MEDIALITERASI.ID | ARTIKEL -Debat calon gubernur dan wakil gubernur Aceh baik yang pertama maupun debat kedua 1 November 2024 kerap terjadi campur kode atau mencampur adukkan bahasa maupun istilah sehingga banyak penonton di luar Aceh tidak mengetahui arti maupun maksud dari peribahasa yang di ucapkan.
terutama pada kandidat cagub-cawagub Aceh yang seharusnya ini dihindari oleh cagub-cawagub, karena debat ini merupakan acara formal dan seharusnya menjadi edukasi bagi Masyarakat.
Komunikasi publik yang baik diyakini dapat menenangkan perasaan masyarakat dan berdampak terhadap tingkat kepuasan terhadap kandidat calon gubernur Aceh. Pada Senin (04/11/2024).
Juni Ahyar selaku salah satu Praktisi Pendidikan sekaligus ahli Bahasa berharap agar kandidat gubernur Aceh dan tim sukses (timses) nya tidak campur kode dalam berdebat karena pemirsa bukan hanya masyarakat Aceh saja akan tetapi sangat majemuk.
“ada yang tidak mengerti bahasa Aceh, oleh karena itu gunakanlah Bahasa formal di situasi formal untuk konsisten memberikan informasi yang memadai kepada masyarakat”, ucapnya.
Juni menyebutkan, ada dua contoh figur pejabat yang kemampuan komunikasi publiknya layak untuk dicontoh.
“Pertama adalah Harmoko. Menteri Penerangan di era Orde Baru itu piawai mengomunikasikan kebijakan publik dalam pemerintah, Pejabat kedua, Moerdiono”, sebut Juni.
Lebih lanjut Juni menilai Menteri Sekretaris Negara era 1988 sampai dengan 1998 itu dianggap mampu menjaga wibawa pemerintah. Meski tidak ingin membandingkan, menurut praktisi pendidikan ini menilai kedua tokoh sekaliber itu belum tergantikan hingga sekarang.
Di tengah era post-truth yang penuh disinformasi, Juni mengatakan, Aceh perlu memiliki sosok pejabat gubernur yang mempunyai kemampuan komunikasi ulung. Ia juga menyarankan agar instansi pemerintah menyusun strategi komunikasi yang cerdas untuk dapat menyampaikan informasi publik. Hal ini penting agar tidak timbul kesan para petinggi di Aceh hanya menciptakan kebingungan karena informasi yang disampaikan saling bertentangan.
Sejalan dengan pernyataan di atas Juni, memberikan sejumlah saran kepada para kandidat gubernur Aceh agar dapat melakukan komunikasi publik yang baik. Antara lain:
Pandai Berkomunikasi
Ketika berhadapan dengan publik maupun situasi politik, kemampuan berkomunikasi adalah modal utama. kandidat harus berbicara dengan jelas tidak menggunakan campur kode karena debat di forum resmi dan menyampaikan pesan dengan baik. Kemampuan ini akan membantu kandidat ketika menjelaskan program kerja. Bahkan, bisa memotivasi masyarakat untuk ikut terlibat.
Bisa Menjaga Reputasi
Reputasi adalah hal yang sangat penting bagi seorang kandidat. Seorang tokoh harus memiliki reputasi yang baik dan dipercaya oleh masyarakat. Reputasi akan membantu kandidat tersebut dalam mempromosikan program kerja yang ditawarkan.
Menyelesaikan Masalah
Kandidat harus bisa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Kemampuan tersebut memungkinkan kandidat memenuhi harapan dan menjaga kepercayaan publik.
Bersikap Adaptif
Situasi masyarakat yang dinamis menuntut kandidat untuk mampu beradaptasi terhadap segala situasi.
Mampu Menjaga Kepercayaan
Rasa percaya adalah kunci sukses terakhir bagi pasangan kandidat untuk berkomunikasi dengan publik. Masyarakat akan sulit percaya kepada kandidat yang tidak bisa mempertahankan integritasnya.







