Oleh :
T.M. Jamil
Guru pada Sekolah Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
“Selamat Memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2023”
Dalam keseharian menunjukkan, bahwa sosok seorang “IBU” adalah orang yang paling dekat dengan anaknya. Ibu merupakan orang yang pertama dan utama yang mengajarkan cara berbicara, cara menghitung jari di tangan, dan cara mengekspresikan rasa kasih sayang serta bersimpati dan berempati pada orang lain. Dengan demikian, ibu merupakan guru pertama dan utama dalam mengendalikan anaknya untuk menjadi orang yang baik dan berguna bagi banyak orang. Kemudian, “AYAH” juga harus menjadi orang yang pertama atau orang nomor dua dalam kehidupan anak sebagai pendidik dan membimbingnya untuk tumbuh menjadi anak yang sehat fisiknya dan cerdas otaknya. Menjadi orang yang berguna seperti kata Rasullullah SAW : “khairunnas anfahum linnas”, (orang yang baik adalah orang yang bermanfa’at bagi orang lain).
Pola kepemimpinan dalam rumah tangga oleh ayah dan pola pengasuhan ibu akan menentukan kedamaian perjalanan hidup bagi anak. Setidaknya, ada tiga tipe kepemimpinan dan pengasuhan yang secara tak sengaja diterapkan oleh ayah dan ibu, yaitu tipe otoriter, laizzes faire dan demokrasi. Orang tua yang otoriter cenderung berwatak keras, suka memaksakan pendapat. Tipe laizzes faire adalah orang tua yang suka masa bodoh, serba tidak peduli atas apa yang terjadi dan dilakukan anaknya, dan tipe demokrasi adalah pola kepemimpinan seorang ayah dan pengasuhan kaum ibu yang menghargai hak-hak dan pendapat anak dan anggota keluarga yang lain. Tentu saja rumah tangga yang didambakan adalah rumah tangga yang hangat dan yang demokratis dalam perspektif religius. Orang tua atau ayah-ibu yang penuh penghargaan di mana kegiatan dalam rumah tangga dilaksanakan secara kebersamaan menurut peran yang telah disepakati.
Namun dalam kenyataannya, bahwa jutaan kaum ayah tidak tahu dan tidak mau tahu soal mendidik anak (mudah -mudahan tidak termasuk kita seperti ini). Mereka terlalu menyerahkan urusan mendidik anak pada si ibu. Sebagian menganggap bahwa kalau ikut mendidik dan merawat anak maka karakter maskulin mereka akan merosot. Dalam pola rumah tangga tradisional ‘kaum bapak’ berpendapat bahwa menggendong, memberi susu dan mendidik anak adalah urusan kaum wanita. Tidak masalah, atau masih dapat “dimaafkan” jika kaum ayah tidak ikut mengurus pendidikan dan perawatan anak lantaran super sibuk mencari nafkah demi keluarga juga. Namun apa ungkapan yang patut diberikan pada kaum ayah yang “cuma pandai (meu-aneuk ; beranak”) kemudian kurang terampil dalam mencari nafkah untuk keluarga apalagi dalam urusan mendidik anak-anak kita. Marilah kita semua untuk merenung!
Kenyataan bahwa dalam masyarakat tradisional, orang berpendapat bahwa tugas ibu adalah menjaga anak dan tugas ayah adalah bekerja, mencari uang, sehingga kaum ayah atau bapak tidak pantas menyediakan susu botol bayi, dan mengganti popok. Ingatlah, untuk keharmonisan keluarga dan perkembangan anak maka anggapan seperti ini sangat merugikan dan mengkhawatirkan keutuhan sebuah keluarga. Salah seorang pakar wanita Indonesia, Kartini Kartono, mengatakan bahwa setiap pribadi itu unik. Tidak ada dua pribadi yang sama. Pribadi seseorang ditentukan oleh bakat, pendidikan, pengalaman- apakah pengalaman pahit atau menyenangkan – dan faktor lingkungan. Kaum ayah walaupun sibuk bekerja, namun juga harus bisa melibatkan diri dalam kehidupan rumah tangga. Malah ini dapat menambah rasa hormat istri pada suaminya. Kaum ayah yang berpandangan modern di negara kita dan di negara maju lainnya walaupun mereka memiliki banyak posisi karir dan sibuk dengan beberapa aktivitas tetap melowongkan waktu untuk ikut mendidik anak, membantu meringankan pekerjaan rumah, ikut mencuci, memasak sehingga, sekali lagi, mereka mendapat simpati dan rasa hormat yang ekstra dari kaum wanita, dari istri mereka.
