan Brondong, tapi makanan yang berada di kamar dan di dapur juga ikut selamat tanpa ada yang mengganggu.

Baca Juga  Rapat Persiapan Sosialisasi SE Gubernur Aceh tentang Peningkatan Kompetensi KPA Digelar BPBJ

Biasanya kan cewek-cewek kost suka menaruh makanan di kamar, kalau lupa menutup pintu kamar ya bakalan digarap si Brondong. Anehnya, makanan di kamar sepupuku selalu utuh walaupun pintu kamar dibiarkan terbuka. Begitu juga dengan masakan sepupuku di dapur. Di dapur kost kostan kan berderet dengan panci-panci berisi masakan. Kalau malam sering diserbu Brondong yang lagi lapar, apalagi dapurnya tak ada pintunya. Herannya sepupuku, panci teman-temannya yang ditutup pakai tutup panci yang di atasnya diberi pemberat cobek batu bata, malah jadi sasaran Brondong sampai tumpah, panci sepupuku sendiri cuma ditutup pakai tutup panci saja malah aman, padahal isinya ya makanan kesukaan kucing.

Brondong sepertinya bisa membedakan mana makanan kepunyaan orang yang suka memberi makanan padanya, makanya tak pernah diganggu gugat. He.He… Padahal Brondong cuma seekor kucing liar yang kotor dan mengerikan. Ternyata bila ada orang yang berbaik hati padanya, dia mengerti dan mampu pula membalas budi. Masya Allah…!!!

Sahabatku…,Ini adalah sebuah kisah nyata. Masihkah kita ragu untuk berbuat baik, walau sekedar menyingkirkan duri dari jalan, menyayangi sesama, memaafkan, dan mengikhlaskan jika kita disakiti dan difitnah?. Karena yang mendzalimi dan memfitnah kita juga tidak akan pernah manjadi manusia hebat, malah dia akan gagal dan gagal selama hidupnya. Bayangkan, Sedangkan semut dan kucing saja masih mampu membalas budi baik untuk orang yang menyayanginya…!!!. Bukankah kita makhluk Allah yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk-NYA yang lain? Namun di antara kita masih banyak yang tak setia dan bahkan jadi pengkhianat kepada sesamanya. Semoga Kisah Nyata ini dapat Bermanfaat Bagi Hamba Allah Swt yang Berhati Mulia. Insya Allah, Berkah!

Share :

Baca Juga

ACEH

Sentuhan Kemanusiaan Kapolsek Idi Tunong, Salurkan Bantuan untuk Anak Yatim

ACEH

Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah Ke XXX, Kapolres Aceh Timur Tekankan Sinergi dan Inovasi Daerah

BERANDA

Biro PBJ Setda Aceh Salurkan Ratusan Mushaf Al-Qur’an ke Dayah dan Panti Asuhan Terdampak Banjir

ACEH

Patroli Malam, Satsamapta Polres Aceh Timur Antisipasi Gangguan Kamtibmas

ACEH

Residivis Incar Jamaah: Maling Masjid Baiturrahman Gasak Tas Saat Sujud

ACEH

Diduga Korban Penganianyaan, Pemuda Aceh Timur Tewas dengan Luka Lebam dan Bekas Ikatan

ACEH

Kedekatan Bhabinkamtibmas Polsek Darul Ihsan dengan Warga, Kunci Harmoni Polri dan Masyarakat

ACEH

Irigasi Tersumbat Banjir, Warga 6 Desa di Aceh Timur Patungan Sewa Alat Berat: “Pemerintah Jangan Tutup Mata”