Medialiterasi.id | Teheran – Mojtaba Khamenei adalah ulama dan tokoh politik Iran yang dikenal berpengaruh di balik layar kekuasaan Republik Islam Iran meskipun tidak pernah memegang jabatan pemerintah resmi. Ia lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, sebagai putra kedua dari Ali Khamenei, yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 hingga wafatnya pada awal 2026.
Mojtaba dibesarkan dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat dekat dengan revolusi dan struktur kekuasaan Republik Islam. Sejak usia muda, ia menjalani pendidikan agama di seminari Qom, pusat studi utama ulama Syiah di Iran. Di Qom, ia belajar dan kemudian mengajar, meskipun tidak memiliki reputasi sebagai seorang ulama terkemuka secara akademik.
Dalam beberapa dekade terakhir, Mojtaba dikenal memiliki jaringan kuat dengan korps keamanan dan militer ideologis Iran, khususnya Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan milisi Basij. Hubungan ini memberi dia peran strategis dalam struktur kekuasaan meskipun berada di luar lembaga formal pemerintahan. Ia sering digambarkan sebagai figur kunci yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan di Kantor Pemimpin Tertinggi.
Namanya mulai banyak disebut publik setelah sejumlah pemilihan presiden di Iran, terutama pada 2005 dan 2009, ketika berbagai pihak menuduhnya menggunakan jaringan kekuasaan untuk memengaruhi hasil politik. Tuduhan yang sama juga muncul di tengah protes besar pasca pemilu 2009, yang kemudian dikenal sebagai “Gerakan Hijau”
Mojtaba sempat dikaitkan dengan kemungkinan menjadi penerus ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi, terutama karena pengaruhnya di kalangan konservatif dan hubungan eratnya dengan IRGC. Namun, peluang tersebut dinilai kontroversial karena sistem politik Iran tidak mendukung pewarisan kekuasaan turun-temurun dan karena gelar keagamaannya belum setara dengan yang biasanya dimiliki para pemimpin tertinggi Republik Islam.
Meski jarang tampil di ruang publik, Mojtaba tetap menjadi figur penting dalam perbincangan tentang struktur kekuasaan Iran dan masa depan politik negara tersebut baik di kalangan pengamat internasional maupun dalam diskursus domestik. (EQ)







