Penulis: Nuriman Abdullah, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan pada FTIK IAIN Lhokseumawe
Email: nuriman.abdul@gmail.com
Generasi Alpha, adalah mereka yang lahir setelah tahun 2010, akan menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks dan dinamis daripada generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi yang pesat, perubahan iklim, serta globalisasi yang tidak terbendung menjadi tantangan utama mereka. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, pendidikan menjadi kunci utama untuk mempersiapkan mereka.
Namun, bagaimana jika sistem pendidikan itu sendiri terancam oleh kualitas yang buruk? Salah satu ancaman terbesar adalah hadirnya dosen yang tidak hanya kurang kompeten di bidangnya, tetapi juga ditimpa isu dedikasi dan integritas untuk membimbing generasi penerus bangsa. Lalu, pertanyaannya adalah, adakah terhubung dengan “Ijazah Ilee, Ilmee Mita Dudo”?
Di dunia pendidikan tinggi, seringkali terdapat trik dan intrik yang dilakukan oleh pejabat akademik untuk meredam isu tentang dosen yang tidak kompeten. Salah satu cara yang umum adalah dengan menutupi kekurangan melalui “permainan administratif.”
Kadang-kadang pejabat akademik membela dosen-dosen tertentu karena adanya kepentingan lain, seakan-akan menggunakan posisi dan wewenangnya untuk menjaga reputasi institusi jangka pendek, padahal trik dan intrik ini dampaknya akan sangat merugikan dalam jangka panjang.
Jika kita menyadari bahwa pendidikan yang buruk hanya akan merugikan generasi muda dan masa depan mereka. Fenomena ini menambah masalah besar dalam dunia pendidikan kita, terutama di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang. Harus diakui bahwa generasi Alpha membutuhkan panduan yang lebih konkrit untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks justru akan terhambat oleh kualitas pendidikan yang rendah.
Faktor Meurajah dalam Pengajaran dan Pembentukan Karakter yang Salah
Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan akademis, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Dosen memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada mahasiswa. Semua itu memerlukan integritas dan profesionalisme bahkan institusi pendidikan yang buruk akan memperlemah fondasi sistem pendidikan dan ketidaksetaraan dalam akses pendidikan.
Salah satu masalah yang mengancam kualitas pendidikan adalah fenomena “meurajah” dalam pengajaran. Hal ini terjadi ketika dosen lebih fokus pada jumlah SKS yang diajarkan demi memenuhi target honor. Dalam situasi seperti ini, dosen cenderung mengadopsi pendekatan otoriter dan tidak memberikan ruang bagi mahasiswa untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Pembelajaran menjadi monoton, terbatas pada penyampaian materi secara satu arah, dan tidak memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami materi secara mendalam.
Semua itu dipercaya akan berdampak pada masalah serius lainnya seperti bimbingan tesis yang hanya mengejar target honor, tanpa memberikan arahan yang memadai. Dosen pembimbing yang fokus pada kuantitas tugas (jumlah tesis) sering kali tidak memberikan perhatian yang cukup pada kualitas bimbingan. Mahasiswa pun sering kali merasa kebingungan dan tidak mendapatkan solusi yang konstruktif untuk masalah yang dihadapi dalam penulisan tesis mereka.
Oleh karena itu, keberadaan pendidik yang tidak kompeten dan tidak berintegritas dapat merusak kualitas pendidikan dan berpotensi membentuk karakter yang salah pada generasi muda. Untuk itu, kita harus bersama-sama menjaga profesional sehingga Generasi Alpha mampu menuju masa depan yang lebih baik.






