Keterangan foto utama: Dari kiri: Bre Redana (Kompas) WS Rendra, Dimas Supriyanto, Jose Rizal Manua (belakang) dan Ken Zuraida di jalanan Brooklyn menuju panggung “The First New York International Festival of the Arts” 1988. (Foto : Dahlan Rebo Pahing – Tempo)
MEDIALITERASI.ID – Menyebut WS Rendra dengan julukan “Si Burung Merak”, “Penyair yang berumah di atas angin” – Aktor menawan yang memukau di panggung, penulis puisi pamflet – sajak protes – rasanya belum cukup. Sebab dia juga pemikir seni, pengamat sosial yang gelisah, dan di atas semua itu, dia adalah seorang budayawan.
Berikut uraian yang membumikan terkait posisi itu – mengapa WS Rendra juga dijuluki sebagai Budayawan – selain gelar penyair, dramawan dan teaterawan. :
Pertama, Rendra tidak pernah puas dengan jawaban resmi. WS Rendra (1935 – 2009) selalu mencurigai narasi tunggal — terutama yang datang dari kekuasaan. Dalam banyak sajak pamfletnya, ia mengorek apa yang disembunyikan di balik bahasa resmi negara: pembangunan, stabilitas, kemajuan. Baginya, kata-kata itu bukan netral; ia sarat kepentingan. Rendra tidak menolak bahasa — ia membongkarnya. Di situlah kerja kebudayaan dimulai.
Kedua, Rendra berdiri di antara tradisi dan perubahan. Pemilik nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Narendra ini berakar pada tradisi – baik Jawa maupun spiritualitas – tetapi tidak pernah menjadi penjaga museum. Mas Willy – panggilan akrabnya – menyerap, lalu mengolahnya menjadi bentuk baru yang relevan dengan situasi kontemporer. Teaternya modern, tetapi napasnya tetap berakar. Ia menunjukkan bahwa tradisi bukan untuk disembah, melainkan untuk dihidupkan kembali.
Ketiga, Rendra mengolah kegelisahan menjadi bahasa publik. Banyak orang marah pada ketidakadilan, tetapi berhenti pada keluhan. Pendiri Bengkel Teater 1985 ini melangkah lebih jauh: ia menjadikan kemarahan itu sebagai puisi yang bisa didengar, dirasakan, dan dipikirkan bersama. Puisi baginya bukan pelarian estetis, melainkan alat komunikasi sosial. Ia membuat bahasa menjadi jembatan antara pengalaman personal dan kesadaran kolektif.
Rendra tidak mencari posisi aman. Seniman kelahiran Surakarta, 7 November 1935 ini berkali-kali berhadapan dengan kekuasaan : dilarang tampil, diawasi, bahkan dibungkam. Acara pembacaan sajaknya di TIM dilempari amoniak. Dia pernah mendekam di RTM (Rumah Tahanan Militer) Guntur, 1978. Tetapi ia tidak menggeser nadanya agar lebih “diterima”. Di sinilah sosok seorang budayawan diuji: bukan pada kepiawaian berkarya, tetapi pada keberanian mempertahankan sikap ketika tekanan datang.
Ke empat, Rendra melihat keterkaitan yang tak kasat mata. Dalam karya-karyanya – setelah mendalami drama, teater, dan ilmu sosial di New York (1964-1967) – Rendra tidak berbicara tentang satu isu secara terpisah. Ia melihat hubungan antara kemiskinan, kekuasaan, bahasa, dan moralitas. Ia mengajak publik memahami bahwa krisis sosial bukan sekadar peristiwa, tetapi hasil dari sistem nilai yang timpang.
Ke lima, Rendra hadir di ruang publik, bukan menara gading. Dia tidak menulis untuk kalangan terbatas. Ia membaca puisinya di panggung, di hadapan publik luas, menjadikan sastra sebagai peristiwa sosial. Penyair dengan julukan Si Burung Merak ini memindahkan puisi dari halaman buku ke ruang hidup—dari teks menjadi pengalaman bersama.
Ke enam, Rendra memiliki keberanian moral. Ini inti dari semuanya. Mas Willy tidak hanya cerdas dalam merangkai kata; ia memilih untuk berpihak. Ia berbicara ketika banyak orang memilih diam. Dan dalam konteks itu, puisinya bukan sekadar karya—ia adalah sikap.
Ke tujuh, Rendra adalah contoh bahwa budayawan tidak selalu nyaman untuk dihadirkan. Aktor film “Yang Muda Yang Bercinta” (1977) ini, mengusik, mempertanyakan, bahkan mempermalukan kesadaran kita yang terlalu cepat puas. Ia tidak menawarkan hiburan. Ia menawarkan cermin — dan seringkali, pantulan itu tidak enak dilihat.
Namun justru di situlah letak pentingnya. Dalam masyarakat yang mudah terlena oleh slogan dan euforia, sosok seperti Rendra bekerja sebagai pengingat yang keras kepala: bahwa di balik kata-kata indah, selalu ada realitas yang harus diuji.
Dan karena itu, WS Rendra – yang menikahi Sunarti Suwandi, RA Sitoresmi Prabuningrat dan Ken Zuraeda ini – bukan sekadar dikenang sebagai penyair besar, melainkan sebagai budayawan yang menjaga kita agar tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran – sebagaimana tertulis dalam sajak dan kredo seni nya:
Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala, dan Perjuangan adalah, Pelaksanaan kata kata.
Sumber tulisan dari facebook: Mas Dimas Supriyanto







