Home / OPINI / POLITIK

Sabtu, 7 September 2024 - 02:44 WIB

GERAKAN SEPTEMBER

Oleh M Rizal Fadillah

MEDIALITERASI.ID | OPINI – Agenda Sukodigdo Wardoyo yang akan menggalang dan apel 20 ribu Pasukan Berani Mati Pembela Jokowi di bulan September cukup menggelikan dan mengingatkan sejarah keruntuhan Soekarno akibat Gerakan September. Tepatnya tanggal 30 yang diketahui kemudian didalangi PKI. Soekarno sendiri sudah sakit-sakitan waktu itu.

Pasukan Berani Mati Pembela Jokowi ini apakah sama dengan Pasukan Cakrabhirawa Soekarno ? Tentu berbeda karena Cakrabhirawa adalah pasukan bersenjata dan resmi. Pasukan Jokowi ini mah “dadakan”, “gertakan” dan mungkin “jilatan”. Persamaannya yaitu sama-sama berada di ujung masa Jabatan.

IKLAN

Ir.Soekarno sedang sakit-sakitan sehingga Tiongkok bersama PKI harus memastikan kelanjutan kepemimpinan Indonesia pascaSoekarno. Sementara Jokowi justru mengenang masa sakit-sakitan sehingga nama Mulyono muncul dan menjadi populer. Agak kabur dengan nama Hary Mulyono adik ipar Jokowi yang meninggal 2018. Konon fotonya “mirip” Jokowi.

Mungkin Jokowi kini juga sedang sakit-sakitan cemas menghadapi masa depan. Sindroma pasca lengser. Memandang dengan memasukkan kosong nasib diri dan keluarga akankah bahagia atau sengsara ? Sementara kasus-kasus diujung terus membaik, mulai dari piknik Kaesang hingga fufufafa Gibran. Ijazah Hary Mulyono juga terus menghantui.

Baca Juga  JANGAN ULANGI SEJARAH KELAM BANGSA INI

Kesimpulannya hal ini menyebabkan perlunya pasukan berani mati untuk membela Jokowi. Pasukan Sukodigdo disiapkan. Ironi karena ini melecehkan Pasukan Pengawal Presiden dan aparat keamanan yang memang masih harus menjaga Presiden Jokowi. Lalu apel itu inisiatif kelompok masyarakat atau disain Jokowi sendiri ? Jika ditanyakan mungkin penjelasannya, tanya saja pada Tugu Proklamasi, kok tanya saya.

Baru beberapa hari yang lalu Ketum Solmet Silfester Matutina bertengkar dengan Rocky Gerung dengan alasan membela mati-matian Jokowi. Akan mengejar sampai liang kubur katanya, emang bisa ? Hehe. Jokowi sedang membutuhkan para pemasang badan di akhir masa jabatannya. Jokowi saat ini masih hidup sehingga ada pasukan berani mati, akan tetapi Jika Jokowi sudah mati masihkah ada pasukan berani ?

Unjuk massa para pembela Jokowi 22 September di Tugu Proklamasi dengan jumlah ribuan tentu mudah saja karena pembiayaan tidak masalah. Jokowi masih berkuasa kok, tidak mampu menangani kalau saja usulan yang diajukan. Namun masalahnya adalah pola itu rentan dan akan memicu konflik horizontal ke depan secara langsung atau tidak justru akan merugikan Jokowi sendiri dan keluarganya.

Baca Juga  GOBLOK DAN TOLOL NYA LUHUT PANJAITAN

Kerugian yang sudah terbaca saat ini adalah ketakutan luar biasa Jokowi sehingga harus menyiapkan segala pasukan, sekurang-kurangnya merestui. Sedemikian situasi menakutkannya sehingga diperlukan Gerakan September menuju Oktober ? Paspampres sudah tidak berdaya atau meragukan loyalitasnya ?

“Semestinya Jokowi bisa lengser dengan nyaman, namun nampaknya ia bimbang dan bingung.”

Jika Gerakan September diumumkan, maka diprediksi akan muncul Gerakan Oktober. sama dulu pada tahun 1965 setelah Gerakan PKI maka muncul Gerakan TNI yang menumpas PKI. TNI kini yang tampak diam namun ke depan akan banyak berbuat dan bergerak dalam rangka menumpas anasir-anasir pengganggu dan perusak Ideologi Pancasila.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan Bandung, 7 September 2024

Share :

Baca Juga

EDUKASI

Ketika Guru Membangun Peradaban di Tengah Kebisingan Publik

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan

BERANDA

Menlu Kecam Penahanan 9 WNI Relawan Gaza oleh Israel: “Tindakan Tak Bisa Diterima”

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

ACEH

Muda Seudang Protes Penunjukan Ketua DPW Partai Aceh Timur, Sebut Cacat Prosedur

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi