Home / SASTRA

Senin, 13 Maret 2023 - 07:23 WIB

BAHAGIAKAH DIRIMU DENGAN MENZHALIMI DAN MENYAKITI HATI ORANG LAIN?

 

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial – USK – Banda Aceh

KONON seorang Syekh sedang berjalan-jalan bersama salah satu muridnya di sebuah taman bunga yang indah. Tiba-tiba, keduanya melihat sepasang sepatu lusuh tergeletak di sudut atau dipinggiran jalan. Setelah mengamati sekitar, tak didapati seorang pun ada di sana.

Mereka yakin itu adalah sepatu tukang kebun, yang lagi menyelesaikan pekerjaannya di dalam kebun atau taman itu. Seketika, sang murid yang sudah sangat akrab dengan Syekh-nya itu berujar : “Bagaimana Syekh, kalau kita candaan/bully tukang kebun/taman ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita sembunyi di belakang pohon? Nanti ketika dia kembali, kita akan melihat bagaimana ekspresi si tukang kebun/taman kaget …”

Usulan yang datang tiba-tiba dari sang murid tidak lantas disetujui oleh syekh, dengan perspektif si murid. Tapi Sang Guru atau Syekh yang sangat bijaksana, menjawab: “Ananda, wahai murid ku, tidak pantas kita menghibur diri dengan menertawakan orang kecil. Kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya … Coba masukkan beberapa lembar uang kertas dalam sepatunya, lalu kamu saksikan bagaimana respon tukang kebun atau taman itu nanti …”

Sang murid yang patuh, takjub dan langsung sepakat dengan usulan yang lebih baik dari gurunya. Dia segera memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun/taman itu. Setelah itu, mereka berdua memilih untuk bersembunyi di balik semak-semak atau pohon bunga yang rindang sambil mengintip apa yang akan terjadi… Tidak berselang lama, datanglah pekerja kebun atau taman itu sambil mengibas – ngibaskan debu dari pakaiannya. Ketika memasukkan kaki dalam sepatu, ia terperanjat. Ada sesuatu di dalamnya. Ternyata itu adalah uang… Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, juga berisi beberapa lembar uang kertas. Dia mengamati sekeliling kebun dan taman itu berulang-ulang.

Akalnya si tukang kebun itu sangat sulit untuk percaya dengan keajaiban ini. Ia memutar pandangannya ke segala penjuru sekali lagi, tapi tak ada seorang pun di sana. Lalu, dimasukkannya uang itu dalam sakunya. Sambil berlutut, menangis dan menangis, dia berteriak, seolah-olah bicara kepada Allah yang di atas, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Wahai Yang Maha tahu, istriku lagi sakit dan anak-anakku sedang menderita kelaparan… Mereka belum mendapat jatah makanan untuk hari ini. Engkau telah menyelamatkan mereka Ya Allah Ya Rabbi …”

Baca Juga  Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional

Dia terus menangis dan menangis lama sekali – sambil memandang langit dan menengadah sebagai ungkapan rasa syukurnya atas nikmat dan keajaiban yang tiada terkira ini… Beberapa saat kemudian, si tukang kebun atau taman ini pulang dengan air mata haru yang terus meleleh sambil menyenandungkan bait-bait syukur kepada Rabb-nya… Sementara di balik semak-semak, sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meng anak sungai, antara haru dan senang tiada terkira… Gurunya atau Syekh lalu berujar pelan, “Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih daripada rencana menyembunyikan sepatunya tadi?

