Home / OPINI

Senin, 19 Mei 2025 - 23:24 WIB

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2025; Sebuah Refleksi Terhadap Perilaku Kita

Oleh :
T.M. Jamil, Dr, Drs, M.Si
Associate Professor pada Sekolah Pascasarjana USK, Banda Aceh

SERATUS TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU – Tepatnya, tanggal 20 Mei 1908 – digalang kekuatan oleh para pemuda di wilayah Indonesia ini untuk menyatukan suatu Tekad “Bangkit Dari Keadaan Sebagai Bangsa Terjajah”. Rentetan perjuangan yang disertai dengan gelimpangan pengorbanan yang tidak terhitung berujung pada tercapainya satu tujuan, yaitu “MERDEKA”. 17 Agustus 1945 akhirnya kita sampai pada satu tujuan tersebut bahwa bangsa Indonesia sudah tidak lagi terjajah. Kita telah menjadi bangsa yang MERDEKA. Ya Kita telah Merdeka dari Penjajah. Akankah Perjuangan kita Selesai?. Marilah Sejenak Kita Untuk Merenung!

Kita sudah bangkit, infrastruktur sudah lengkap, sekolah sudah tersebar sampai ke pelosok pedesaan, masyarakat sudah menikmati listrik, telepon, internet serta segudang kemajuan yang lainnya. Kita terus membangun sejak Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga kini. Terhadap kemajuan Pembangunan Fisik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Pemerataan (kecuali kawasan tertentu terutama di Timur Indonesia) sangat diakui bahwa Indonesia yang sejak 17 Agustus 1945 telah merdeka kini menjadi Negara Berkembang yang sangat diperhitungkan oleh bangsa lain. Kita sangat pantas untuk berbangga. Tapi, MASIH TERSISA sebuah pertanyaan bodoh – Bangaimana Pula Dengan Moral Masyarakat Bangsa Ini, Baik Rakyat Biasa Maupun Yang Sudah Jadi Pejabat?

BARANGKALI – INILAH YANG MENJADI BAHAN RENUNGAN KITA DALAM MEMPERINGATI HARI KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN INI : PERTAMA, Masyarakat di negeri ini masih banyak yang sangat miskin dari sisi ekonomi bahkan lebih celaka lagi banyak di antara mereka yang memiliki mental yang sangat memprihatinkan yaitu selalu mengharapkan bantuan padahal memiliki potensi untuk bangkit dari kemiskinannya. Ini terbukti dari berbagai program yang digulirkan berujung pada kegagalan karena bantuan yang diberikan selalu dimusnahkan ketika sudah diterima bukan digulirkan. Masih banyak program lain tentang pemberdayaan ekonomi rakyat tetapi yang terjadi justru pelemahan ekonomi rakyat. Semua itu terjadi karena para oknum pengelola negeri dan daerah ini bermental “mafia”.

Baca Juga  UNTUK APA BANYAK PARTAI POLITIK, JIKA JALUR PERJUANGAN TAK BERBEDA 

KEDUA, Pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi seluruh masyarakat tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan yang memadai sehingga menghasilkan proses dan hasil pendidikan di sekolah yang bersifat formalitas, sekolah dimaknai sebagai bagian yang harus dilewati pada usia tertentu selama waktu tertentu dan harus selesai dengan “mengantongi” ijazah dengan tanpa mempertimbangkan apa yang terbaik harus didapat dari proses pendidikan di sekolah. Belum lagi yang terjadi justru Lembaga Pendidikan dikomersialkan untuk memperkaya diri oknum. Kondisi ini melahirkan generasi yang “penuh dengan tanda tanya” yang apabila dibandingkan dengan bangsa lain, rata-rata kualitas lulusan SMA di negeri ini kalah dengan lulusan dari negara maju. Ini memang sangat parah, meskipun memang tidak bis akita general kan.

KETIGA, Masyarakat secara umum masih banyak yang tidak memiliki budaya “do the best”, kompetitif, prosedural dan disiplin terhadap tata etika dan aturan formal kehidupan bernegara di negeri ini sehingga banyak melahirkan budaya kolusi serta kongkalingkong dengan pejabat. Bahkan bagi mereka yang ingin berkuasa rela membeli dan diperjualkan jabatan. Ini bukan lagi rahasia, tetapi telah menjadi tontonan harian bagi warga Masyarakat kita. Lalu, masihkah kita diam?

Baca Juga  Mulai Fokus Pembuktian Ijazah Palsu Jokowi

KEEMPAT, Banyak para pejabat yang memiliki kewenangan banyak yang menyalah- gunakannya, tidak menganggap bahwa jabatan dan kewenangannya sebagai amanat dan memaknai bahwa dirinya adalah pelayan bagi masyarakat. Penyalahgunaan wewenang yang melahirkan Kolusi, Korupsi, Nepotisme menghiasi keseharian negeri ini. Para pejabat sibuk dengan kata-kata global, padahal sikap dan perilakunya lokal alias kampungan.

Karena Itu dan Hari Ini, 20 Mei 2025 Adalah Hari Kebangkitan Nasional – Akankah Hanya Sekedar Dijadikan Seremonial Belaka Hanya Sekedar Apresiasi Terhadap Jasa Para Pahlawan Pada Waktu Itu? Ataukah Akan Dimaknai Bahwa Hari Ini Dan Selanjutnya Negeri Ini Harus BANGKIT Untuk Memperbaiki, Pertama, Moral dan akhlak masyarakat serta pejabat. Kedua, Tatanan kehidupan perekonomian dan sosial masyarakat. Ketiga, Sistem pemerintahan yang bersih dan amanah. Keempat, Sistem pendidikan yang akan melahirkan generasi cerdas dan bermoral, dan Terakhir, Keterpurukan bangsa ini menjadi Bangsa yang Maju dan diperhitungkan? Mari Kita Merenung Untuk dapat menjawab berbagai pertanyaan dan permasalahan bangsa dengan kejujuran hati kita masing-masing. Insya Allah Bermanfaat untuk umat di masa depan !

———–

Kota Madani, 20 Mei 2025.

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian