Home / OPINI

Senin, 8 Mei 2023 - 01:21 WIB

SAMBIL BELAJAR, SAYA MEMILIH DIAM DAN MENIKMATI ADEGAN SIRKUS POLITIK YANG SEDANG TERJADI DI NEGERI INI

Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Pengamat Politik, USK, Banda Aceh

Sebuah Realitas – Tanpa terasa Kabinet Kerja Masa Pengabdian Presiden Jokowi Periode ke 2, tinggal beberapa bulan lagi. Sebagaimana kebiasaan, akhir jabatan dijadikan sebagai hari penilaian oleh para pengamat, analis, juga media umumnya, untuk menilai kinerja Presiden terpilih dan Kabinetnya siapapun dia. Kualitas maupun kuantitas kerja kabinet bentukannya pun merupakan subyek amatan yang paling layak disorot dan dinilai.

Selang beberapa hari setelah pemerintahan Jokowi jilid dua melampaui atau berakhir beberapa kawan yang aktif mengamati dunia politik, mendatangi saya. Seperti biasa, mereka langsung mengajak saya untuk melakukan bedah politik kinerja pemerintahan Jokowi dan kabinetnya jilid dua.

Nah, celakanya, kali ini saya sedang sangat tidak antusias untuk bicara seputar dunia perpolitikan di negeri tercinta ini. Karena banyak hal yang terjadi belakangan ini tidak ada dalam buku dan catatan politik yang telah saya geluti selama seperempat abad lebih. Lebih-lebih menjelang pemilihan Presiden baru. Belum pernah terjadi di negeri ini, Presiden sibuk dengan agenda mengumpulkan Parpol untuk menentukan Capres penggantinya. Cara seperti Itu di luar memori kolektif saya. Terlepas apapun tujuan dan maksud terbaiknya.

Kepada mereka pun saya coba meyakinkan bahwa hingar bingar perpolitikan belakangan ini, terlalu banyak yang saya tidak pahami. Koleksi kamus politik dalam rak perpustakaan milik saya pribadi, tidak tersedia kamus politik yang berjudul ‘Politik Semaunya”. Sehingga yang saya pahami hanya sebatas bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh Pak Jokowi dan kabinetnya dalam mengelola manajemen kekuasaan politik pada term kedua pemerintahannya ini. Sehingga berakhirnya jabatannya dengan husnul khatimah tanpa meninggalkan luka yang dalam. Itulah harapan saya dan mungkin juga harapan pembaca atau warga negara semua.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata banyak hal dilakukan selama periode ini yang jauh dari apa yang saya pahami tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dikerjakan oleh pemerintah yang dipimpinnya. Maka dengan jujur saya katakan kepada kawan-kawan, maaf saya kurang memahami semua ini.

Pasalnya, apa yang dianggap mudah dan sekunder oleh Pak Presiden, bagi saya tidak begitu. Apa yang dianggap mendesak, perlu, dan wajib dilakukan menurut Pak Presiden, saya juga beranggapan tidak sebegitu nya dan bukan yang bersifat urgen. Begitu juga yang menurut beliau tidak apa-apa, saya merasa miris dan justru malah merasa apa-apa.

Baca Juga  ACEH KONTEMPORER BUTUH GUBERNUR YANG BERANI, TEGAS DAN HUMANIS

Rentetan peristiwanya terjadi sejak pembentukan kabinet dan penunjukan para pembantunya yang beraroma ‘millenial oriented’. Selanjutnya mengenai kebijakan harus pindah ibu kota 2024. Mengenai penanganan masalah pemberantasan korupsi dan sejenisnya juga tentang ekonomi kerakyatan. Itu semua sulit saya cerna dengan akal sehat.

Tentang kebudayaan; hingga soal pelestarian bangunan dinasti dalam dunia politik, dan seterusnya. Semua ini masih menjadi ganjalan pemikiran saya yang tentunya dikarenakan pengetahuan saya yang sangat miskin dan terbatas. Tiba-tiba saja saya merasa sangat bodoh, terdiam, dan merenung. Sulit untuk saya tuliskan, apalagi untuk diungkapkan.

Oleh karenanya, saya memilih untuk menghakimi diri sendiri sambil menudingkan jari telunjuk ke muka ini dan menghardik…”Tahu apa kamu? Ini permainan kelas para Dewa… Ilmumu belum sampai kesitu …!” Dampratan terhadap diri sendiri inilah yang membuat saya jadi bersikap tahu diri, dan memilih untuk diam dan belajar lagi. Sambil mencoba berdisiplin diri, nikmati saja berbagai adegan sirkus politik yang terjadi akhir-akhir ini di negeriku sendiri.

