MEDIA LITERASI – Aceh Jaya ikut mendukung program nasional ketahanan pangan dengan memaksimalkan lahan pekarangan masyarakat transmigrasi. Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja setempat menggelar Penyuluhan Optimalisasi Lahan Pekarangan dengan Tebu dan Nenas pada Selasa (29/07) di Balai Desa UPT. Gunong Meunasah, Setia Bakti. Langkah ini sejalan dengan Pekarangan Pangan Lestari 2025 yang digagas Kementerian Pertanian untuk mengubah pekarangan rumah menjadi sumber pangan keluarga. Dalam skema tersebut, setiap pekarangan produktif diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan dan akses pangan di tingkat rumah tangga. Seperti diungkap oleh Cybex (situs resmi penyuluhan pertanian), pekarangan yang dikelola baik “dapat memberikan sumber pangan dan pendapatan” bagi keluarga, serta mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan potensi pangan lokal. Cita-cita inilah yang mengawali pelatihan di Gunong Meunasah: mengubah halaman rumah menjadi lumbung pangan baru bagi transmigran.
Penyuluhan Optimalisasi Lahan Pekarangan kali ini dibuka oleh Kepala Dinas Sosial Aceh Jaya, Bakhtiar, SE, M.Si. Ia menegaskan harapan munculnya produk unggulan baru dari Kawasan Transmigrasi, “yang bukan hanya menopang ekonomi rumah tangga, tapi juga menjadi kebanggaan daerah.” Hadir pula Sekcam. Kecamatan Setia Bakti Cut Nurlaili SP., pejabat desa (Pj. Geuchik Vendra Syahputra dan Geuchik terpilih Azhar Muslem), 55 orang transmigran, serta aparat Babinsa dan Babinkamtibmas. Acara diawali laporan T. Harpenni sebagai Ketua Panitia, kemudian dilanjutkan oleh narasumber handal: Bobby Denil Lesmana (Jabatan Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat pada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh dan juga Ketua Asosiasi Perlebahan Aceh). Ia membawakan materi interaktif tentang strategi budidaya tiga komoditas unggulan pekarangan.
- Tebu dan Nenas: Tanaman tropis bernilai jual tinggi, ditanam di pekarangan untuk menambah jenis komoditas lokal.
- Madu Kelulut: Dihasilkan dari budidaya lebah tanpa sengat (kelulut/Trigona) di pekarangan. Madu kelulut memiliki rasa khas (cenderung asam) dengan kandungan mineral lebih tinggi daripada madu biasa. Harganya pun lebih tinggi dari madu lebah biasa, sehingga peluang keuntungan bagi peternak kelulut sangat besar.
Selama penyuluhan, peserta antusias mengikuti tanya jawab. Bobby mendorong petani memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam tebu dan nanas, serta memelihara sarang kelulut. Langkah ini sekaligus mengajak masyarakat mengenal cara pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Peserta pun terinspirasi untuk segera mempraktikkan apa yang dipelajari di pekarangan rumah mereka.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kementerian Transmigrasi RI. memang menggaungkan revitalisasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mendukung ketahanan pangan nasional. Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan transmigrasi perlu terus diperkuat agar dapat berperan lebih besar dalam swasembada pangan nasional. Di Aceh Jaya sendiri, upaya serupa telah diambil: Dinas Pertanian mengoptimalkan ribuan hektare sawah, misalnya 3.492 ha persawahan irigasi dari 5.966 hektar sawah yang disiapkan demi swasembada padi. Dengan produktivitas tinggi, warga bahkan berangan-angan mengolah gabah tersebut menjadi “Beras Premium Transmigrasi Gunong Meunasah” kelak.
Dari lahan sawah 135 hektar lahan sawah irigasi dan tadah hujan di UPT Despot Gunung Meunasah mampu menghasilkan kurang lebih 270 Ton petahun dalam dua kali musim tanam, masyarakat berharap suatu saat nanti kami bisa difasilitasi dengan fasilitas produksi menjadi beras premium dengan merek dagang “Beras Premium Transmigrasi Gunong Meunasah”. Selain hasil dan luasan di Satuan Pemukiman Transmigrasi Gunong Meunasah, dengan total seluruhnya 260 hektar digabungkan dengan lahan sawah di desa menghasilkan padi hingga 500 Ton gabah basah ini potensi yang bisa mendukung Program Beras Premium, pungkas Muslem.
Harapan akhirnya, ini akan meningkatkan kesejahteraan keluarga transmigrasi dan mengangkat nama Aceh Jaya di kancah ketahanan pangan. Masyarakat berharap produk unggulan kelak bukan hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mampu bersaing di pasar dan mengundang kebanggaan daerah. Dukungan program pusat dan kebijakan swasembada Aceh Jaya memberikan pondasi kuat bagi aspirasi tersebut, menjadikan Transmigran Aceh Jaya sebagai sentra kemerdekaan pangan lokal di masa depan.







