Home / BERANDA / BERITA / EKBIS / NASIONAL / SOSIAL

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:08 WIB

Tongkang Excavator Tiba di Wanam, Proyek Pangan Papua Selatan Picu Sorotan Deforestasi

MEDIALITERASI.ID | MERAUKE – Pengiriman alat berat ke kawasan Wanam, Papua Selatan, kembali memicu perdebatan publik soal dampak proyek strategis nasional terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat adat. Tongkang pembawa excavator diberangkatkan dari Pelabuhan Merauke untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan program lumbung pangan nasional di wilayah selatan Papua.

Pengiriman alat berat tersebut berkaitan dengan sejumlah proyek pemerintah dan kontraktor, meliputi program cetak sawah rakyat, pembangunan jalan Wanam–Muting sepanjang 135 kilometer, serta infrastruktur penunjang lainnya.

Pemerintah mempercepat pembangunan di kawasan Wanam sebagai bagian dari program pengembangan lumbung pangan nasional. Salah satu proyek yang hampir rampung adalah dermaga logistik di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke. Dermaga ini disebut menjadi pintu masuk utama distribusi alat berat dan sarana produksi pertanian untuk proyek pangan skala besar di Papua Selatan.

Baca Juga  Seorang Bayi Laki – Laki Ditemukan Tergeletak Dibawah Pondok Tua Gunug Salak Aceh Utara

Kementerian Pekerjaan Umum juga mempercepat pembangunan Jalan Wanam–Muting guna membuka akses logistik dan konektivitas wilayah selatan Papua. Pemerintah menyatakan proyek itu penting untuk mendukung mobilitas barang, menekan biaya logistik, dan membuka peluang ekonomi baru di Papua Selatan.

Kembali Munculnya Sorotan Deforestasi

Di tengah percepatan pembangunan, film dokumenter _Pesta Babi_ kembali menjadi perbincangan. Film itu menyoroti isu eksploitasi tanah Papua, deforestasi, hingga dugaan hilangnya ruang hidup masyarakat adat akibat ekspansi proyek dan investasi berskala besar.

Sejumlah kelompok masyarakat sipil dan mahasiswa di Merauke mulai menyuarakan kritik terhadap proyek PSN tersebut. Mereka menyoroti potensi kerusakan hutan, dugaan tekanan terhadap masyarakat adat, dan persoalan lingkungan yang dinilai belum terselesaikan.

Baca Juga  Gubernur Sumut Bobby Nasution Bersama Wagub Gelar Safari Ramadan Perdana di Medan

Isu perubahan status kawasan hutan dalam proyek swasembada pangan di Papua Selatan juga memicu protes perwakilan masyarakat adat. Mereka mempertanyakan proses pengambilan keputusan yang dianggap minim pelibatan warga adat di wilayah terdampak.

Papua Selatan belakangan menjadi sorotan nasional karena menjadi salah satu pusat proyek strategis pemerintah di bidang pangan, infrastruktur, dan konektivitas. Namun bersamaan dengan itu, perdebatan mengenai dampak ekologis, deforestasi, dan masa depan ruang hidup masyarakat adat terus mengemuka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi tambahan dari pemerintah daerah maupun kementerian terkait menanggapi kritik yang muncul.(AYD)

Share :

Baca Juga

BERANDA

Oknum Polisi Jadi “Sniper” Pengawas Narkoba di Samarinda, Bareskrim: Sudah Diamankan

ACEH

Pengadaan Komputer TKA/ANBK Aceh: Nilai Kontrak Hampir Mentok Pagu

BERITA

Pleno XIX Dewan Adat se-Tanah Papua Tegas Tolak PSN dan Pendekatan Militer di Papua

ACEH

KPK Sentil Pemprov Aceh: Dana Bencana Rp11,5 T Masih Mengendap, Pemulihan Tersendat

BERANDA

Rupiah Tertekan Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.885 di Sejumlah Bank

BERITA

Buntut Pernyataan Soal Wartawan Non-UKW, Aliansi Pers Soroti Transparansi Proyek Revitalisasi Sekolah di Aceh

ACEH

Wagub Aceh Minta Tambah 331 Ribu Kuota PBI JK ke Mensos, Bahas Bencana dan Sekolah Rakyat

ACEH

Polisi Temukan Indikasi Molotov, Bentrokan Mahasiswa USK Hanguskan Gedung Fakultas Pertanian