Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Ilmuwan Politik, USK, Banda Aceh
MAHA SUCI ALLAH SWT … Tengah malam di minggu-minggu jelang Hari Pahlawan 10 November 2023, aku terbangun dalam hening, menerawang jauh, hanyut dalam kerinduan. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja aku begitu merindukan menggemanya kembali suara seorang orator yang tujuh puluh empat tahun lalu begitu dahsyat membakar semangat para pemuda di kota Surabaya. Karena dunia hari ini banyak yang mengaku pahlawan, padahal pecundang dan pengkhianat bangsa dengan bermodalkan “pencitraan diri”. Sebuah bangsa yang hidupnya penuh dalam kepalsuan dan pengkhianatan.
Dalam lamunanku tentang bangsa ini, Sayup-sayup di telingaku terdengar, suara lantang Bung Tomo, sang orator revolusioner yang memang layak menyandang gelar Pahlawan Nasional, begitu menggetarkan dan telah berhasil membakar semangat para pemuda di kota Surabaya untuk tak gentar bangkit melawan tentara Inggris yang lengkap bersenjata. Mereka bangkit melawan dengan tekad dan semangat pantang menyerah berbekal semboyan : MERDEKA atau MATI … !!!
Ada penggalan kalimat dalam pidatonya yang selalu terngiang di telinga dan menggema memenuhi ruang-ruang di rongga dadaku ini. Begini bunyi cuplikan pidato yang setiap kali ia datang, selalu mengheningkan diri ini, hanyut dalam kerinduan revolusioner …
’’Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih … maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapa pun juga …”
Kalimat yang singkat, namun kaya makna ini begitu sarat akan muatan nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, dan kepahlawanan seorang pejuang sejati. Surabaya pun bangkit melawan Inggris sang penjajah, penkhianat dan perampok kekayaan bangsa …
Penggalan isi pidato Bung Tomo ini sungguh membuat dada ini terasa terbebani dan penuh sesak oleh rasa malu menatap kenyataan hari – hari ini di sekelilingku .. Terutama saat meneropong lewat kacamata nilai-nilai kejuangan dan Kepahlawanan. Lantang Bung Tomo menyatakan penuh keyakinan …” selama banteng banteng Indonesia masih berdarah merah… dst.’’ Sedangkan realita hari ini “penghuni dunia” yang angkuh, sombong, arogan dan sibuk untuk memperkaya diri, kelompok dan keluarganya.
Nah, Penggalan kalimat pidato Bung Tomo di atas, telah membenturkan diriku pada kenyataan bahwa warna darah banteng-banteng Indonesia hari ini tidak lagi sepenuhnya berwarna merah. Ada yang warna merahnya, tapi sudah ditelan oleh darah biru, dan ada yang malah hilang sama sekali ditelan darah putih, menjadi loyo dan hanya menunggu “kematian”.
Semangat kepahlawanan yang rela berkorban, mengorbankan jiwa raga demi kejayaan Indonesia merdeka, telah lama digantikan oleh semangat mematikan kemerdekaan dan kejayaan Indonesia, demi kejayaan pribadi dan kelompoknya. Sungguh tragis dan menyedihkan ku sebagai anak negeri ini tercinta.
Taman Makam Pahlawan pun menjadi tempat yang belakangan ini telah kehilangan makna dari arti kata “Pahlawan” dan “nilai kepahlawanan” itu sendiri. Karena bukan hanya satu dua di antara mereka yang dimakamkan di tempat terhormat ini; yang catatan perjalanan hidupnya sama sekali tak memenuhi kriteria nilai seorang kepahlawanan kusuma bangsa, bahkan cenderung sebaliknya, yaitu para pengkhianat bangsa yang berstatus “pengabdi palsu”.
Hanya karena mereka pada saat meninggal dan wafat berada di lingkaran kekuasaan, maka secarik kertas atas nama institusi kekuasaan, jadilah ia seorang Pahlawan yang layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Astaghfirullah ‘Adhiem.
Semua kesalah–kaprahan tentang arti kata Pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan yang begitu menggelisahkan ini, membuatku merindukan hadirnya kembali gema pidato Bung Tomo agar terus bergelora dan tersimpan di setiap dada dan sanubari Pemuda Indonesia, hari ini, besok dan selamanya. Agar rasa hormat yang tinggi dapat diberikan oleh segenap warga bangsa ini kepada para Pahlawan Pejuang bangsa, pendiri bangsa, penerus dan “pelurus”nya.
Satu hal yang menjadi catatan penting bagiku, Bung Tomo menutup orasinya dengan pekik takbir Allahuakbar… Allahuakbar … Allahuakbar … dengan penuh semangat dan gelora perjuangan mengusir penjajah.
Kalimat takbir ini melengkapi perjalanan hidup Bung Tomo yang mengakhiri hidupnya saat menunaikan ibadah Haji di tahun 1981, sebagai pejuang yang senantiasa meminta pertolongan dan menyembah hanya kepada sang Chalik, Allah Swt… Subhanallah … Wal hamdulillah, Allahu Akbar.
Pekik takbir Bung Tomo kala itu sungguh terasa nilai dan getarannya jauh berbeda dengan ribuan pekik takbir yang diobral setiap kerumunan massa melakukan demo belakangan ini. Atau pekikan dari yang merasa diri sedang berkuasa saat ini.
Atas perbedaan ini, di minggu-minggu tengah malam menjelang datangnya Tanggal 10 November, ku temukan jawabannya! Pekik takbir bung Tomo adalah pekik rakyat pejuang kemerdekaan Indonesia, yang sangat tulus tanpa pamrih, pekik seorang Pahlawan sejati. Allahu Akbar… Bung Tomo, gema suara pidato mu kurindukan selalu …
Saudaraku, Sebangsa, dan Se-tanah Air, Selamat Menyambut dan Memperingati Hari Pahlawan 10 November 2023. Semoga Kita Menjadi Bangsa Yang Beradab dan Bermartabat.
Koeta Raja, Jum’at 10 November 2023







