Home / BERITA

Rabu, 27 Mei 2026 - 22:58 WIB

Ketua Dewan Adat Mee-Pago: Tolak Blok Wabu, Soroti Keamanan, dan Evaluasi Otsus Papua

MEDIALITERASI.ID | INTAN JAYA – Ketua Dewan Adat Wilayah Mee-Pago sekaligus Ketua Dewan Adat Daerah Intan Jaya, Wolter Belau, menegaskan penolakan terhadap rencana pertambangan Blok Wabu di Kabupaten Intan Jaya. Ia juga menyoroti situasi keamanan di Papua serta menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pleno XIX Dewan Adat Papua yang berlangsung pada 19–21 Mei 2026 di Wondama, Wasior.

Dalam forum itu, Wolter Belau menyampaikan tiga isu utama yang menurutnya menjadi perhatian masyarakat adat di wilayah Mee-Pago dan sejumlah daerah di Papua.

Pertama, ia menolak rencana pertambangan Blok Wabu. Menurutnya, proyek tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan serta kehidupan masyarakat adat, termasuk rusaknya tempat-tempat keramat, situs adat, serta hilangnya sumber penghidupan seperti hutan yang selama ini dimanfaatkan untuk mencari hasil alam.

Baca Juga  Tim Kuasa Hukum Minta Kematian Yeremias Magai di Usut Tuntas

Kedua, ia menyoroti situasi keamanan di Intan Jaya dan sejumlah wilayah lain di Papua. Wolter Belau menyebut keberadaan aparat keamanan non-organik serta konflik yang terjadi telah berdampak terhadap warga sipil. Ia menyatakan korban tidak hanya berasal dari pihak aparat maupun kelompok bersenjata, tetapi juga masyarakat sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan pekerja gereja.

Ia juga menilai kondisi tersebut berdampak pada terganggunya layanan pendidikan, kesehatan, serta melemahnya aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai wilayah, seperti Intan Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiyai, hingga wilayah Sorong Raya.

Ketiga, Wolter Belau menyoroti pelaksanaan Dana Otonomi Khusus Papua. Ia menilai dana tersebut belum memberikan dampak yang merata bagi masyarakat adat, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi di tingkat kampung dan daerah pedalaman.

Ia meminta agar pengelolaan Dana Otsus dibenahi dan diarahkan langsung untuk kepentingan masyarakat adat, serta tidak menjadi bagian dari kepentingan elite di tingkat daerah maupun pusat.

Baca Juga  Dewan Adat Bamus Betawi Siap Jadi Jembatan Pertemuan Demonstran dan Presiden

Selain itu, Wolter Belau menilai bahwa selama kurang lebih 26 tahun pelaksanaan kebijakan Otonomi Khusus, masyarakat Papua masih menghadapi persoalan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, serta konflik sosial yang berkepanjangan. Ia menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tersebut agar lebih berpihak kepada masyarakat adat.

Wolter Belau juga mendorong pemerintah pusat untuk membuka ruang dialog yang terbuka, damai, dan bermartabat dengan masyarakat Papua guna mencari penyelesaian atas berbagai persoalan yang terjadi. Ia menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan serta pelibatan pihak netral dalam proses dialog tersebut.

Di akhir penyampaiannya, ia menginformasikan bahwa Konferensi Dewan Adat Wilayah Mee-Pago akan dilaksanakan pada 11–13 Juni 2026 di Timika. (Andru Sapau)

Share :

Baca Juga

ACEH

76 Santri Wustha dan Ulya SPM YPI Darussa’adah Idi Cut Diwisuda, Bupati Alfarlaky Minta Alumni Jaga Almamater

BERITA

42 Tim dari Berbagai Kampus Bersaing, Hanya 10 Lolos ke Final Lomba Esai Nasional FKIP Unimal

ACEH

Diduga Mabuk, 4 Mahasiswa Unimal Ribut dengan Warga di Dewantara, Rektor Tempuh Jalur Damai

ACEH

Baitul Mal Aceh Timur Buka Pendaftaran Calon Anggota Periode 2026-2031, Ini Syarat dan Jadwalnya

ACEH

Polres Aceh Timur Gelar Perkara Kasus Dugaan Penganiayaan Pelajar SMP di Idi Tunong, Status Hukum AS Ditentukan Jumat

ACEH

Bupati Al- Farlaky Lantik T. Reza Rizki Pj.Sekda Atim

BERITA

Presiden Prabowo Tetapkan Harga Khusus BBM Rp15.000 per Liter bagi Nelayan Kapal 30–200 GT

ACEH

Spanyol Tundukkan Prancis 2-0, Oyarzabal dan Porro Antar ke Final