
Oleh : Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd [Akademisi, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa]
Ironi negeri ini seolah tak pernah habis. Baru saja guru dan pendidik dituding sebagai “beban negara”, kini publik dikejutkan oleh kabar kenaikan gaji DPR/MPR yang dirayakan dengan tawa dan joget di gedung terhormat—gedung yang berdiri megah dari pajak rakyat kecil yang setiap hari berjuang membeli beras.
Pertanyaannya sederhana: di mana hati nurani wakil rakyat? Bagaimana mungkin rakyat diminta berhemat di tengah harga sembako yang meroket, sementara wakilnya berpesta dengan fasilitas negara? Ketidakadilan ini semakin terasa ketika tenaga pendidik, yang menjadi garda terdepan mencerdaskan bangsa, justru diperlakukan seolah beban keuangan negara.
Kita masih ingat ucapan Ahmad Doli Kurnia Tandjung yang menyebut kenaikan gaji PNS dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Ironis, pernyataan itu datang dari kursi empuk seorang pejabat. Bukankah rakyat sudah lama cemburu melihat gaya hidup mewah para wakilnya? Cemburu karena mereka joget, rakyat menangis. Cemburu karena mereka pesta, rakyat puasa.
Wahai para wakil rakyat, sadarlah. Kursi empuk, ruang ber-AC, dan fasilitas mewah bukan sekadar hak, tetapi amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Tuhan. Pernahkah kalian melihat wajah anak yatim piatu yang tak tahu kemana mengadu? Pernahkah kalian membayangkan perut kosong rakyat kecil yang hanya bisa menatap harga beras tanpa mampu membeli?
Jika terus begini, sejarah tidak akan mencatat kalian sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai pengkhianat rakyat. Sudah saatnya DPR/MPR menunjukkan empati nyata: hentikan euforia, prioritaskan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, dan jadilah teladan moral, bukan sumber kemarahan publik.
Lhokseumawe, Sabtu 23 Agustus 2025







