Medialiterasi.id | KUTA MAKMUR – Sejumlah Petani dari beberapa desa di Kecamatan Kuta Makmur Angkat Pintu air Skat Board dengan Kotrek tangan di embung Lhokgajah, Kuta Makmur, Aceh Utara, Selasa (5/3/2024)
Upaya pengangkatan Pintu air dilakukan warga sekitar dikarenakan sejumlah areal persawahan di Kecamatan Kuta Makmur mengalami kekeringan.
Samsul Bahri (62) selaku Keujrueng Blang di Kecamatan Kuta Makmur, mengaku kekurangan air di embung Lhok Gajah merupakan hal yang lazim terjadi di setiap musim kemarau.
Lebih lanjut Samsul Bahri menuturkan, air yang menampung di embung Lhokgajah bersumber dari satu hulu sungai Krueng Buloh sehingga debit air untuk mengairi 39 Desa di Kecamatan Kuta Makmur tidak mencukupi.
“Debit air untuk embung lhokgajah akan mencukupi apabila adanya pembukaan ke sungai Krueng Punti yang terletak di SP. 3 Desa Meunje Cut Bahagia”, ujarnya.
Akibat kemarau panjang yang melanda di kecamatan Kuta Makmur diperkirakan ratusan hektar area (Ha) persawahan di 17 desa mengalami kekurangan air. Dari 39 desa yang tidak mengalami kekeringan hanya dua Desa, Buket dan desa Blang Talon, selebihnya mengalami kekeringan.
Fungsi kegunaan embung Lhokgajah memiliki 3 fungsi utama, diantaranya tempat penyimpanan Debit air untuk kebutuhan sawah, Pengendalian Banjir dan bisa juga di fungsikan sebagai tempat Pariwisata.
“jika potensi di sekitar waduk Bisa dikembangkan, apalagi Buloh dikenal dengan duriannya”, jelas Samsul Bahri.
Samsul Bahri mengharapkan pemerintah terkait untuk memfasilitasi pembukaan pintu air utama dengan pembukaan electric.
“Sejauh ini jika para petani membutuhkan air, kita tidak perlu mengangkat plat pintu air secara manual, sehingga tidak terlalu membutuhkan tenaga dan bisa menghemat waktu”, harap Keujruen Blang Kecamatan Kuta Makmur.
Mawardi (41) salah satu petani Meunasah Kumbang mengatakan kekurangan air yang di alami oleh petani selama sebulan lebih itu disebabkan karena faktor kemarau dan Pintu air utama embung Lhok Gajah yang sudah untuk di angkat secara manual, hal itu sebabkan plat pintu yang memiliki beban yang berat.
“Selain dua hal tersebut terdapat juga gorong- gorong yang cincin nya terlalu kecil tepatnya di depan ruko Zulkifli, sehingga menyebabkan penyumbatan sampah “, ujar Mawardi.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Anwar (50) warga desa Dayah Meunara menuturkan, banyak juga keluhan masyarakat terkait cincin gorong – gorong di depan Ruko Zulkifli yang sering tersumbat sampah akibat cincin yang terlalu kecil.
“alangkah baiknya gorong- gorong sepanjang 6 meter itu di bongkar dan diganti dengan plat Cor, sehingga tidak terjadinya penumpukan sampah yang susah dibersihkan”, ujar Anwar. [end@]







