![]()
Oleh :
Dr. Drs. T.M. Jamil TA, M.Si
Pengamat Sosial – USK – Banda Aceh
ENTAH MENGAPA KISAH DAN PENGALAMAN ini berkali-kali ingin saya ceritakan kepada Kanda dan Adik-adikku semua … namun di lubuk hati yang paling dalam saya hanya berharap agar bisa dibaca dan direnungkan oleh Kanda, Adinda, Sahabat dan Saudaraku yang masih mempunyai sedikit waktu luang, di celah-celah kesibukan dunia yang maha dahsyat – untuk dapat direnungkan agar kisah seperti ini TIDAK pernah terjadi dalam kehidupannya kelak.
MOHON MAAF Saudaraku – Hanya Tulisan dan pengalaman yang bisa saya hadiahkan dalam media ini kepadamu. Tak lebih dari itu. Semoga kita menjadi Hamba Allah yang selalu mencintai dan menghormati orang-orang yang telah membantu dan berjasa dalam hidup kita ini. Jangan pernah korbankan dan sakiti hatinya. Lebih-lebih lagi kepada kedua orang tua yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kita, sehingga kita telah menjadi seperti hari ini. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan inspirasi kepada kita semua untuk menjadi insan yang mulia dalam pandangan Allah Swt. Insya Allah, Amin.
BEBERAPA Bulan yang lalu, saya ditakdirkan Allah swt untuk pergi keluar kota karena ada tugas dan urusan dinas. Pada saat itu, di suatu hari, seorang teman lama dan baik saya — mengajak saya untuk pergi ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan Panti Asuhan bersama dengan teman-temannya. Sayapun dengan ikhlas, senang hati dan Bismillahi Tawaqaltu ‘Allah La Hawla Waa Quwata Illa Billah …, sayapun berangkat. Kebiasaan ini bagi teman saya sudah sering mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya. Itulah argumentasi yang sering diberikan oleh sahabat saya tersebut di saat-saat kami ngopi bareng. Merasa hidup merana? Merasa jadi orang yang paling menderita di dunia? Merasa sudah lelah dan ingin menyerah menjalani hidup ini? Saudaraku, saatnya kita untuk meluangkan waktu sejenak dan Kembali mendengarkan suara hati mereka di luar sana. Membuka kembali mata hati kita tentang kisah dan romantika kehidupan anak manusia di dunia ini.
KETIKA saya sedang berbicara dengan beberapa orang ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertuju pada seorang Kakek tua yang duduk menyendiri di kursi roda sambil menatap ke depan dengan sebuah tatapan kosong. Lalu, sang teman saya mencoba mendekati Kakek itu dan mencoba mengajaknya untuk berbicara. Perlahan, sang kakek akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si Kakek menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Saya sendiri pada waktu itu, dengan perasaan sedih dan sangat terharu, saya memperhatikan raut wajah kakek tua tersebut, seakan-akan dia sangat menyesali hidup tentang dirinya saat ini.
Entahlah … saya juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sang kakek? Bagi saya pribadi kejadian hari ini merupakan proses pembelajaran, mendidik diri dan mungkin kesempatan baik untuk menambah rasa solidaritas untuk sesama. Oleh karena itu, Maka saya pun dengan sangat hati-hati memperhatikan setiap kata-kata yang diucapkan sang kakek, sambil saya merenung. Dalam hati saya berbisik, Ya Allah… izinkan dan bukalah hatiku ini untuk mampu berempati kepadanya, nanti jika Engkau izinkan akan saya tuliskan “kisah ini” sebagai amal kebaikan agar bisa dibaca oleh keluarga besar saya dan juga orang-orang lain yang masih memiliki orang tua dan kakeknya. Karena janji dan niat baik itulah, maka tulisan ini hadir via media ke hadapan pembaca yang mulia.
LALU, Si Kakek memulai cerita tentang perjalanan hidupnya di masa lalu, sambil menghela napas panjang. “Sejak masa muda saya selalu menghabiskan waktu untuk terus mencari usaha yang baik untuk membahagiakan keluarga saya, khususnya untuk anak-anak dan isteri yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya, saya mencapai puncaknya di mana kami bisa tinggal di rumah yang sangat besar dan mewah ber-AC dengan segala fasilitas yang sangat bagus. Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi berapapun yang mereka minta dan butuhkan semua saya berikan dengan ikhlas. Akhirnya, mereka semua telah berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga”. Kakek itu terdiam. Lalu dia melanjutkan kisahnya …
Tibalah di mana kami sebagai orang tua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami masa lalu. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak.
