Home / OPINI

Minggu, 12 Maret 2023 - 17:33 WIB

PANTASKAH KITA DISEBUT SEBAGAI “MANUSIA”?

Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial – USK – Banda Aceh

SEBERAPA JAUH anda mengenal makhluk yang bernama IBLIS? IBLIS itu jangan hanya kau anggap sebagai musuhmu saja. IBLIS adalah guru terbaik yang pernah ada, kawan dan sahabat paling setia yang special dikirim Tuhan untuk kita, Lho kok bisa?

Seringkali kita menyalahkan IBLIS Dalam setiap kesalahan yang kita buat bukan, Namun apa yang IBLIS lakukan ia cuma tersenyum doank menanggapi caci dan makian juga umpatan kita, ketika kita mengobarkan semangat permusuhan sebenarnya IBLIS justru tertawa senang malah dengan penuh kasih sayang (menurut IBLIS) ia menawarkan persahabatan abadi. Pandang IBLIS jangan dari sudut kebencian dan Permusuhan lihatlah dia sebagai “guru” dalam perjalanan kehidupan kita ini.

Kata “Guru” mungkin terlalu hormat bagi IBLIS, tetapi justru ia lebih terhormat lagi sebenarnya dari sekedar kata “guru”. Lihatlah bagaimana keteguhannya memegang janji pada dirinya untuk Tuhan-nya. Apakah kita lebih baik daripada IBLIS? Lihatlah ke istiqamahan-nya dalam menjalankan setiap rencana dan misi-misinya yang sudah berpuluh juta tahun. Apakah kita lebih istiqamah daripada IBLIS? Menurut saya pribadi, IBLIS itu sudah benar karena ia hanya menjalankan tugas dan misinya saja sebagai makhluk yaitu menggoda.

Nah, kalau IBLIS berganti tugas menjadi penasehat atau membimbing justru itu sebuah kesalahan, Lalu kenapa kita sering menyalahkan IBLIS atas perbuatan yang kita lakukan? Pada dasarnya kita dibayangi ketakutan untuk mengakui sebuah kesalahan maka dengan alasan dalil, kitab suci, kata para ustaz, tengku, dan lain-lain, akhirnya kita diajari pandai mencari kambing hitam untuk sebuah kesalahan yang kita lakukan. Maaf, bagi kita sebagai umat Islam ada sebuah ayat “iyaakana’ budu wa iyaaka nastaiin” hanya kepada engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau Kami memohon pertolongan.

Baca Juga  Ketika Laporan Manis Mengalahkan Kenyataan Pahit Pemulihan Listrik Aceh

“waqulna yaa adamuskun anta wa zau jukaal jannata wa kulaa minha raghadan khaitsu syi’tumaa walaa taqraba hadihisyajarata fatakuuna minadhdhalimiin (Surah 2 : 35)” dan Allah Swt berfirman, Wahai adam diamilah oleh kamu dan istrimu, surga ini dan makanlah makanan makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu dekati “pohon ini” yang menyebabkan kamu termasuk orang orang yang dhalim. Begitulah pesan Allah Swt kepada Adam AS.

Dari ayat di atas sudah jelas bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah saja, tetapi juga peringatan sekaligus panduan agar kita tidak mengikuti bisikan IBLIS, bukan?

Lalu Adam AS lupa pada janjinya karena menuruti bisikan IBLIS untuk memakan buah dari pohon yang dilarang tadi. Pertanyaannya adalah, yang salah Adam atau IBLIS? Perlu kita ingat IBLIS sudah berjanji semenjak ia dikeluarkan dari surga lantaran dicap sombong, karena tidak mau sujud kepada adam bahwa ia akan menggoda semua makhluk yang bernama manusia dan Tuhan-pun mengizinkan sekaligus sebuah perintah.

Baca Juga  KETIKA ARGUMEN, BERBALAS DENGAN SENTIMEN DAN PENZALIMAN : SAYA BELAJAR UNTUK MENGHARGAI

Dan perlu kita ingat bahwa Tuhan memerintah kita untuk tidak mengikuti ajakan IBLIS dan hanya menyembah dan memohon padanya, Juga telah diberikan peringatan dan sekaligus panduan, bukan?

Akhirnya, IBLIS berhasil dan Adam pun tergelincir, Lalu pada masa Nabi Ibrahim AS – IBLIS juga membujuknya, bukan? Lantas apakah bujukan IBLIS itu berhasil? Dari kisahnya, Nabiyullah Ibrahim AS dan Nabiyullah Ismail AS – ternyata IBLIS tidak berhasil dan kalah dari Istiqamahnya Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS. Tetapi apakah IBLIS akhirnya putus asa?

Saya merasa tidak juga. Karena sampai sekarang, IBLIS tetap istiqamah pada tugasnya, Lalu bagaimana dengan kita yang malaikat pun bahkan sujud pada kita yang bernama manusia? Sementara kita, lebih-lebih saat berkuasa selalu menzhalimi orang lain. Renungkanlah …

Saudaraku Yang Mulia … Apakah kita masih se-istiqamah IBLIS dalam mengemban misi “iyaakana’ budu wa iyaakanastain?. Maka manakah yang lebih mulia sekarang kedudukanya dan ke-istiqamahanya? Kita yang disebut sebagai manusia? Ataukah yang kita sebut musuh yaitu IBLIS? Mari kita sama-sama merenung apakah kita masih pantas disebut manusia? Ataukah kita telah gagal mengemban misi sebagai manusia? Entahlah … Ataukah Kita Harus Menyebut, Yang terhormat Guruku, IBLIS Laknatullah … Na’uzubillahi min zhalik. Semoga tulisan ini dapat mendidik kita menjadi insan yang lebih baik dan bermartabat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Banda Aceh, 12 Maret 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas

OPINI

Jejak Budaya Lhokseumawe dari Masa ke Masa

BERANDA

“Fifanic” Viral, Kasparov dan Mourinho Kecam FIFA Usai Gol Mesir Dianulir di Laga Kontra Argentina

BERANDA

Dua Putra Aceh di Balik Radio Rimba Raya yang Melawan Propaganda Belanda

EDUKASI

Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.

EDUKASI

Minggu Pertama Sekolah: Jangan Terburu Mengejar Materi, Bangunlah Fondasi Belajar yang Akan Bertahan Setahun
tuti liana

EDUKASI

Menumbuhkan Literasi Sains dan Lingkungan melalui Inovasi Pembelajaran STEM