![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Pengamat Sosial, pada USK, Banda Aceh
BEBERAPA Minggu yang lalu saya dihubungi via telpon oleh salah seorang mahasiswi di sebuah kampus di seputaran Banda Aceh. Mahasiswi tersebut menanyakan apakah saya ada waktu untuk berbincang-bincang dengannya? Karena memang kebetulan saya lagi tidak ada pekerjaan yang mendesak dan juga tidak ada jadwal mengajar, Saya pun lagi ngopi di sebuah Coffe di kota ini, saya mempersilahkan mahasiswi tersebut untuk datang ke Coffe itu, dan saya minta dia mengajak seorang temannya untuk kita ngopi bareng dan bincang-bincang..
Pada mulanya, saya mengira mahasiswi ini akan menanyakan persoalan terkait dengan mata kuliah yang saya asuh, namun dugaan saya rupanya keliru, dia ingin konsultasi dan ’curhat’ pada saya tentang permasalahan yang menurut dia sangat mengganggunya dalam minggu-minggu terakhir ini. Pada intinya mahasiswi ini bersama pacarnya memutuskan untuk menikah di usia muda untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, dan kedua orang tua kedua mahasiswa ini setuju.
Setelah mereka menikah beberapa permasalahan muncul, terutama permasalahan terkait dengan desas-desus yang beredar di kalangan teman kuliah dan tentangganya bahwa dia menikah karena ’kecelakaan’ (maried by accident), atau telah hamil sebelum menikah dan ’gosip’ ini rupanya sangat mengganggu dia dan suaminya dan dia meminta saran dan pendapat saya bagaimana mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi ini.
Hhhmmm …. Pembaca bisa bayangkan, menikah saja menjadi persoalan, apalagi kalau hanya pacaran? (Saya baru sadar pada saat itu, menjadi seorang dosen ternyata tidak selalu berkutat dengan dunia keilmuan, penelitian, pendidikan dan pengajaran. Kadang kala, mau tidak mau — kita harus juga ’terlibat’ dalam urusan ’rumah tangga’ dan masalah pribadi mahasiswa-mahasiswa yang sangat kita cintai).
Saya tertegun agak lama memikirkan apa yang dapat saya sarankan kepada mahasiswi yang sedang galau ini, paling tidak saran tersebut dapat sedikit meringankan beban di hatinya. Seingat saya, selama saya belajar dan menuntut ilmu mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, bahkan sampai saya telah menjadi Doktor pun, saya tidak pernah dibekali ’ilmu’ atau ’jurus’ jika menghadapi persoalan semacam ini.
Pikiran saya berputar-berputar sampai tiba-tiba muncul dalam pikiran dan benak saya tentang kisah keluarga Lukmanul Hakim yang pernah diceritakan oleh “Ayah” pada saat saya masih kecil dulu di desa kelahiran. Satu kata dari Ayah, yang masih terngiang-ngiang di teligaku sampai saat ini, beliau berkata : “Wahai Anakku, suatu ketika nanti, kita tidak akan pernah bisa memuaskan hati banyak orang, meskipun kita telah berusaha maksimal, tapi yang penting bagimu, berbuatlah yang terbaik dalam hidup ini sesuai dengan petunjuk-Nya dan Sunnah Rasul, Insya Allah hatimu akan damai”. Barakallahu Fiekum Wa Ahlikum.
KISAH SEBUAH KELUARGA LUKMANUL HAKIM : Akhirnya, saya mencoba menceritakan kisah keluarga Lukman yang dilukiskan Allah dalam Al-Qur’an — kepada mahasiswi tersebut, dikisahkan Lukman sedang berjalan-jalan di pasar dengan anaknya ditemani dengan seekor keledai, dalam perjalanan orang-orang di sekitar pasar saling berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya “aduuhh… kedua orang itu benar-benar bodoh, sudah membawa keledai tetapi tidak dinaiki, benar-benar orang yang bodoh”.
Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang di sekitarnya, akhirnya Lukman dan anaknya memutuskan menaiki keledai tersebut bersama-sama, tidak seberapa lama mereka berjalan orang-orang di sekitar Lukman saling berbisik-bisik kembali membicarakan Lukman dan Anaknya ’kedua orang itu benar-benar tidak punya kasihan, masak Keledai sekecil itu dinaiki berdua’.
Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang tersebut dan memutuskan bahwa anaknya yang menaiki keledai, sedangkan Lukman mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar Lukman dan anaknya berbisik-bisik membicarakan mereka berdua ”benar-benar anak durhaka, teganya membiarkan ayahnya yang sudah renta berjalan kaki sedang dia enak-enak naik keledai’.
Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang ini dan memutuskan bahwa Lukman yang naik ke punggung keledai, sedangkan anaknya mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar mereka kembali berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya ”benar-benar ayah yang egois, membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan kaki kepanasan, sedangkan ia enak-enakan duduk di atas keledai dengan nyaman”.
Lukman dan anaknya mendengar bisik-bisik orang-orang di sekitarnya, akhirnya mereka memutuskan mengikat kedua kaki keledai dan kemudian mereka memikul keledai itu bersama-sama anaknya, tanpa lagi menghiraukan omongan orang-orang di sekitarnya yang menganggap mereka telah gila berjalan-jalan dengan menggendong keledai.
KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMUASKAN SEMUA ORANG. Dari cerita ini, akhirnya, saya meminta mahasiswi tadi menarik sebuah kesimpulan, dia memang diam saja, tetapi saya dapat melihat bahwa beban berat yang dia rasakan sepertinya sedikit sudah berkurang.
Dia pun pamit dan mohon izin pada saya dengan menghadiahi sebuah senyuman dan ucapan terimakasih ya Pak TM. Dari sebuah senyuman dan kalimat terimakasih yang dia ucapkan, saya dapat merasakan ada nuansa dan sesuatu yang berbeda dia rasakan dibandingkan dengan pertama kali ketika ia meminta saya meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya.
Memang, dalam menjalani hidup ini, kita tidak akan bisa memuaskan dan menyenangkan hati semua orang, seperti cerita Lukman yang gagal mencoba memuaskan dan menyenangkan hati semua orang. Tetapi, setidak-tidaknya, tidak menyakiti hati orang yang telah mencintai kita. Ataukah saat ini, masih ada orang yang bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang? Wallahu ‘Aklam.
Banda Aceh, 28 Mei 2023