Satu hal yang tidak saya tinggalkan adalah kebiasaan untuk terus mencatat semua peristiwa yang terjadi. Kali ini buku catatan harian saya beri judul …’’How high you can fly, and how low you can go (dive)?”… Setinggi apa engkau bisa terbang, dan sedalam apa engkau bisa menyelam…? Sementara sikap positif yang saya terapkan adalah membantu sebisanya apa yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk membangun masa depan negeri ini yang lebih baik. Diakui atau tidak oleh kawan-kawan atau bangsa ini bagi saya itu tak lagi penting. Yang terpenting adalah selalu ingin bangsa dan negeri ini ke depan menjadi lebih baik.

Jadi pilihan untuk tidak ikut terlibat dengan sejumlah aksi penilaian kritik sana kritik sini, semata karena lebih memilih untuk memberikan penilaian yang bermanfaat. Atau melakukan sesuatu yang lebih produktif-bermanfaat. Kepada kawan-kawan aktivis, saya berikan sejumlah alasan mengapa saya memilih tidak melibatkan diri dalam hingarbingar politik kekinian. Termasuk melakukan telaah, kritik, apalagi masukan seputar masa tugas dan kinerja pemerintahan Jokowi jilid 2 ini.

Baca Juga  REKONSTRUKSI PERAN HMI ; REFLEKSI DI HARI ULANG TAHUN KE 77

Bagaimana saya bisa menilai kinerja mereka ketika angka dan bahasa yang mereka gunakan, berasal dari buku dan sekolah yang berbeda. Pemahamannya pun berbeda pula. Juga ketika obyek, subyek, dan predikat, sama saja, seperti tak ada bedanya dan tak perlu dibedakan.

Begitu pun ketika masalah permukaan, simbul, dan substansi, berada di tataran yang sama. Bahkan sering kali terbalik-balik, dikaburkan oleh hingar bingarnya berbagai ilustrasi. Dan yang paling utama ketika kebohongan menjadi kata kunci dalam membangun peradaban bangsa ini ke depan. It is too far for me, man …!

Tragisnya, mayoritas rakyat merespon seluruh langkah yang dilakukan Pak Presiden dalam jabatan, pengabdian dan masa kerjanya, justru banyak yang menjadikannya sebagai sesuatu yang perlu diamini. Bahkan banyak yang menjadikannya sebagai mitos pembangunan masa depan Indonesia yang maju dan cemerlang.

Seperti tersihir mempercayai bahwa mimpi dan harapan seakan sudah hadir sebagai kenyataan. Sehingga sering terperangkap dalam perilaku yang sulit membedakan antara percaya diri dan tak tahu diri, bahkan lupa diri.

Kepada kawan-kawan sejawat dan sepemikiran saya katakan kepada mereka, jangan kita merasa diri paling benar. Siapa tahu langkah yang telah dan akan diambil oleh Jokowi ke depan persis seperti yang selalu Pak Luhut katakan… We are (already) in the right track! Artinya sudah di jalan yang benar. Sementara logikanya menjadi; aku dan kalian-lah tentunya yang berada dalam pemikiran dan perhitungan yang salah!

Untuk mengantisipasi hasil akhir dari the end game pemerintahan Jokowi jilid dua inilah, buku harian dengan judul ‘How high can you fly and how low you can go (dive)?’ menjadi perlu untuk saya terus isi setiap hari. Siapa tahu satu hari akan berguna. Karena matahari dan bumi tak akan pernah berbohong.

Hanya manusia yang sering berulah dan membohonginya! Sementara perlu dipahami, bahwa ; perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, begitu kata Mas Wily, Rendra, Si Burung Merak. Baik untuk Satu Periode atau Ber-Periode – Periode … berlakunya sama saja. Sungguh tak berbeda. Wallahu Aklam.

Kota Gemilang, 8 Mei 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

Istilah “Londo Ireng” Kembali Mencuat, Aktivis Soroti Praktik Neokolonialisme di Era Modern

OPINI

Ketika Keramaian Bukan Jaminan Kebenaran

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas

OPINI

Jejak Budaya Lhokseumawe dari Masa ke Masa

BERANDA

“Fifanic” Viral, Kasparov dan Mourinho Kecam FIFA Usai Gol Mesir Dianulir di Laga Kontra Argentina

BERANDA

Dua Putra Aceh di Balik Radio Rimba Raya yang Melawan Propaganda Belanda

EDUKASI

Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.