Muridnya menjawab, “Sekarang aku baru paham makna ajaran mu yang dulu pernah kau ajarkan kepada kami, Syekh. Bahwa ketika memberi, kita akan mendapatkan kebahagiaan lebih banyak dari pada ketika kita memperoleh sesuatu …”

Sahabatku, Yang Mulia …, betapa sering kita mengalami kasus serupa dalam keseharian dan kehidupan ini. Dan mayoritas kita memiliki kecenderungan layaknya keinginan sang murid untuk menyakiti orang lain. Kita menginginkan untuk sekadar mencari hiburan atau kelucuan sesaat dengan menyakiti hati orang lain. Akan tetapi, itu kita lakukan dengan cara “mempermainkan dan bahkan mezalimi” orang yang lemah, baik sadar maupun tidak. Lebih senang memberikan sesuatu kepada orang kecil atau bawahan dengan terlebih dahulu mengerjainya. Padahal kita mampu untuk berbuat sebaliknya, menghadirkan senyum merekah di wajah-wajah mereka yang bekerja tulus untuk kita… Astargfirullahal Adhiem …

Virus ini bahkan menyebar hingga ke anak-anak sekolahan. Menjahili teman secara berlebihan, menertawakan temannya yang terjatuh, mengejek jika ada teman yang mendapat hukuman, atau mem-bully bersama adalah di antara yang nyata kita temukan dalam pergaulan anak-anak sekolah zaman sekarang. Begitu juga dalam ranah akademik dan berbagai instansi di negeri ini, lebih-lebih bagi mereka yang sedang berkuasa akan sangat bangga dan merasa hebat, menang serta merasa kuat ketika mampu menyakiti dan menzalimi sesama…

Sebagai pertimbangan dan renungan terhadap bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain adalah dengan membayangkan, jika yang diperlakukan demikian adalah sosok diri kita sendiri. Ketika kita menipu atau mempermainkan orang lain, mari sejenak kita bayangkan jika orang lain memperlakukan dan menzalimi atau menghukum kita dengan cara demikian. Ketika hendak mencari hiburan atau candaan dengan jalan merendahkan orang lain, mari kita resapi jika yang di posisi itu adalah diri kita sendiri… Semoga akal sehat kita masih berfungsi dan normal.

Baca Juga  Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

Nurani dan hati itu adalah ukuran. Ia akan jujur menilai dan merespon keadaan. Namun, jika nurani atau hati terlalu lama ditinggalkan, tak pernah digunakan, tak diasah untuk peka, atau dibiarkan keruh bahkan kotor, maka dikhawatirkan ia akan tertutupi sedikit demi sedikit dengan keburukan dan kelak akan berperilaku biadab. Na’uzubillahi Min Zhalik.

Ketika nurani sudah terkotori, ini bencana yang sesungguhnya. Khairuddin Bashari pernah berujar, “Orang besar selalu ingin membesarkan orang lain. Orang kecil hanya ingin membesarkan diri sendiri …” Kepribadian seseorang bisa diukur dari perlakuan kita kepada sesama. Ketika kita berazam dan berniat untuk berbuat maksimal kepada sesama, maka di saat yang bersamaan, alam semesta akan mengembalikan energi positif yang telah kita keluarkan.

Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini dengan membagi kebahagiaan dan kedamaian kepada sesama. Tak ada yang perlu disesali dengan berbuat baik kepada siapa pun. Justru kita perlu bersedih, ketika memperlakukan orang lain tidak semestinya. Karena Allah tak pernah rela makhlukNya dizalimi oleh MakhlukNya yang merasa dirinya hebat. Terlebih jika yang menjadi alasan bagi tindakan itu hanya karena penilaian berdasarkan pekerjaan, status sosial atau karena mereka adalah “musuh” kita. Berhati-hatilah ketika menzalimi orang lain, bisa jadi anda akan lebih terzalimi lebih berat pada waktu yang lain.

Menganggap rendah hanya karena orang tersebut berprofesi sebagai tukang kebun atau pekerja taman atau seorang juru parkir. Bisa jadi nanti, si tukang kebun atau juru parkir yang kita hina, lebih dahulu masuk surga berkat kedekatannya dengan Allah Yang Maha Rahim, kejernihan hati, atau juga mentalnya yang lebih merdeka dibandingkan dengan anda yang sedang berkuasa, namun berhati busuk serta berprilaku pengkhianat. Wallahu a’lam bis shawab. Semoga artikel ini dapat mendidik orang- orang yang masih memiliki hati. Insya Allah.

Banda Aceh, 13 Maret 2023

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu

BERITA

Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional