MEDIALITERASI.ID | ACEH TIMUR – Di sudut Desa Seneubok Saboh, aroma masakan rumahan mengepul dari dapur Meunasah menjelang waktu berbuka. Asap tipis yang menari di udara sore itu seolah membawa pesan yang sama: kebersamaan belum pernah surut, meski banjir beberapa waktu lalu sempat merendam rumah-rumah warga.
Wilayah di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, itu masih menyimpan jejak genangan. Sebagian dinding rumah terlihat kusam, perabotan belum sepenuhnya kembali tertata. Namun, di tengah situasi tersebut, para ibu rumah tangga setempat memilih merajut semangat, bukan meratapi keadaan.
Dengan dana seadanya hasil patungan, mereka menggagas buka puasa bersama bagi warga terdampak banjir pada 22 Februari 2026. Sejak pagi, Meunasah desa berubah menjadi pusat aktivitas. Ada yang membersihkan bahan makanan, ada yang meracik bumbu, sementara lainnya sibuk menata hidangan di atas tikar panjang yang digelar sederhana.
“Kami hanya ingin masyarakat kembali tersenyum. Kalau berbuka bersama, rasanya lebih ringan,” ujar Ibu Sri, salah satu penggerak kegiatan, sembari memastikan hidangan tersaji cukup untuk semua.
Tak ada kemewahan dalam perjamuan itu. Menu yang tersaji adalah masakan rumahan: lauk sederhana, sayur hangat, dan takjil buatan tangan sendiri. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Setiap sajian lahir dari gotong royong dan kepedulian.
Bagi warga yang rumahnya sempat terendam, momen tersebut bukan sekadar makan bersama. Di sela menunggu azan Magrib, mereka berbagi cerita tentang malam ketika air mulai naik, tentang barang-barang yang sempat diselamatkan, hingga harapan agar kejadian serupa tak terulang. Tawa kecil sesekali terdengar, memecah suasana yang sebelumnya muram.
Kegiatan itu juga menjadi ruang pemulihan sosial. Setelah banjir memaksa sebagian warga membersihkan lumpur dan memperbaiki kerusakan, kebersamaan di bulan Ramadan menjadi penguat mental. Solidaritas terasa nyata—tanpa menunggu bantuan besar atau seremoni resmi.
Menjelang azan berkumandang, suasana hening sejenak. Doa-doa lirih dipanjatkan, bukan hanya untuk kelancaran ibadah puasa, tetapi juga untuk keselamatan kampung halaman. Ketika waktu berbuka tiba, senyum dan sapaan hangat saling bertukar di antara warga.
Di Desa Seneubok Saboh, banjir memang meninggalkan bekas. Namun lebih dari itu, ia juga memperlihatkan sesuatu yang tak mudah surut: kekuatan komunitas. Di tangan para ibu rumah tangga, kebersamaan menjelma menjadi energi yang menghidupkan kembali harapan.
Ramadan tahun ini mungkin tak sepenuhnya mudah bagi mereka. Tetapi dari Meunasah kecil itu, tersiar pesan sederhana bahwa dalam kesulitan, gotong royong adalah cahaya yang paling setia menerangi. (Zubir)







