![]()
Oleh :
Kanda Dr. T.M. Jamil TA, M.Si.
Ilmuwan Sosial, USK, Banda Aceh.
SETIAP RAMADHAN TIBA, aku selalu ingat kisah lama ini. KALA itu, waktu telah menunjukkan pukul 03 : 45 Wib, di Bulan Suci Ramadhan beberapa tahun yang lalu. Teriakan sahur dari pengeras suara mushalla di kompleks perumahan tempat tinggal kita terdengar sangat nyaring di telingaku. Mataku yang masih ngantuk coba ku-buka perlahan, seperti ada lem alteco yang menahannya, karena masih sangat ngantuk dini hari itu. Ku lihat istriku matanya masih terpejam, terlihat gurat kecapekan di muka dan wajahnya, sangat tak tega aku membangunkannya.
Aku sangat tak tega membangunkannya untuk menyiapkan sahur untukku dan untuk anak-anakku. Sorot lampu kamar yang temaram menerangi wajah, wajah letih dan kecapekan semakin terlihat di raut wajahnya. Sayang … sekitar lima menit lebih, aku mencoba untuk memandang mu, sungguh aku sangat menyesal kadang-kadang membentak mu, menyakiti hatimu, dan mungkin juga memarahi mu, walaupun aku tidak pernah sampai menyakiti fisikmu. Sedih rasanya, hati ini, jika itu aku mengingatnya.
Sudah 30 tahun lebih, kita diikat dalam satu tali suci pernikahan. Kamu yang waktu itu baru saja wisuda sarjana, aku langsung meminang mu untuk menjadi pendamping hidupku. Aku tidak pernah memberimu kesempatan untuk bekerja dan berkarir, memanfaatkan ijazah kesarjanaan mu, tidak pernah terjadi pada saat itu (padahal kamu sarjana lulusan terbaik dan Cum Laude), tapi kamu rela hanya menjadi ibu rumah tangga, untuk melahirkan dan mendidik anak-anak kita, sungguh pengorbananmu yang tiada tara.
Meskipun kini, aku telah beri izin dan ikhlaskan dirimu untuk berkarir, asalkan tugas sebagai ibu bagi anak-anak kita lebih diutamakan. Masya Allah, Ternyata kamu kuat, dan komitmen itu selalu dirimu jaga dan taati. Meskipun kadang-kadang diriku terkesan sedikit kurang ter-urus, mungkin karena badanku yang terlihat kurus, padahal fisikku dari dahulu memang seperti ini Jujur, aku ikhlaskan atas semua itu, karena itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan dalam menata hidup kita untuk menjadi lebih baik, terutama untuk masa depan anak-anak kita.
Pada saat kita menikah, gajiku tidaklah seberapa waktu itu, (kurang dari satu juta rupiah), belum lagi untuk bayar sewa rumah kontrakan, cicilan hutang, bayar listrik, iuran dusun, hanya ratusan ribu uang bulanan kita, tapi kamu tetap tersenyum penuh syukur dengan apa yang aku dapatkan. Kamu tidak pernah menuntut di luar kemampuanku, walaupun aku tahu mungkin kamu sangat menderita saat bersamaku, sungguh itu pengorbanan yang luar biasa buatku. Saat ini, memang kita telah memiliki “sebuah rumah sederhana” itu pun rumah yang kita beli dengan uang kredit, pinjaman dari bank dan sedikit uang tabungan kita.
Di saat orang-orang lain dan tetangga kita membangun dan merenovasi rumah gedung yang megah, namun dirimu diam dan anak-anak kita pun ikhlas menerima dan bersyukur dengan apa yang telah kita miliki, tanpa sedikitpun dirimu menuntut lebih dari itu. Hatiku berbisik, diam dan sabar mu mungkin bukanlah berarti dirimu tidak “menuntut”, akan tapi hatimu yang suci dan tulus membuatmu kuat untuk bertahan melihat suamimu yang ”egois” dan memang belum mampu berbuat lebih dari itu…
Kita bersyukur, Alhamdulillah, semua anak-anak kita sekarang berada di bangku kuliah dan sekolah, bahkan diantara mereka ada yang telah menjadi sarjana yang bermanfaat untuk ummat. Kadang-kadang sikap dan tingkahku sering tidak semestinya, tapi hatimu tetap sabar dan santun dalam menerima sikapku. Sekali lagi kepada istriku tercinta, aku mengucapkan terima kasih atas toleransinya yang besar terhadap perangai yang buruk ketika aku mengalami frustrasi akibat kemacetan dan masalah dalam proses pelaksanaan berbagai pekerjaan atau tugas-tugasku, dan kemacetan dan masalah-masalah itu sangat sering muncul dan terjadi. Lebih-lebih lagi saat aku pergi, meninggalkanmu untuk melanjutkan studi S2 dan S3, demi masa depan kita dan keluarga.
