Home / SASTRA

Minggu, 26 Maret 2023 - 19:06 WIB

GURU, ENGKAULAH YANG PANTAS MENDAPATKAN GELAR PAHLAWAN “TANDA JASA”

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Akademisi – USK – Banda Aceh.

BEBERAPA waktu yang lalu, saya mendapatkan tugas untuk melihat, meneliti dan “memahami” realitas hidup para guru di sebuah daerah. Kegiatan ini merupakan upaya kerjasama dengan teman-teman dari Kampus di Pulau Jawa untuk mencermati kondisi dan nasib “pahlawan bangsa” di bidang pendidikan Sebagai orang yang berdomisili di Provinsi yang katanya teristimewa di bidang pendidikan, nurani saya tergelitik untuk berkontribusi dalam kegiatan tersebut. Kebetulan daerah yang saya kunjungi itu kata orang, daerah terpencil, terisolir, terluar dan sejumlah ter.. ter.. lain lagi. Ketika saya mulai berada di tempat itu banyak hal dan pertanyaan muncul dalam hati dan pikiran.

Berikut ini saya mencoba tuliskan pengalaman itu kembali, semoga bermanfaat bagi “calon-colon abdi negara” di masa depan. Mantan Presiden AS, John F. Kennedy, pernah berkata : “Tanyakanlah dalam hatimu, apa yang dapat kamu berikan untuk negara dan bangsa ini, dan jangan pernah bertanya apa yang telah negara berikan untukmu.” Inilah hakikat sebagai pengabdian suci dengan mengharapkan balasan Allah SWT. Insya Allah.

Dalam amatan saya, “Tingkat kehadiran Guru di daerah terpencil sangat rendah”. “Guru daerah terpencil memang “malas” mengajar, mereka hanya menikmati gaji buta”. “Bagaimana anak pedalaman bisa cerdas, Gurunya tidak pernah hadir”. Begitulah kata-kata dan pertanyaan saya pertama sekali muncul, ketika saya belum bisa mendalami dan memahami tentang kehidupan mereka. Terkesan saya egois. Dan begitu memang kenyataan yang saya lihat pada awal mulai singgah di sebuah sekolah menengah di tempat itu. Kalimat-kalimat itu kuat memprovokasi, marah, sinis dan saya kesal melihat guru yang jarang hadir di sekolah. Ingin rasanya berteriak dan menunjuk muka satu persatu Guru. “Bapak atau Ibu ini bertugas mencerdaskan anak-anak, kenapa begitu mudah melepas tanggung jawab? Menelantarkan anak-anak yang sudah bersemangat datang ke sekolah dan membiarkan mereka tetap dalam kebodohan?” “Mengapa Bapak jarang hadir ke sekolah? Mana tanggung jawab Bapak sebagai Guru”. Pertanyaan itu bertubi-tubi saya lontarkan saat bertemu mereka. (Ah … betapa kasar, sombong dan egoisnya saya ketika itu…). Astargfirullahal’adhiem. Ya Allah, Ampunilah atas semua sikapku ini pada mereka sebagai hamba-MU yang sangat mulia…!

Alhamdulillah, setelah beberapa hari bersama mereka – saya sudah mulai bisa memahami tentang cerita dan kehidupan mereka sehari-hari – yang menurut saya sungguh berat beban yang mereka pikul dalam mengabdi untuk bangsa dan negeri ini. Memang, penelitian semacam ini sangat dibutuhkan kesabaran hati dan keikhlasan jiwa agar kita dapat belajar menghargai dan ber-empaty kepada mereka. Kajian semacam ini bisa dilakukan oleh semua orang, asalkan mereka memiliki sikap dan kesabaran tingkat tinggi.

Namun akhirnya, kemarahan dan sikap egois saya itu perlahan luntur – ketika saya mulai mengenal guru-guru itu dengan lebih dekat. Tahu di mana rumahnya, kenal keluarganya, sudah lebih santai ketika berbicara, bukan hanya sekedar topik basa-basi untuk mengusir keheningan. Sudah pula berani untuk “bermalam” di rumahnya (bagi masyarakat atau orang di tempat ini, bila seorang tamu bersedia bermalam – berarti sudah dianggap masuk sebagai anggota keluarganya sendiri). Akibatnya, semua infomasi yang dibutuhkan dengan mudah dapat kita peroleh. Subhanallah…!

Baca Juga  Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

Seperti malam itu, saya menginap di rumah Pak Umri (Nama Samaran), Kepala Sekolah. Hadir juga menemani Pak Dulah, seorang Guru senior yang hampir pensiun, dan Pak Rahim, ayah angkat kedua serta Guru di SMP tempat saya meneliti, bahkan kadang-kadang saya juga ikut mengajar di tempat itu, sambil menghibur diri dan memberikan motivasi untuk adik-adik/siswa-siswi yang sedang belajar di sekolah itu.

Dan entah darimana mulanya, obrolan kami malam itu sampai kepada bagaimana mereka mengawali karir sebagai Guru di tempat itu. Pendidikan mereka Mulai dari masa pendidikan di Diploma III dan S1 di Universitas ternama di Propinsi ini, cerita saat menjadi guru honorer, bagaimana bertemu calon istri, menikah dan bagaimana masa-masa setelah diangkat menjadi PNS yang mengajar di daerah terpencil. Pak Umri, Kepsek mengawali cerita. Berlatar tahun 1988, beliau mengawali karir di SMP…. (maaf tidak saya sebutkan namanya….) – dulu (daerah transmigran) yang terletak sekitar 30-an km dari Jalan Propinsi. Di sambung dengan Pak Dulah yang mendapatkan amanah negeri untuk mengajar di SMP …… – titik terjauh di Kecamatan ini, sekitar 15-25 km dari tempat Kepala Sekolah ini tinggal sekarang.

Bila digambarkan, seperti inilah lokasi pengabdian para Guru hebat tersebut : Jarak antara Banda Aceh – ke tempat ini hampir 350-an km lebih, ditambah 46 km jarak dari Kota Kabupaten ke gerbang desa. Dari gerbang desa berturut-turut adalah berjarak sekitar 18 km, barulah kita bertemu dengan sekolah tempat saya berada saat itu, ya lebih kurang 30-an km. Dan di tahun 1988, jalan yang ada bukanlah jalan tanah berbatu seperti sekarang ini. Yang ada hanya jalan setapak (kata orang, “jalan tikus”), atau bahkan pernah guru-guru ini merintis jalan menuju sekolah.

“Bapak TM, sekarang enak, naik motor paling hanya 30 menit. Dulu paling tidak butuh setengah hari untuk berjalan sampai tempat kami mengajar”.
Pak Kepala sekolah dan Pak Dulah lebih parah. Perjalanan ke tempat tugasnya bisa memakan waktu satu hari penuh, bahkan tidak jarang mereka menginap di hutan. Bila berangkat mengajar, Guru tersebut selalu membawa tas ransel untuk perbekalan selama dua minggu mengajar. Ya, jujur Pak Kepsek dan Pak Dulah mengakui mereka hanya mengajar selama dua minggu di atas (digunung).

Dua minggu sisanya mereka habiskan di bawah (di kecamatan). Jadi, dalam sebulan kerja Bapak Guru tersebut hanya dua minggu melaksanakan kewajiban? Sedangkan pada dua minggu lagi – digantikan oleh guru-guru hebat yang lain. Memang, secara kasat mata itu yang terlihat di mata kita dalam posisi sebagai pengamat, bukan pelaku. Pada awalnya saya-pun beranggapan begitu. “Ah itu sih bisa-bisanya Bapak membuat alasan”. Namun setelah bercerita lebih jauh, ada sisi yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak mengalaminya secara langsung. Disinilah kita diperlukan sikap empaty, khususnya bagi penguasa dan pengambil keputusan di bidang pendidikan. Jangan hanya kita pandai menuntut kewajibannya, tetapi sesekali lihatlah apakah kita telah pula memperhatikan hak-hak mereka?

Para guru ini sudah merelakan sebagian usia dari hidupnya, kehilangan waktu berharga bersama keluarga tercinta karena harus pergi mengajar di daerah terpencil. Membiarkan masa muda dan kekuatan mereka tergerus oleh langkah-langkah kecil menembus hutan. Membagi sedikit ilmunya untuk sedikit menghilangkan “dahaga ilmu” masyarakat daerah terpencil. Dalam keterbatasan dan kesulitan yang seringkali tidak pernah terbayang sama sekali.

Baca Juga  Sunyi yang Sempat Ditemani

Dua minggu mengajar dalam keadaan seperti ini saya yakin sudah cukup menghabiskan tenaga dan pikiran para guru. Dan sebagai manusia normal, mereka juga butuh keseimbangan dalam hidup. Mereka juga ingin menjalankan peran lain dalam kehidupan pribadi yang mereka miliki secara seimbang. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai isteri, dan ibu bagi anak-anaknya dan sebagai yang lain dalam bermasyarakat dan berbangsa. Masihkah kita berpikir bahwa guru-guru ini pemalas dan tidak bertanggung jawab?
Mungkin memang masih banyak yang “buta huruf” (meski data BPS kita sudah cerdas semuanya), di tempat mereka mengajar, namun bisa jadi ini sudah jauh lebih baik daripada keadaan di saat mereka belum hadir di sana.

Semua itu perlu dan butuh proses. Maka sudah sepantasnya kita semua membuka mata hati, agar kita cerdas dalam menilai hasil kinerja mereka. Mungkin, merekalah yang pantas kita sebut sebagai pahlawan yang sesungguhnya.

Memang, kian hari infrastruktur di desa menjadi semakin baik. Namun itu tidak membuat “guru-guru baru” atau guru muda tertarik mengabdi di pedalaman. Guru di pedalaman kian hari kian berkurang. Lagi-lagi masalah kesejahteraan yang menjadi alasan mengapa banyak yang memilih menjadi guru “Kota” daripada guru “Gunung”. Jadi tinggallah Pak Rahim, Pak Dulah, Pak Umri yang walaupun sudah semakin lemah masih merelakan dirinya untuk mengambil bagian dalam upaya nyata membuat anak-anak tetap memiliki harapan dalam meraih masa depan yang indah.

Mereka terus bergerak walaupun dikepung oleh prasangka yang mendiskreditkan pengabdian yang sudah diperbuat. Label pemalas, pemakan gaji buta, guru yang enggan maju tak mampu lagi menghentikan langkah guru-guru hebat ini.

Wahai Guru, jasamu untuk anak negeri ini sungguh besar. Seharusnya, engkaulah pahlawan yang selayaknya mendapatkan “tanda jasa”. Saya hanya bisa tertegun dan air mata ini tak terbendungkan. Sejujurnya, Saya mengaku bahwa saya baru bisa “melihat”, bukan “memahami”, bahkan untuk “memaknai” sesuatu itupun membutuhkan jiwa dan hati yang suci. Semoga kisah ini dapat memberikan pelajaran berharga bagi saya sendiri dan mungkin juga bermanfaat bagi orang lain. Barakallahu fiekum.

Pagi pun muncul secara perlahan, sedikit demi sedikit mengubah gelap malam menjadi terang benderang. Begitupun Pak Rahim, Pak Dulah, dan Pak Umri. Mereka bukan matahari yang mampu memberi energi pada seluruh siang. Mereka hanya segaris cahaya jingga yang membuka pagi. Tidak mampu menerangi, namun mampu memberi harapan bagi manusia bahwa sebentar lagi mentari hadir mengganti gelapnya malam. Sungguh, betapa hebatnya mereka. Semoga Allah Swt yang akan membalas semua kebaikan itu dengan pahala jariyah kelak. Amiin Ya Rabbal Alamin.

Kisah Sedih Dari Perkampungan Bagian Selatan.

===============

*)Semua nama-nama orang ditampilkan dalam tulisan di atas merupakan “nama samaran”. Mohon maaf, jika kebetulan namanya ada yang sama.

Share :

Baca Juga

SASTRA

Generasi Kami, Kami Setia dan Selalu Ada

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu