Home / RELIGI

Kamis, 27 April 2023 - 00:56 WIB

PERILAKU SOSIAL KITA SETELAH IDUL FITRI

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh

PADA Akhir bulan puasa adalah Idul Fitri. Hari Kemenangan ini dirayakan dengan bersilaturahmi dalam suasana penuh kehangatan, haru, dan rasa bahagia. Anak-orang tua, suami-istri, adik-kakak, tetangga, teman, dan umat larut dalam suasana saling maaf dan memaafkan.

Meminta maaf menjadi stempel diterimanya amal ibadah lain seperti dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Suatu hari Nabi bertanya kepada para sahabat : Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut orang yang bangkrut atau pailit (al-muflis) itu? Para sahabat menjawab : “Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes”.

Kemudian Nabi bersabda: “Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim–mengganggu saudara, tetangga, merampas hak orang lain, dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka.”

Begitu pentingnya kedudukan meminta maaf di dalam verifikasi amal ibadah seseorang, seorang muslim berusaha secara langsung datang bersilaturahmi, bertatap muka langsung untuk mendapatkan maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan, terutama kepada orang tua, pasangan, saudara, tetangga, kolega dan sahabat.

Namun tradisi positif bersilaturahmi secara langsung sudah mulai berkurang. Bukan karena virus pandemi saja, tetapi kemajuan teknologi informasi secara perlahan mengurangi kontak langsung antar manusia, sehingga melahirkan manusia-manusia impersonal yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya.

Baca Juga  Almunsib Habib Muhammad bin Sholeh Alattas Isi Tabligh Akbar di Kota Lhokseumawe

Kemajuan teknologi digital dan maraknya media sosial di dalamnya mereduksi nilai-nilai silaturahmi secara langsung, digantikan oleh aplikasi yang sepertinya lebih maju dalam merajut hubungan antarpersonal, tetapi sebenarnya kering dari sentuhan dan nilai kemanusiaan.

Kehadiran Idul fitri memberikan kita momentum untuk mengembalikan hakikat kemanusiaan kita. Idul fitri ada karena adanya puasa Ramadhan, sehingga tidak ada nilai dan identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan puasa, dan tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

Taqwa adalah kesadaran ketuhanan (God-consciousness), yakni kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha mengetahui dalam hidup kita. Kesadaran seperti itu membuat kita menyakini bahwa dalam hidup ini tidak ada cara menghindar dari Tuhan dan pengawasan-Nya terhadap setiap gerak dan suara hati kita.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup ini membuat kita memilih jalan yang diridhai-Nya dalam berperilaku, sesuai dengan ketentuan-Nya.

Kesadaran akan kehadiran Tuhan memperkuat kecenderungan alami (fithrah) manusia untuk senantiasa berbuat baik, sebagaimana hal itu disuarakan dengan lembut oleh hati nurani atau kalbu kita.

Dorongan batin dari hati nurani mewujud dalam manifestasi taqwa sebagaimana disebutkan sifatnya di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah 2/177 yang berkisar pada empat hal.
Pertama, keimanan kita harus murni dan otentik. Kedua, kita harus siap untuk memancarkan iman ke luar dalam bentuk tindakan kemanusiaan kepada sesama. Ketiga, kita harus menjadi warga masyarakat yang baik, yang mendukung sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan dalam kemaslahatan. Keempat, memiliki jiwa yang teguh dan tak goyah di berbagai keadaan.

Baca Juga  Putra Almarhum KH. Maimoen Zubair Kunjungi Dayah Tahfidzul Qur'an Imam Syafii Kota Lhokseumawe

Ketaqwaan menjadi sumber perilaku seseorang dalam pergaulannya dengan sesama manusia, dan ikut memberi bentuk serta pola pergaulan tersebut. Sekalipun lokus taqwa adalah kualitas keagamaan individu, ia mempunyai implikasi sosial yang kuat dan langsung, ikut menentukan corak masyarakat dan berpengaruh kepada kuat-lemah serta tinggi-rendahnya kualitas masyarakat.

Setelah sebulan penuh melaksanakan puasa menahan lapar dan haus plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lain seperti shalat tarawih, shalat tahajud, tadarrus al-Qur’an, shadaqah, dan lain sebagainya sebagai perwujudan taqwa, maka harus ada implikasi sosial.

Salah satu ukuran kesejatian nilai-nilai taqwa sebagai simpul keagamaan pribadi yang mendalam dari seseorang adalah kemampuan yang bersangkutan wewujudkannya dalam tingkah laku sosialnya di tengah masyarakat. Semoga ibadah puasa selama bulan Ramadhan harus berdampak positif pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan. Semoga Kita Selalu Dalam RahmatNya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Sagoe Peureulak Timur, 06 Syawal 1444-H

Share :

Baca Juga

BERITA

Kapolda Aceh Hadiri Pelepasan Haji Kloter Perdana Bersama Gubernur dan Ketua DPRA

OPINI

Walimatus Safar : Ketika Ibadah Dipertontonkan, Siapa yang Sebenarnya Disembah?

OPINI

Jumat Bukan Soal Terlihat Baik, Tapi Benar-Benar Menjadi Baik

BERITA

Tgk. Habibi An Nawawi Bakar Semangat Santri Dayah Ma’had An Nahla di Lhokseumawe

EDUKASI

MPU Aceh Utara Rilis Standar Zakat Fitrah 1447 H

BERITA

Pemkab Aceh Utara Gelar Peringatan Akbar Nuzulul Quran 1447 H

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu