
MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE – Wakil Ketua DPR RI Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal, S.Ag., M.A.P., membedah buku Strategi Fiskal Nabi Yusuf di Gedung Serbaguna UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Buket Rata, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelantikan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe periode 2026–2030. Bedah buku dilaksanakan setelah prosesi pelantikan pengurus IKA dan diikuti peserta yang terdaftar sebanyak 1.623 orang.
Cucun yang juga merupakan penulis buku tersebut memaparkan sejumlah pelajaran dari kisah Nabi Yusuf AS dalam menghadapi ancaman paceklik berkepanjangan di Mesir. Menurutnya, kisah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesabaran dan keteguhan menghadapi ujian, tetapi juga memberikan pelajaran tentang perencanaan ekonomi dan pengelolaan sumber daya dalam menghadapi krisis.
Dalam paparannya, Cucun menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidak menunggu krisis terjadi. Ia membaca tanda-tanda yang ada, menyusun perencanaan, mengelola cadangan pangan, serta memastikan sumber daya negara dapat dimanfaatkan untuk menghadapi masa sulit.
Menurut Cucun, hal tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya perencanaan ekonomi sebelum krisis terjadi. Pemerintah tidak cukup hanya merespons ketika masyarakat telah mengalami kesulitan, tetapi perlu menyiapkan kebijakan yang mampu menjaga ketahanan pangan dan mengelola sumber daya secara tepat.
Ia juga menyoroti keberanian Nabi Yusuf menawarkan kompetensinya untuk mengelola perbendaharaan negara. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya amanah dan kompetensi dalam menjalankan tanggung jawab pengelolaan negara.
Prinsip tersebut kemudian dikaitkan dengan kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan. Menurut Cucun, posisi strategis dalam pengelolaan ekonomi membutuhkan orang yang memiliki kemampuan dan integritas agar kebijakan yang dihasilkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dewan Pengarah IKA UIN Sultanah Nahrasiyah sekaligus akademisi, Dr. Bukhari, M.H., CM, menilai gagasan yang dibahas dalam buku tersebut relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Menurut Bukhari, kisah Nabi Yusuf menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi harus dibangun melalui perencanaan, pengelolaan sumber daya, dan kebijakan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat.
“Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana kisah Nabi Yusuf diterjemahkan dalam perspektif fiskal. Ketika ancaman krisis pangan datang, yang dilakukan bukan sekadar berdoa dan menunggu, tetapi menyusun strategi, mengelola sumber daya, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi masa sulit,” kata Bukhari.
Ia mengatakan, penguatan ekonomi masyarakat perlu menjadi bagian penting dalam kebijakan pemerintah. Anggaran negara dan daerah, menurutnya, tidak hanya diarahkan untuk belanja administratif, tetapi juga untuk sektor yang dapat memperkuat ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, mendorong kemandirian ekonomi, dan meningkatkan daya beli masyarakat.
“Kalau kita belajar dari Nabi Yusuf, fiskal bukan sekadar soal angka dalam APBN atau APBD. Di balik angka itu ada kehidupan masyarakat. Anggaran harus mampu menjaga ketahanan pangan, memperkuat ekonomi rakyat, dan menjadi instrumen menghadapi krisis,” ujarnya.
Bukhari juga menilai konsep tersebut relevan bagi daerah yang memiliki sumber daya alam besar. Menurutnya, kekayaan alam perlu dikelola sehingga memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar wilayah sumber daya tersebut.
Ia turut mengapresiasi kehadiran Cucun Ahmad Syamsurijal di UIN Sultanah Nahrasiyah. Menurut Bukhari, kehadiran Wakil Ketua DPR RI sekaligus penulis buku tersebut memberikan ruang akademik bagi mahasiswa, dosen, dan alumni untuk membahas persoalan ekonomi, fiskal, dan kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas.
“Kami tentu memberikan apresiasi kepada Pak Cucun yang telah hadir di UIN Sultanah Nahrasiyah dan berbagi pemikiran. Ini bukan hanya bedah buku, tetapi juga ruang untuk membicarakan bagaimana ekonomi, fiskal, dan kepemimpinan dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Bukhari berharap diskusi tersebut menjadi pemantik bagi perguruan tinggi dan alumni untuk turut memikirkan persoalan ekonomi daerah. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan gagasan di ruang akademik, tetapi juga perlu menghadirkan pemikiran yang relevan dengan persoalan masyarakat.
Dalam konteks IKA UIN Sultanah Nahrasiyah periode 2026–2030, alumni juga dapat mengambil peran melalui pendidikan, kewirausahaan, pendampingan masyarakat, serta pengembangan jejaring ekonomi yang menghubungkan kampus dengan kebutuhan masyarakat.
Bedah buku tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian pelantikan IKA UIN Sultanah Nahrasiyah periode 2026–2030. Kegiatan di Gedung Serbaguna UIN Sultanah Nahrasiyah itu tercatat diikuti 1.623 peserta yang telah mendaftar.
Melalui pembahasan strategi menghadapi ancaman paceklik pada masa Nabi Yusuf AS, kegiatan tersebut mengangkat pentingnya perencanaan, pengelolaan sumber daya, kompetensi, dan amanah dalam menghadapi persoalan ekonomi serta potensi krisis. (EQ)