Pada saat itu, anak-anak kita semuanya masih kecil. Namun, Dirimu kuat dan mampu menjaga dan mengasuhnya, bahkan mengantar dan menjemputnya ke sekolah tiap hari, tanpa sedikitpun dirimu mengeluh. Dirimu wanita kuat, hebat, cerdas dan sangat tulus berbuat sebagai ibu dari anak-anakku dan isteri dari seorang laki-laki yang sangat “egois” yang hanya mementingkan studi, studi, dan kerja. Semua kegiatan itu, menurutmu adalah ibadah dan harus dijalani dengan baik…
Sebagai istri, dirimu sangat mendukung karirku, dan bahkan kamu sering “melarang ku” untuk mengeluh, kecewa tentang berbagai masalah dan kesulitan yang sering muncul dalam menjalani hidup ini. Karena menurutmu, Allah swt tidak akan pernah memberikan beban di luar kemampuan hamba-NYA, dan Allah selalu bersama hamba-hambaNya yang berbuat dan berjuang untuk kepentingan umat. Jika kita telah berbuat baik untuk umat, Insya Allah, umat akan membantu dan mendo’akan kita. Begitulah, kata-kata yang sering kamu ucapkan saat kita menghadapi masalah. Allahu Akbar.
Aku bersyukur, kamu terlahir dari sebuah keluarga yang punya sedikit harta, tapi kamu bisa menerimaku seorang laki-laki “miskin”. Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, aku hanya seorang pemuda desa (meskipun aku sudah sarjana pada waktu itu), aku berasal dari keluarga yang sangat-sangat sederhana, tapi kamu mau menerimaku apa adanya. Kalau kamu mengharapkan materi dan harta, pasti kamu tidak akan pernah memilihku menjadi sebagai suamimu.
Aku tahu banyak pejabat-pejabat atau pegawai negeri dan laki-laki berduit yang ingin meminang mu, banyak teman-teman kuliahmu yang kaya ingin menikahi mu. Tapi kamu tetap memilihku dengan tulus sebagai suamimu, terimakasih istriku.., semoga aku bisa menjadi sebagai suami terbaik untukmu selamanya…itulah janji dan do’a-do’aku setiap aku bersimpuh, bermunajat dan bersujud kepada Allah Swt… Yaa Allah, Kabulkan Do’aku Ini… Aamiin Yaa Rabb.
Kembali aku memandang mu. Disisi mu ada anak kita yang paling bungsu dan yang lainnya anak-anak kita lagi tidur nyenyak di dalam kamarnya masing-masing. Gurat-gurat kecapekan, dan kepenatan semakin terlihat di wajahmu. Tak berapa lama lagi, pasti kamu akan terbangun untuk membuatkan susu dan minum untuk anak kita dan menu sahur buat kita makan bersama.
Kadang-kadang dan sangat sering aku mendengar teriakan “si-kecil” minta susu atau minum, namun aku pura-pura tertidur, karena rasa kantukku yang mendera, betapa jahat diriku ini membiarkanmu tertatih-tatih ke dapur membuatkan susu dan minum untuk anak kita. Kamu sangat capek, tapi kamu tidak pernah mengeluh dan protes, bahkan pekerjaan yang seharusnya aku dan anak-anakmu lakukan, seringkali dengan ikhlas nya kamu kerjakan sendiri, seperti membayar iuran listrik, iuran air minum, mengantar dan menjemput anak ke sekolah.
Kamu dengan ikhlas mengantar si kecil ke sekolah dan ke tempat less, padahal dirimu juga sangat sibuk dengan tugas-tugas di sekolah dan mengikuti sejumlah pelatihan dan penataran untuk menunjang karirmu sebagai seorang guru yang sangat dihormati oleh anak didik mu dan disegani oleh teman-temanmu.
Akan tetapi dirimu masih menyempatkan diri untuk ikut menjadi wali kelas sekolah di tempat tugasmu, tetap bersosialisasi dan menjadi Ketua Perkumpulan Ibu-Ibu warga dengan aktif di kompleks perumahan tempat kita tinggal, acap kali kamu juga menjadi asisten, menjadi sekretaris pribadiku, bahkan seringkali dirimu menjadi “supir” pribadiku, tanpa aku bisa dan mampu menggajinya. Semua itu kamu lakukan dengan ikhlas tanpa sedikitpun terlihat dan terkesan rasa terpaksa di wajahmu. Subhanallah… Maha Suci Allah…
SAYANG, Aku memang bukanlah seorang laki-laki yang romantis. Yaa Allah … Entah kenapa, mulut ini sangat susah untuk memuji kecantikanmu, sangat susah untuk dapat memuji betapa berharganya dirimu di mata dan di dalam kehidupanku selama ini. Seperti ada biji buah kedondong yang nyangkut di kerongkongan ini, ketika aku akan memujimu, sehingga tak sepatah katapun mampu terucap dari mulutku. Apakah karena aku laki-laki egois, sehingga aku malu mengakui betapa hebat dan cantik dirimu sebagai istriku, ataukah karena aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sangat pendiam?
