Home / BERITA

Minggu, 31 Agustus 2025 - 23:12 WIB

Ujian Kepemimpinan Sejati : Sebuah Nasihat Akademik untuk Presiden Prabowo Subianto

Oleh: Zulfadli Ilmard, Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Malikussaleh

OPINI –  Sejarah mencatat bahwa pemimpin besar tidak diuji pada saat pesta kemenangan, melainkan ketika badai protes datang menghantam. Soeharto tumbang bukan karena kalah pemilu, tetapi karena gelombang demonstrasi mahasiswa yang tak terbendung. Presiden Joko Widodo berkali-kali menghadapi tekanan aksi massa, dari gerakan 212 hingga protes omnibus law. Kini, giliran Presiden Prabowo Subianto menjalani ujian serupa.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah beliau akan merespons dengan kebijaksanaan, atau justru dengan ketakutan?

Di persimpangan ini, Presiden Prabowo menghadapi dua opsi mendasar:

1. Pendekatan represif. Menggunakan aparat keamanan untuk meredam demonstrasi, menutup ruang protes, dan menjaga stabilitas dengan tangan besi. Cara ini cepat, tetapi berisiko memperlebar jarak dengan rakyat dan memunculkan stigma “otoritarianisme baru.”

2. Pendekatan dialogis. Membuka ruang komunikasi, mendorong DPR lebih responsif, serta memastikan tuntutan demonstran mendapat kanal institusional. Jalan ini melelahkan secara politik, namun memperkuat legitimasi dan membangun kepercayaan publik.

Baca Juga  Sekda Aceh Utara Dampingi Menhub Tinjau Lanjutan Pembangunan Jalur Kereta Api

Ujian besar pertama Presiden Prabowo adalah keberaniannya memilih opsi kedua, meski lebih sulit, dibanding tergoda pada cara pertama yang tampak lebih instan.

Jika Presiden Prabowo ingin pemerintahannya kokoh, ia perlu menanam tradisi baru: dialog sejak dini dan keterbukaan sebagai sumber legitimasi. Langkah ini tidak cukup dilakukan dengan sekadar menemui demonstran, tetapi juga harus diiringi dengan mendorong DPR agar lebih proaktif mendengarkan suara rakyat.

Di era digital yang serba terhubung, demonstrasi dapat meluas dengan cepat dari satu kota ke kota lain. Aspirasi publik yang diabaikan bisa memicu eskalasi nasional. Sebaliknya, jika Presiden tampil sebagai figur yang mau mendengar, demonstrasi justru dapat menjadi ajang konsolidasi energi rakyat, bukan ancaman stabilitas.

Baca Juga  Presiden Prabowo Sampaikan Pidato Kenegaraan Penyampaian RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan

Bagi sebagian elit, aksi massa mungkin dianggap gangguan atau potensi chaos. Namun bagi demokrasi, politik jalanan adalah vitamin—tanda bahwa ruang kritik masih hidup, dan rakyat masih peduli terhadap negara.

Presiden Prabowo harus mampu menggeser paradigma lama: dari melihat demonstrasi sebagai musuh negara, menjadi melihatnya sebagai pengingat bahwa demokrasi bukan sekadar pesta lima tahunan. Demokrasi hidup ketika rakyat dapat bersuara keras di jalan tanpa rasa takut.

Kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa kuat penguasa menekan kritik, melainkan dari seberapa dewasa ia merangkul perbedaan. Jika Presiden memilih jalur dialog, ia bukan hanya meredam gejolak, tetapi juga meninggalkan jejak kepemimpinan yang patut dicatat sejarah.

31 Agustus 2025, Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe – Aceh.

Share :

Baca Juga

BERITA

Wakapolri: Kapolri Cup II Dorong Indoor Skydiving Indonesia Mendunia

BERITA

Dua Terduga Pelaku Curanmor Ditangkap di Curug, Polisi Sita Senjata Api Rakitan

BERITA

Polda Metro Jaya Ungkap Dugaan Impor Ilegal 49,85 Ton Kacang Tanah

BERANDA

OTT Kasus HGB Summarecon Bogor, KPK Tahan Ketua DPP Golkar Fahd Arafiq hingga Bos Summarecon Agung

ACEH

Lobi Bupati Al- Farlaky, Pembudidaya Tambak Terima Benur Udang Vaname Dari KKP

ACEH

Maulid Nabi di Pulo Gajah Mate Meriah dengan Zikir dan Rapai, Tgk. Asnawi Ajak Generasi Muda Teladani Rasulullah SAW

BERITA

Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal Bedah Buku Strategi Fiskal Nabi Yusuf di UIN Lhokseumawe

BERITA

Kepala Suku Wedaumamo Nabire Tanggapi Wacana Definisi Orang Asli Papua