MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Arsitek sekaligus tokoh publik, Ridwan Kamil, melakukan kunjungan ke Museum Tsunami Aceh sebagai bagian dari rangkaian konferensi internasional kebencanaan yang diselenggarakan oleh Union Internationale des Architectes (UIA) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada Sabtu (18/04/026)
Fokus utama kunjungan ini adalah mendiskusikan peran desain arsitektur dalam penanganan pascabencana yang efektif bagi masyarakat terdampak.
Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Kamil berperan langsung sebagai pemandu bagi rombongan arsitek untuk menjelaskan filosofi bangunan yang ia rancang pada tahun 2007. Ia menyebutkan bahwa dari sekian banyak karyanya, Museum Tsunami Aceh merupakan desain yang paling emosional karena kedalaman tragedi kemanusiaan yang melatarbelakanginya.
“Saya bahagia bangunan ini bisa berdiri dan memberikan manfaat, tidak hanya untuk mengingat tetapi juga mengedukasi supaya masyarakat Aceh yang tangguh ini memiliki ilmu dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan,” ujar Ridwan Kamil saat meninjau gedung yang diresmikan pada 2009 tersebut.
Menanggapi kunjungan ini, Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menyampaikan apresiasi atas masukan strategis terkait pemeliharaan profesional dan pembaruan konten secara berkala. Hal ini dipandang krusial agar museum tetap berfungsi sebagai destinasi edukasi bencana yang relevan bagi pengunjung lokal maupun mancanegara.
Selain fungsi sebagai monumen peringatan, museum ini diarahkan menjadi pusat ilmu pengetahuan. Mengingat catatan sejarah Aceh yang telah mengalami tsunami lebih dari sepuluh kali sejak zaman kolonial, edukasi bagi generasi muda menjadi kunci utama dalam membangun kesiapsiagaan di masa depan.
Kunjungan ini merupakan salah satu dari belasan kali kehadiran Ridwan Kamil di Banda Aceh, yang menegaskan perhatiannya terhadap keberlanjutan warisan arsitektur dan nilai kemanusiaan di Aceh. Melalui integrasi antara desain dan sejarah, Museum Tsunami diharapkan terus menjadi sarana pembelajaran bagi ketangguhan sosial dan ekonomi masyarakat secara inklusif. [Af]