Ayahku, orangnya sangat berwibawa dan tidak banyak berbicara dan sangat jarang aku mendengar beliau mengungkapkan suatu perasaan. Aku ingin berubah, tapi ternyata itu sangat sulit, dan aku tak mampu. Namun dirimu sangat tulus mencintaiku. Itulah yang aku rasakan sampai detik ini. Ketulusanmu membuat aku sangat tegar dalam menjalani hidup ini, meskipun banyak tantangan dan duri yang menghadang ku. Bersamamu, aku kuat dan mampu untuk melewati semua itu dengan izin Allah…
BEGITU pula Di saat kamu berbelanja ke pasar, aku seringkali meninggalkanmu — karena untuk memilih baju buatmu atau buat anak-anak kita perlu waktu berjam-jam, itu yang membuatku seringkali tidak pernah bisa bersabar. Padahal aku tahu itu, kamu mencari baju yang paling bagus dengan harga yang paling murah. Kenapa aku tidak bisa menjadi suami yang dapat memberikan masukan, apalagi untuk memilihkan pakaian yang terbaik untukmu dan anak-anak kita, aku tidak pernah bisa. Maafkanlah Aku sayang…, Kadang-kadang aku tinggalkan dirimu hanya untuk sekedar “ngopi” di saat menunggumu berbelanja untuk membuang rasa jenuh dan kebosananku.
Padahal dirimu sangat sering “mewakili ku” dan pergi sendiri, kadang-kadang hanya ditemani oleh putra-putri kita, ke acara-acara sosial dan silaturrahmi, seperti takziah, arisan, undangan pesta pernikahan, dan lain-lain, tanpa pernah kamu minta diantar, apalagi minta untuk dijemput. Sangat tidak pernah itu terjadi. Engkau benar-benar perempuan hebat yang Allah berikan untukku … Terimakasih Tuhan …
Kamu lakukan itu semua dengan ikhlas dan bahkan dirimu seringkali mengatakan padaku bahwa “kita harus bisa untuk saling mengisi” dalam menempuh perjalanan cinta ini agar tetap abadi dalam Ridha Allah. Bukankah kedamaian hati akan hadir, “saat kita bisa belajar menerima, dan tidak berusaha untuk menuntut?”. Itulah kata-kata yang sering kamu ucapkan saat kita bersama.
Tanpa terasa air mata ini menetes di pipiku, ketika semakin dalam aku memandang mu semakin aku tersadar, betapa beratnya pengorbananmu selama ini, dan sepertinya aku sangat kurang menghargai mu, bahkan kadang-kadang aku sering “mengkhianati dan melukai hatimu”.
Sudah 30 tahun lebih kamu menjadi istri yang terbaik untukku, walaupun ada pertengkaran-pertengkaran kecil, itulah dinamika rumah tangga kita. Namun, semua itu dapat kita lewati dengan indah. Kita percaya, tidak ada sebuah keluarga yang tanpa riak dan gelombang. Namun kita bersepakat bahwa riak dan gelombang merupakan sebuah suasana dan simphony malam yang memperindah kehidupan ini.
Ummi..ummi, minum….minum… sangat jelas terdengar rengekan anak kita yang bungsu terbangun yang meminta minum, dan aku pun segera bergegas ke dapur untuk membuatkan segelas minuman hangat buat anak kita, membiarkanmu terlelap tidur sejenak lagi untuk dapat sedikit mengurangi keletihanmu. Ternyata dirimu pun terbangun untuk kita makan sahur bersama. Kini aku sadar, kamu adalah wanita terbaik pemberian Allah Swt dan dirimu wanita terpuji di mataku. Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahal Adhiem…
Terima kasih Tuhan, karena ENGKAU telah memberikanku seorang wanita terbaik dan shalihah yang penuh cinta, perhatian, do’a, dukungan dan kasih sayangnya untukku selama ini, besok, dan selamanya. Amin… Ya Mujibassailin.
Akhirnya, Untuk anak-anakku tercinta, yang berulang tahun, Tahun ini, dan Hanya inilah seutas do’a kebahagiaan yang dapat Ayah dan Ummi berikan untukmu sebagai orang tua yang selalu mencintai dan menyayangimu selamanya. Yaa Allah, Yaa Rabbi Yang Maha Rahim, Jadikanlah anak-anak Kami menjadi insan yang berguna bagi bangsa dan mendapat Ridha MU. Selamat Hari Ulang Tahun Anak-anakku, semoga panjang umur, taat kepada Allah, patuh pada orang tua, dan sukses selalu dalam meraih cita-cita dan cinta. Allahumma Amin, Ya Allah Ya Rabbal ‘Alamin.
Banda Aceh, 3 April 2023