Pada umumnya orang mendambakan untuk punya rumah tangga yang hangat, harmonis dan bahagia. Suasana rumah tangga yang begini tidak datang dengan sendirinya, namun harus dibina dan dipelihara. Ayah dan ibu perlu melakukan proses bagaimana mengelola rumah tangga agar tumbuh bahagia. Faktor eksternal yang berpengaruh pada anak bisa berasal dari rumah, sekolah, dan masyarakat seperti teman sebaya dan teman yang berbeda umur. Pengaruh yang diterima – yang dialami – oleh seseorang waktu kecil maka bekasnya begitu mendalam dalam memori seseorang. Semua ha-hal yang disebutkan itu sangat berpotensi dalam pembentukan kualitas kepribadian atau karakter seseorang. Namun, dasar-dasar dalam pembentukan kualitas kepribadian adalah sejak dari rumah melalui sentuhan dan bimbingan orang tua. Bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan lingkungan menentukan kualitas kepribadiannya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang rapuh/lemah terbentuk karena ia kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman dan akibat pemanjaan menuruti kehendak anak tanpa mengajarkan rasa bertanggung jawab (memberi anak kegiatan tanggung jawab). Sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang kuat, ini terbentuk karena pemberian rasa kasih sayang, kehangatan jiwa dan pemberian pengalaman hidup, life skill, pada anak. Kita tahu bahwa kualitas hubungan dan komunikasi yang diberikan orang tua pada anak akan menentukan kualitas kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang akrab dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga yang baik. Sehingga, saya sendiri berkesimpulan bahwa “ibu” merupakan guru pertama bagiku.
Komunikasi yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang bersifat integratif, di mana ayah, ibu dan anak terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai pembicaraan. Orang tua yang dominatif, yang kerjanya “ngobrol” tak henti-hentinya, akan menjadi orang tua yang menyebalkan. Karena ini berguna untuk meningkatkan kualitas karakter dan moral anak. Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua dalam membentuk moral anak dalam keluarga adalah menjaga kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan komunikasi yang ramah dengan suasana demokratis. Keramahan dapat membuat anak merasa diterima dan hak-haknya dihargai. Sudahkah kita sebagai orang tua melakukan hal itu? Ada dua tingkat hubungan orang tua dan anak dalam berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan dan tingkat rasio atau logika. Hubungan pada tingkat feeling atau emosi yaitu untuk pemahaman (empati). Empati berarti memahami perasaan seseorang tanpa harus larut dalam emosinya. Hubungan pada tingkat rasio atau logika juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga. Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh orang tua dalam membina moral anak. Walau orang tua harus bersikap ramah dan demokrasi pada keluarga bukan berarti menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. Dalam membuat keputusan orang tua tetap bersifat demokratis, tetapi tegas dan jelas. Sebab orang tua yang tidak tegas dan mudah mengalah pada anak akan membuat anak bermental “plin plan” atau bermental “terombang ambing”. Zakiah Daradjat, mengatakan bahwa hubungan antara moral dan agama sangat erat. Orang yang taat beragama, moralnya akan lebih baik. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, maka agamanya tidak ada sama sekali.
Kualitas agama seseorang juga ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pengalaman beragama mereka sejak kecil. Mengajak anak-anak berusia kecil untuk mengunjungi berbagai mesjid, memberi fakir miskin sekeping roti dari tangan sendiri, mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, mengajak anak untuk ikut shalat dhuha dan tahajjud, akan dapat memperkaya pengalaman rohani anak dan akan berkesan sepanjang hayat anak. Membentuk pengalaman beragama pada anak saat kecil berarti telah menanamkan akar beragama pada mereka. Kelak pengalaman beragama, yang telah mengakar ini, akan mampu memperbaiki karakter, kepribadian dan moral anak. Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak perlu ada miskonsepsi dalam mendidik anak, ayah dan dan ibu memiliki peran yang sama dalam pendidikan anak. Malah kaum bapak yang terlibat dalam mengurus anak dan rumah akan sangat dihormati oleh istrinya. Orang tua perlu menerapkan pola demokrasi di rumah dan memperlihatkan rasa akrab dalam keluarga agar anak merasa diterima.
Untuk mendidik moral anak, maka faktor model dari orang tua sangat menentukan, orang tua harus terlebih dahulu memiliki moral dan akhlak yang terpuji dan kepada anak perlu diberi tanggung jawab, perhatian, kasih sayang dan pengalaman beragama yang kuat sejak anak masih berusia belia. Ingatlah, bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan “suci” dan jangan pernah biarkan kehidupan anak kita ternoda karena keangkuhan kita sebagai orang tua yang egois. Tulisan ini tidak bermaksud untuk “menggurui”, apalagi merasa diri suci dan tanpa noda, tapi hanya semata-mata untuk saling mengingatkan diri sendiri dan sesama insan yang seringkali kita lupa pada tugasnya. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi orang-orang yang berhati mulia, Insya Allah, Aamiin.







