Home / BERANDA / BERITA / BUDAYA / EDUKASI / POLITIK / RUBRIK / SOSIAL

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:38 WIB

Diaspora Aceh: Dari Pengungsi Konflik hingga Akademisi Dunia, Mengapa Mereka Merantau?

ilustrasi AI

 

Penulis: Saiful Amri (Tinggal di Idi Rayeuk, Sagoe 05 Aceh Timur, Aceh)

Medialiterasi.id | Banda Aceh – Ribuan kilometer memisahkan mereka dari kampung halaman. Tapi Aceh tidak pernah benar-benar lepas dari hati. Orang Aceh hari ini ada di Amerika, Australia, Eropa, hingga Timur Tengah. Perang, konflik, pendidikan, dan ekonomi jadi alasan utama. Dari negeri rantau, mereka membangun hidup baru sambil tetap menjaga identitas dan perhatian ke tanah Rencong.

Mengapa gelombang merantau Aceh terus berulang lintas generasi? Jawabannya membentang dari sejarah kolonial hingga krisis lapangan kerja hari ini.

Surat dari Malaysia yang Mengubah Nasib  

Tak semua perantau Aceh berangkat demi mimpi. Sebagian justru dipaksa keadaan. Musdar Arsyad mengalaminya. Saat masih mondok di Samalanga, surat dari Malaysia datang. Orang tuanya mendapat suaka politik. Pilihan hidup berubah seketika.

Kini dari Harrisburg, Pennsylvania, Pantai Timur Amerika, Musdar jadi tokoh diaspora. Ia dan komunitasnya mendirikan meunasah dari bekas gereja. Dari situ identitas Aceh dijaga: pengajian, kegiatan sosial, hingga penggalangan dana saat bencana.

Baca Juga  Pernyataan Najwa Shihab Soal Gaya Hidup Polisi Sangat Tendensius dan Bisa Menimbulkan Kebencian di Masyarakat

Buktinya nyata. Saat banjir dan longsor melanda Aceh-Sumatera akhir November 2025, diaspora Aceh di Amerika turun aksi di depan kantor PBB. Tuntutannya tegas: minta bencana Aceh ditetapkan sebagai bencana nasional. Jarak jauh, tapi kepedulian tetap dekat.

Dari Sektor Informal ke Profesional Dunia

Kisah Musdar mewakili wajah diaspora Aceh generasi awal: pengungsi konflik yang kerja serabutan. Generasi berikutnya berbeda. Anak-anak mereka kini jadi profesional, akademisi, pengusaha. Meunasah Harrisburg jadi simbol transformasi itu.

Dakwah dan Pendidikan di Negeri Kanguru 

Cerita lain datang dari Australia. Teuku Chalidin Yacob menetap di Sydney sejak 1993. Awalnya ia diminta memimpin komunitas muslim North Sydney yang baru membeli bekas gereja untuk jadi masjid.

Dari panggilan itu, hidup Chalidin berubah jadi pengabdian. Ia mengajar di Malik Islamic School, salah satu sekolah Islam terbesar di Australia. 1996, ia rintis Ashabul Kahfi Language School sendiri. Di tengah masyarakat multikultural, ruang dakwah dan pendidikan Islam justru terbuka lebar.

Akar Sejarah: Kolonial hingga Konflik DOM 

Antropolog Teuku Kemal Fasya menyebut diaspora Aceh bukan fenomena baru. Gelombangnya sudah ada sejak Belanda, Jepang, konflik PUSA vs DI/TII, lalu memuncak di era konflik GAM dan status Daerah Operasi Militer DOM.

Baca Juga  Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Setiap babak konflik melahirkan eksodus. Orang Aceh cari selamat, cari aman, cari masa depan. Jejak itu masih hidup di komunitas Aceh Philadelphia, Melbourne, hingga Jeddah.

Ekonomi Jadi Pendorong Baru  

Tapi merantau kini tak melulu soal konflik. Lapangan kerja terbatas di Aceh jadi dorongan kuat generasi muda. Mereka ke Malaysia, Timur Tengah, Eropa untuk kerja, kuliah, usaha. Dari gelombang ekonomi inilah lahir diaspora baru: lebih muda, lebih digital, tapi tetap membawa “peudeung” dan “buleuen” dalam identitasnya.

Komunitas-komunitas Aceh lintas benua hari ini jadi jembatan. Mereka kirim remitansi, buka jaringan usaha, dan jadi corong Aceh di forum internasional. Dari pengungsi ke duta budaya.

Aceh merantau bukan karena lupa. Justru karena cinta, mereka pergi jauh. Supaya suatu hari bisa pulang dengan kepala tegak dan tangan yang lebih kuat membangun kampung halaman.

 

(AYD)

Share :

Baca Juga

ACEH

Bismillah Menjadi KM Nol Islam: Bupati Al-Farlaky Gaungkan Kebangkitan Peradaban Peureulak di Haul Sultan ke-1224

BERANDA

Diskualifikasi Uriarte Guncang Klasemen Moto3 2026: Veda Ega Untung, Tapi FIM Steward Dinilai Telat & Tak Transparan

ACEH

Ulama Aceh Timur Desak Mahkamah Syar’iyah Terapkan Syariat Kaaffah: Mediasi, Wali, Iddah dan Nasab Jadi Kunci

BERANDA

Prediksi Portugal vs RD Kongo 18 Juni: Ronaldo Cs Diunggulkan Raih 3 Poin Perdana Grup K Piala Dunia 2026

ACEH

Bunda PAUD Julok Hadiri Pelepasan Peserta Didik KB Zaky Rahmi Labuhan

ACEH

61 Kombatan KPA Linge Teken Mosi, Desak Mualem Evaluasi Panglima Bener Meriah
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – MALITA Foundation menyelenggarakan diskusi ilmiah daring Academic Talk Part 2 bertajuk “Menakar Kesiapan Koperasi Merah Putih di Serambi Mekkah” pada Minggu (14/6/2026) malam.

BERITA

Diskusikan Koperasi Merah Putih di Aceh, MALITA Foundation Soroti Kekosongan Pergub LKS

BERITA

Ribuan Butir Tramadol dan Eximer Disita, Dua Pelaku Peredaran Obat Keras Ditangkap