Home / OPINI

Senin, 8 September 2025 - 08:29 WIB

Ketika Algoritma Lebih Berdaulat Daripada Rakyat

Oleh : Benz Jono Hartono [ Praktisi Media Massa]

MEDIALITERASI.ID | OPINI – Demokrasi zaman now sudah pindah rumah. Ia tak lagi tinggal di gedung parlemen atau rapat-rapat elite politik.

Sekarang alamat resminya ada di Facebook, Instagram, TikTok, X (Twitter), dan WhatsApp grup keluarga.

Dari sanalah urusan bangsa ini diatur, mulai dari jualan skincare abal-abal, debat politik ala warung kopi, sampai seruan aksi yang berujung lempar batu.

Jempol Lebih Berkuasa daripada Kursi DPR

Kalau dulu suara rakyat dihitung lewat kotak suara, kini lewat jumlah like, retweet, dan viewer. Satu orang dengan HP bisa lebih berpengaruh daripada pejabat yang duduk di kursi empuk DPR.

Bedanya, kalau pejabat butuh golden ticket dari partai, influencer hanya butuh lighting murah dan caption provokatif.

Demokrasi medsos ini bahkan lebih “efisien” daripada birokrasi negara.

Baca Juga  Paradoks Fisikal dan Persistensi Kemiskinan: Kritik Struktural atas Tata Kelola Dana Otonomi Khusus Aceh

Mau bikin bisnis? Cukup live streaming dan teriak “murah, murah, murah!” dagangan laris.

Mau jatuhin lawan? Tinggal bikin konten gosip setengah benar, setengah bohong, netizen bisa menghakimi sendiri.

Dari Hashtag ke Jalanan

Fenomena paling memukau adalah ketika hashtag jadi bahan bakar kerusuhan. Awalnya santai, trending topik soal harga beras, isu korupsi, atau kebijakan pemerintah yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi setelah di viral kan, berubah jadi ajakan demo.

Masalahnya, demo ini seringkali tidak punya ujung. Dari niat mulia memperjuangkan keadilan, ujung-ujungnya bakar ban, lempar batu, dan selfie sambil teriak “revolusi!” untuk konten.

Demokrasi berubah jadi reuni akbar orang-orang yang frustasi tapi butuh panggung.

Demokrasi atau Dagelan?

Inilah titik lucunya, orang percaya medsos adalah suara rakyat. Padahal, suara itu sering kali sudah direkayasa buzzer, pasukan cyber, atau akun anonim yang tidak jelas siapa pemiliknya.

Baca Juga  JOKOWI ITU RAJA DI NEGARA DEMOKRASI

Demokrasi medsos ini kadang lebih mirip pasar malam, ramai, bising, penuh tipu-tipu, tapi bikin ketagihan.

Mau cari kebenaran? Susah. Yang ada hanyalah siapa yang lebih cepat bikin narasi dramatis. Mau cari aspirasi rakyat? Sulit. Yang lebih kelihatan malah adu emosi, debat kusir, dan teori konspirasi.

Demokrasi medsos adalah demokrasi dengan sistem “siapa paling viral, dia yang berkuasa”. Dari bisnis sampai demonstrasi, dari obral diskon sampai obral kebencian, semuanya diputuskan oleh algoritma.

Jika demokrasi klasik lahir dari perjuangan panjang rakyat melawan tirani, maka demokrasi medsos lahir dari kuota internet dan paket data unlimited malam hari.

Dan jika dibiarkan, bukan mustahil negara ini akan lebih sering terbakar oleh trending topik ketimbang api revolusi sejati.

Jakarta, Senin 8 September 2025

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Ketika Guru Membangun Peradaban di Tengah Kebisingan Publik

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru