Home / OPINI

Jumat, 18 Juli 2025 - 15:47 WIB

Generasi Emas 2045? Mari Jujur, Banyak Anak Kita Belum Lulus dari Revolusi Abjad

Oleh: Juni Ahyar, S.Pd., M.Pd.

OPINI – Akademisi dan Pemerhati Pendidikan dan Bahasa Universitas Malikussaleh
Hari ini wacana pendidikan di negeri ini sibuk dengan kata-kata indah: digitalisasi, sekolah unggulan berbasis teknologi, kelas coding, hingga integrasi Artificial Intelligence (AI). Pemerintah dengan percaya diri berbicara tentang “bonus demografi” 2045, seolah-olah kita sudah berada di jalur pasti menuju Generasi Emas.

Tapi, apakah kita benar-benar siap? Fakta di lapangan menunjukkan realitas yang pahit: masih banyak anak-anak SMP hingga SMA di Indonesia yang belum bisa membaca dengan lancar atau sekadar menghitung dengan baik. Pertanyaan mendasar pun muncul: bagaimana mungkin kita optimistis menyambut Generasi Emas 2045, jika hari ini banyak adik-adik kita belum lulus dari revolusi abjad dan angka?

Baca Juga  HOREEE JOKOWI KE CHINA LAGI

Di tengah sorotan kamera dan narasi besar tentang teknologi pendidikan, kita seakan lupa bahwa pondasi rumah ini belum selesai dibangun. Pemerintah sering bicara tentang inovasi seolah kualitas pendidikan sudah merata di seluruh pelosok negeri, padahal di banyak daerah anak-anak kita bahkan belum paham arti kalimat sederhana yang mereka baca.

Kita patut curiga: apakah pemerintah benar-benar jujur melihat posisi pendidikan kita hari ini? Atau mereka terlalu terpesona oleh kilau teknologi global, sementara masalah mendasar diabaikan?

Pendidikan bukanlah panggung kontes inovasi elitis. Ini bukan tentang siapa yang paling cepat mengadopsi AI, bukan pula soal membuka kelas coding yang canggih di sekolah unggulan. Pendidikan adalah memastikan semua anak Indonesia dari kota sampai pelosok mendapatkan fasilitas belajar yang adil, bisa berpikir jernih, dan memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Baca Juga  Tak Butuh Kampanye, tapi Kita Butuh Keteladanan dan Panutan dari Kinerja Manusia Unggulan

Ini bukan penolakan terhadap kemajuan. Ini ajakan untuk kembali sadar bahwa keadilan pendidikan tidak dimulai dari yang tercepat, tetapi dari yang paling tertinggal. Jika akar pendidikan kita rapuh, jangan berharap pohon ini berbuah manis di tahun 2045. Sebab buah emas itu tidak akan pernah tumbuh jika akarnya tidak pernah diperkuat.

Share :

Baca Juga

OPINI

Gas Aceh, Kita Dapat Apa? Antara Potensi Raksasa dan Realitas Warga yang Masih Gelap

OPINI

Likuidasi Jiwasraya Selesai, Publik Tanya: Rekomendasi Siapa dan Bagaimana Nasib Asabri?

OPINI

26 Tahun Bumi Flora: Ketika Kursi Kekuasaan Mengubur Konflik Agraria Aceh Timur

EDUKASI

Pendidikan Indonesia: Masih Fair atau Sudah Menuju Good?

ACEH

Pasca Banjir Bandang-Longsor, Warga Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan Dana Pemulihan 2026

HUKUM

Ketika Keadilan Dipertanyakan: Antara Hukum, Integritas, dan Harapan Publik

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran