oleh M Rizal Fadillah*
OPINI – Namanya mencuat dalam perseteruannya dengan sesama kader PDIP yang menjadi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bambang Wuryanto yang dikenal dengan panggilan Bambang Pacul adalah Ketua Bappilu PDIP. Kelahiran Sukoharjo Jawa Tengah dan lulusan Teknik Kimia UGM. Anggota DPR ini kerap menyuarakan aspirasi partai dengan mempersoalkan langkah politik Ganjar Pranowo yang dinilai “offside”.
“Cuma saya, Ganjar, ini sama-sama orang Jawa, orang Jawa itu harus ngerti karakter orang Jawa, gitu lho”, seru Bambang, maksudnya jangan uraikan Megawati Ketum PDIP. Teguran kepada Ganjar oleh Bambang Pacul menurutnya berdasarkan arahan tegas Ketum Megawati Soekarnoputri.
Bambang Wuryanto memanggil Bambang Pacul karena menurutnya mengingatkan dirinya sebagai orang desa yang keluarganya adalah petani.
Ia menyindir dan menyebut langkah Ganjar soal pencapresannya sebagai celeng. “Adagium yang di luar barisan bukan banteng, itu namanya celeng. Jadi apapun alasan yang deklarasi di luar barisan ya celeng”, tegasnya.
Meski ia bersama Ganjar pernah melakukan salam komando di arena Rakernas PDIP namun hal itu tidak mengurangi perseteruan antara keduanya. Bambang Pacul sendiri menganggap salam komando adalah salam untuk siap menerima komando dari Ketum PDIP Megawati.
Terakhir, sebagai Ketua Bapplu PDIP Bambang menyatakan bahwa seluruh kader PDIP dilarang untuk mendukung Ganjar Pranowo dalam pencapresan Pemilu 2024. Larangan ini menjadi sinyal bahwa memang sejak awal PDIP tidak memberi restu kepada Ganjar Pranowo untuk maju sebagai Capres. Suara Bambang adalah suara Ketum PDIP yang kecenderungannya lebih kuat untuk mencalonkan Ketua DPP PDIP Puan Maharani sebagai Capres.
Semua pihak mengetahui bahwa Ganjar Pranowo adalah figur yang digadang-gadang untuk menjadi Capres boneka atau kepanjangan tangan dari Presiden Jokowi.
Sebelumnya kader PDIP lain Masinton Pasaribu pernah menyatakan tiga skenario Jokowi dalam kaitan dengan kursi kepresidenan yaitu perpanjangan tiga periode, perpanjangan masa jabatan atau mengajukan calon boneka sebagai kepanjangan tangan.
PDIP tentu tidak menyetujui ketiga skenario Jokowi tersebut. Tiga periode maupun perpanjangan masa jabatan adalah inkonstitusional. Orang-orang yang akan bertaruh pada skenario ini. Jokowi harus berhenti selambat-lambatnya tahun 2024.
Skenario ketiga Jokowi yang ditentang PDIP menunjukkan PDIP memang sedang berseberangan dengan Jokowi. Megawati sebagai Ketum tidak mampu mengendalikan petugasnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa petugasnya sedang membangkang kepada pihak yang menugaskannya.
Jika Jokowi secara terang-terangan mendukung dan mengajukan Ganjar “rambut putih” Pranowo sebagai Capres dan mengabaikan kebijakan PDIP yang mendorong Puan Maharani, maka tidak mungkin PDIP dalam waktu dekat akan mengambil langkah memecat Ganjar Pranowo dari melanggar PDIP.
“Awas” PDIP Ancam Kedudukan Jokowi Sebagai Presiden.
Kini di samping ada tiga skenario Jokowi maka ada pula tiga skenario Megawati. Adapun skenario Megawati adalah skenario tiga periode dan perpanjangan, memecat Ganjar Pranowo serta “memecat” Jokowi dari kursi Presiden.
Nah, kedatangan Megawati ke penghelatan pernikahan putera Jokowi dengan “hidung ber-anting” adakah sinyal bahwa banteng tengah bersiap mengamuk ?
Setelah viral pernyataan Masinton Pasaribu soal tiga skenario Jokowi dan oligarki, maka sikap Bambang Pacul yang terus memacul Ganjar Pranowo nampaknya menjadi bagian dari realisasi skenario Megawati.
Jokowi sebenarnya diujung masa jabatannya ini sedang “berkerut kening” dihadapkan dengan kekuatan berlawanan dan Megawati.
Jokowi akan “mati” lebih cepat jika kekuatannya berlawanan ternyata berkoalisi dengan PDIP dan Megawati.
Semua tahu bahwa dalam peristiwa politik itu dapat terjadi tanpa perhitungan karena hukum kepastian politik adalah kemungkinan akan terjadinya perubahan.
Perubahan yang cepat dan di luar prediksi.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Bandung, 19 Desember 2022







