Simulasi baru menunjukkan gelombang tiba hanya dalam 20-30 menit. BRIN kembangkan alat pemantau tsunami murah untuk perkuat peringatan dini
MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap mekanisme tsunami Pangandaran 2006 jauh lebih kompleks dari pemahaman sebelumnya. Selain dipicu gempa megathrust, gelombang dahsyat itu diduga diperkuat pergerakan massa bawah laut yang mempercepat waktu tiba dan menambah tinggi tsunami hingga lebih dari 8 meter.
Temuan itu dipaparkan peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, dalam Webinar “Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045” pada Selasa (4/8/2026).
“Tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yakni kondisi ketika gelombang tsunami yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan estimasi berdasarkan parameter gempa yang tercatat,” ujar Wiko, dikutip Minggu (23/8/2026).
Gempa dan Longsor Laut Bekerja Bersama
Selama ini tsunami Pangandaran dikenal sebagai “tsunami earthquake”. Namun setelah menguji 14 skenario, tim BRIN menemukan model yang menggabungkan sumber gempa dengan indikasi pergerakan massa bawah laut memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi dengan data lapangan.
“Setelah kami melakukan pengujian berbagai skenario, terdapat kemungkinan bahwa gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut bersama-sama berkontribusi membangkitkan tsunami. Model ini mampu memberikan estimasi yang lebih mendekati kondisi tsunami yang sebenarnya terjadi,” jelas Wiko.
Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti mengasimilasikan data batimetri, topografi, katalog gempa historis, dan data observasi lapangan. Simulasi menggunakan nesting grid system sehingga menghasilkan pemodelan beresolusi tinggi hingga skala bangunan.
Hasilnya, tinggi gelombang di beberapa titik mencapai lebih dari 8 meter. Kesaksian penyintas bahkan menyebut gelombang melampaui tinggi pohon kelapa di sejumlah wilayah pesisir.
Waktu Tiba Lebih Cepat 20 Menit
Yang lebih krusial, keberadaan pergerakan massa bawah laut berpotensi mempercepat kedatangan tsunami.
Pada simulasi yang hanya menggunakan sumber gempa, gelombang diperkirakan mencapai pantai dalam 40-50 menit. Sementara pada model yang memasukkan faktor pergerakan massa bawah laut, tsunami tiba dalam 20-30 menit. Angka ini sesuai dengan sejumlah data empiris dari penyintas tsunami 2006.
Simulasi juga menunjukkan tsunami tidak hanya menghantam garis pantai, tetapi masuk ke daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap sehingga memperluas wilayah terdampak. Di sisi lain, model berhasil mengidentifikasi area yang relatif aman dan berpotensi dijadikan zona evakuasi.
Wiko menambahkan, dalam menguji pendekatan penskalaan sumber gempa, formulasi Takemura menghasilkan estimasi yang lebih mendekati data observasi dibanding formulasi sebelumnya.
Dorong Sistem Peringatan Dini Lebih Cepat dan Murah
Menurut Wiko, temuan ini penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mendukung pengembangan sistem mitigasi yang lebih akurat, termasuk pemodelan risiko tsunami beresolusi tinggi.
Meski demikian, ia menekankan dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut masih butuh analisis sensitivitas dan penelitian lanjutan agar mendapat konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.
Ke depan, BRIN berencana melanjutkan riset bahaya kelautan melalui pengembangan prototipe sistem pemantauan tsunami yang lebih terjangkau. Alat itu dirancang untuk memantau perubahan muka laut secara real time.
“Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut,” pungkas Wiko.
Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006 menewaskan lebih dari 600 orang dan merusak ribuan rumah di pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Gempa pemicunya berkekuatan 7,7 magnitudo.(*)







