Oleh: Alya Nadila, Mahasiswi Tadris Matematika UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe
OPINI – Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menempatkan kemampuan matematika siswa Indonesia pada peringkat 75 dari 81 negara. PISA 2022 pun tidak menunjukkan peningkatan berarti. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan pembelajaran matematika di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga faktor psikologis yang kerap terabaikan, salah satunya kecemasan matematika (mathematics anxiety).
Kecemasan matematika merupakan kondisi emosional negatif yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang berkaitan dengan matematika—baik saat belajar, mengerjakan soal, maupun menghadapi evaluasi. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa kecemasan ini dapat menurunkan fokus, menghambat pemahaman konsep, serta berdampak pada rendahnya hasil belajar.
Salah satu variabel penting yang banyak dibahas dalam penelitian adalah perbedaan gender. Studi Indi Mei Lita dkk. (2023) dalam Jurnal Inovasi dan Riset Pendidikan Matematika menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam tingkat kecemasan matematika. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh variasi cara berpikir, gaya pengolahan informasi, serta tekanan sosial yang berbeda antargender. Temuan ini sejalan dengan laporan OECD dan pakar psikologi pendidikan internasional yang menyatakan bahwa siswi perempuan secara konsisten melaporkan tingkat kecemasan matematika lebih tinggi dibanding siswa laki-laki.
Untuk melihat fenomena ini secara lokal, mahasiswa Tadris Matematika UIN Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe melakukan wawancara dengan empat siswa SMA sederajat, dua perempuan dan dua laki-laki, pada Senin (24/11/2025). Hasil wawancara memperlihatkan pola yang selaras dengan berbagai penelitian.
Dua siswi perempuan, Rafiqa dan Tazkia, mengaku sering mengalami kecemasan saat mengikuti pembelajaran matematika. Mereka menyebut tekanan nilai, gaya mengajar yang terburu-buru, serta kekhawatiran membuat kesalahan sebagai penyebab utama kecemasan. Pengakuan ini sejalan dengan social expectancy theory, yaitu tekanan sosial dan stereotip bahwa perempuan kurang unggul dalam matematika, sehingga memicu rasa takut gagal dan perfeksionisme berlebihan.
Sebaliknya, respons siswa laki-laki menunjukkan dinamika berbeda. Hafizh merasa cemas ketika materi yang disampaikan terlalu rumit dan sulit dipahami, tetapi ia mengatasinya dengan meminta penjelasan dari teman sebangku. Sementara itu, Alhaitami justru mengaku tidak terlalu cemas dalam belajar matematika. Baginya, kecemasan muncul hanya ketika harus menjawab soal di depan kelas, suatu bentuk evaluation anxiety, yaitu kecemasan yang timbul akibat tekanan penilaian publik.
Keempat siswa tersebut berusaha mengembangkan berbagai strategi untuk mengatasi kecemasan: mulai dari bertanya kepada guru, meminta bantuan teman, memperbanyak latihan soal, hingga melakukan manajemen diri dan berdoa. Ini menggambarkan konsep coping mechanisms dalam psikologi pendidikan, yang menekankan peran dukungan sosial, penguatan kepercayaan diri (self-efficacy), dan pengelolaan emosi.
Dari gambaran tersebut, jelas bahwa kecemasan matematika tidak dapat dijelaskan oleh faktor gender semata. Lingkungan belajar, metode pengajaran, ekspektasi sosial, dan kondisi psikologis siswa memainkan peran penting. Namun, bukti empiris tetap menunjukkan bahwa siswi perempuan lebih rentan mengalami kecemasan matematika, terutama karena stereotip sosial yang menganggap matematika sebagai bidang yang lebih cocok untuk laki-laki.
Dalam konteks kebijakan pendidikan, guru perlu membangun suasana pembelajaran yang lebih ramah emosi. Proses belajar tidak boleh hanya menekankan capaian nilai, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk memahami konsep tanpa tekanan berlebih. Sekolah penting untuk mengikis stereotip gender dalam bidang STEM, memperkuat literasi numerasi sejak dini, serta menyediakan layanan konseling yang sensitif terhadap kondisi psikologis siswa dari berbagai latar belakang.
Pada akhirnya, mengurangi kecemasan matematika bukan hanya tentang meningkatkan nilai ujian, melainkan membangun generasi yang percaya diri, berani mencoba, dan tidak takut menghadapi tantangan akademik. Tanpa upaya menyeluruh, peningkatan kualitas pendidikan matematika di Indonesia akan selalu berjalan timpang.
Lhokseumawe, 24 November 2025