Lalu sejak kematian istri — tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada yang mau dan bisa menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga sangat besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.
Tidak pernah sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak efisien juga toh saya dapat ikut tinggal bersama dengannya. Dengan hati yang berbunga-bunga, sayapun menyetujuinya, karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi, tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya.
Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung tersebut. Tapi apa yang saya dapatkan dan rasakan? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah, tak pernah sekalipun mereka mau menyapa atau menegur saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi dan mengurus. Untunglah saya, selalu hidup teratur di masa muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.
Lalu saya minta pindah tinggal di rumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita di dalamnya, tapi rupanya tidak juga saya rasakan. Yang lebih menyakitkan lagi semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya — tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan “binatang peliharaan” mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan air mata dan bertanya di manakah hati nurani mereka, sebagai anak yang telah saya besarkan dan saya didik dengan susah payah? Astargfirullahal Adhiem. Inikah balasan Allah untuk saya, sementara anak-anak saya semua mereka adalah insan terdidik dan terpelajar ataukah mereka tidak punya iman? Waallahu ‘aklam.
Akhirnya, saya tinggal dengan anak saya yang terkecil atau paling bungsu. Dia merupakan anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi anak saya yang lain, karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan ke sukacitaan pada kami semua dalam keluarga. Tapi, apa yang saya dapatkan darinya?
Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa “mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya banyak teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya tiap minggu atau tiap bulan …”.
Sekarang ini sudah 2 tahun lebih, saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya, yang dulu sering saya berikan untuk mereka. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang, kucuran keringat dan air mata. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orang tua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil untuk kebahagiaan mereka.
Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka, tapi mereka sibuk dengan diri sendiri. Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk dan tidak bermoral. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat-sahabat yang mengasihi saya, termasuk bertemu denganmu Nak, tapi tetap saya merindukan anak-anak saya sendiri. Mungkin mereka akan datang nanti di saat saya telah menghadap-NYA, dan saya tidak lagi hidup bersamanya.
Subhanallah ….sampai disini kata kakek tersebut telah membuat dada saya sesak, air mata saya tak mampu terbendung kan dan terus menetes, menetes dan menetes. Ya Allah, Begitu juga teman saya tadi. Dia menangis sesenggukan. Saya berbisik, Ya Rabbi …. kuatkanlah hati ini untuk bisa menyenangkan hati kakek yang ada di hadapanku…. Kakek, Sabar Ya, kami bersamamu dan Allah Swt akan menjaga dan melindungimu. Aaminnnn …. jawab Sang Kakek, suaranya hampir tak terdengar lagi oleh kami yang ada disampingnya saat itu.
YA ALLAH, ampuni dan Maafkan kami… Sejak saat itu, Jika saya ada kesempatan, dan juga teman saya selalu menyempatkan diri untuk datang ke sana dan berbicara dengan sang Kakek. Lambat laun, rasa kesepian di mata sang Kakek berganti dengan keceriaan, apalagi kalau sekali-sekali saya dan teman saya berkesempatan untuk membawa serta anak-anak kami untuk berkunjung bercengkerama dengannya. Kakek, hati kami selalu bersamamu. Kami semua senantiasa mendo’akanmu, semoga dirimu kuat dan kasih sayang Allah Swt menghiasi hari-harimu. Amin, Ya Rabbi…
Saudaraku Yang Mulia… Sampai hati kah kita membiarkan para orang tua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita sehari-hari? Bukankah suatu hari pun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian? When is the last time you chat to your parent. MARI kita Berbuat yang terbaik untuknya selagi mereka masih hidup bersama kita. Semoga Tulisan ini Bermanfaat bagi orang-orang yang berhati mulia. Ingatlah, Kedamaian hati kita selalu diawali dengan keridhaan dan do’a dari Orang tua yang kita cintai. Mudah-mudahan kita menjadi anak yang shaleh dan shalihah, taat pada Allah dan santun kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Amiin… Ya Rabbal ‘Alamin.
Banda Aceh, Awal Maret 2023.







