Home / OPINI

Kamis, 19 Januari 2023 - 04:53 WIB

Memahami Perilaku Politik dan Sikap Jokowi Dalam PILPRES 2024

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si, Pengamat Politik – USK Banda Aceh

Dalam perspektif politik yang normal, tiga periode jabatan presiden, hampir tidak mungkin terjadi di era reformasi. Indonesia sepertinya trauma punya presiden terlalu lama. Kabarnya, semua partai, terutama PDIP, tidak setuju presiden tiga periode. Jokowi sendiri menegaskan tidak setuju juga untuk tiga periode. Jadi, sudah clear.

Semua kompak. Selama ini, ide tiga periode hanya wacana liar yang berkembang di media, terutama media sosial. Banyak orang juga tidak menginginkan itu terjadi. Lalu, kemana arah politik Jokowi di Pilpres 2024? Apakah Jokowi akan ditinggalkan mitra koalisinya? Atau masih punya kekuatan untuk bergaining position?

Pada tahun 2024, ada 270 Pelaksanaan Tugas (Plt) kepala daerah. Semua Pelaksanaan Tugas dipilih presiden dan memiliki kekuatan tersendiri. Apalagi jika jelang 2024 Jokowi akan menjadi ketua umum salah satu partai.

Kemungkinan Jokowi menjadi ketua PDIP, Demokrat atau partai yang lain bukanlah hal mustahil. Itu bisa saja terjadi. Ini Dunia Politik Bung… Nah, jika Jokowi memiliki partai, kekuatan bargaining-nya akan kuat dan tetap besar.

Di antara tokoh yang santer dan berpeluang maju di Pilpres 2024 adalah Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Eric Thohir, dan sejumlah nama yang lain. Di antara nama-nama itu, siapa yang memungkinkan didukung Jokowi? Hanya perjalanan sejarah bangsa yang akan menjawabnya.

Semua tetap punya peluang untuk didukung Jokowi. Prabowo misalnya, cukup kuat dan dekat dengan Jokowi, setidaknya untuk saat ini. Tapi, jika Prabowo diusung oleh PDIP, maka pengaruh Jokowi ke Prabowo kalah kuat dengan Megawati. Apalagi, Prabowo dua kali pernah dikalahkan oleh Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019.

Baca Juga  BERTOLAK KE SINGAPURA PRESIDEN JOKOWI BERTEMU PM LEE

Hiruk pikuk pilpres masa lalu bisa jadi resisten dan punya potensi kerentanan hubungan antara Mas Jokowi dengan Mas Prabowo. Tentu, ini akan jadi kalkulasi tersendiri bagi Jokowi. Kita tunggu saja, seiring dengan berjalan waktu.

Selain Prabowo, orang yang cukup dekat dengan Jokowi adalah Ganjar Pranowo, Sang Gubernur Jawa Tengah saat ini. Lagi-lagi, Ganjar adalah kader PDIP. Tanpa jabatan presiden pasca 2024, Jokowi tidak akan dihitung kekuatannya oleh Megawati yang notabene menjadi penguasa di partai berlambang kepala banteng ini. Artinya, dominasi Megawati ke kader akan mampu menihilkan pengaruh Jokowi. Kecuali jika Ganjar membelot dan keluar dari PDIP. Namun itu, sulit terjadi jika dipandang dalam dinamika politik kontemporer. Namun, lagi-lagi ini “dunia politik dan dalam dunia ketidakpastian”.

Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil tidak terlalu dekat, tapi akan sangat ditentukan oleh partai pengusung dan elektabilitas. Sandi kader Gerindra. Sulit mendapatkan tiket maju dari Gerindra mengingat Prabowo masih menjadi primadona di partai berlambang garuda ini. Kecuali jika Prabowo batal maju di Pilpres 2024, Sandi akan punya peluang. Sementara Ridwan Kamil, selain tidak punya partai, elektabilitasnya juga tidak terlalu menonjol. Masih perlu kerja keras jika ingin dapat pinangan dan dukungan dari Partai Politik. Tapi informasi terakhir, Kang Emil sudah masuk ke dalam “Kamar Golkar.”

Dalam pemahaman politik dan rasional, Mendukung Anies, kalkulasinya bagi Jokowi lebih rasional. Selain elektabilitas menjanjikan, Anies sulit dikalahkan jika maju di Pilgub DKI lagi. Anies mesti nyapres. Jika tidak, Anies akan bertarung di pilgub DKI lagi sebagai incumbent. Seandainya pun semua partai dihalangi untuk mengusung Anies mencalonkan diri di DKI, Anies masih bisa lewat jalur Independen. Di DKI, elektabilitas Anies tidak tertandingi. Akan sulit bagi siapapun untuk mengalahkan Anies di Pilgub DKI 2024. Incumbent, prestasi cukup banyak dan populer, serta fanatisme pemilih masih sangat kuat. Soal ini, analis dan surveyer politik sangat paham fakta dan datanya.

Baca Juga  SDM Unggul Aceh: Janji Kampanye Misi Kelima Mualem-Fadhlullah dan Peluang bagi Generasi Muda

Jika Jokowi berniat membawa putra sulungnya Gibran ke Jakarta, mesti menghindari lawan Anies. Masih terlalu berat dan tidak tepat waktu. Untuk menghindari lawan Anies di pilgub DKI, Anies mesti dicapreskan. Dan saat ini Anies sudah dicapreskan oleh Partai Nasdem. Jokowi dukung Anies ini akan jadi win win solution.

Pertama, keduanya pernah punya sejarah kedekatan yang bisa direkatkan lagi. Kedua, rekonsiliasi bangsa ini akan bisa dijahit kembali. Anies punya karakter merangkul dan bersinergi dengan semua pihak. Ketiga, Anies tipe orang yang di dalam dirinya tidak ada kosa kata balas dendam apalagi untuk membenci. Itu bukan tipe dari Anies. Menurut saya, Siapapun, akan aman dan nyaman bersama Anies. Tentu penilaian ini masih bersifat subyektif dan masih bisa diperdebatkan.

Tapi, apapun itu, Presiden Jokowi pasti sudah punya rencana dan kalkulasi yang matang soal Pilpres 2024. Karena ini menyangkut eksistensi politiknya setelah tidak lagi menjadi presiden. Mari kita tunggu sejarah anak bangsa ini yang akan mencatatnya. Semoga bangsa ini semakin lebih baik, santun dan cerdas siapapun Presidennya kelak. In Sya Allah…!!!

Banda Aceh, Kamis 19 Januari 2023

Share :

Baca Juga

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung

ACEH

SDA Aceh Disebut “Emas yang Tak Basi”: Perlukah Pemerintah Tahan Izin Tambang Demi Generasi Berikutnya?

OPINI

Orang Baik Tidur Lebih Nyenyak

BERANDA

Wacana Alih Fungsi Blok Andaman Jadi KEK Lhokseumawe Disorot, Warga Aceh Tekankan UUPA