Oleh : Endang Kusmadi, Pemerhati Sosial dan Jurnalis sekaligus Penggerak Literasi.
OPINI – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa hari terakhir telah memporak-porandakan rumah, jalan, dan fasilitas publik. Kayu-kayu basah menutupi akses, listrik padam, dan komunikasi terputus. Dalam kondisi darurat seperti ini, Gas LPG 3 kg menjadi kebutuhan vital. Asap mengepul dari panci penanak nasi bukan sekadar simbol aktivitas sehari-hari, tetapi tanda harapan: keluarga masih bisa memasak makanan hangat bagi anak-anak, lansia, dan warga terdampak bencana.
Namun di tengah krisis ini, sebagian manusia menunjukkan sisi gelapnya. Beberapa warga mengambil lebih dari satu tabung karena khawatir kelangkaan, sementara oknum penimbun mengambil jatah milik anggota keluarga lain, tetangga, atau rekannya, bahkan rela mengantri di sejumlah pangkalan untuk mendapatkan jumlah yang lebih banyak, kemudian menjualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi, dari pangkalan resmi Rp22.000 menjadi Rp28.000–30.000. Praktik ini tidak hanya merugikan warga miskin, tetapi juga menodai nilai kemanusiaan yang seharusnya tidak muncul di saat bencana.
Akses jalan yang masih belum bisa di tembus membuat pasokan makanan, obat obatan dan air bersih menjadi kebutuhan mendasar termasuk penyaluran Gas LPG 3 Kg perlu di kawal dengan baik agar distribusi tepat sasaran.
Masalah kelangkaan LPG bukan sekadar persoalan logistik, tetapi juga ujian kemanusiaan. Ditambah dengan listrik yang padam, akses komunikasi yang terputus, namun nurani dan solidaritas tidak boleh padam dan terputus. Di tengah bencana, sikap saling menolong adalah energi yang menyalakan harapan, hilangkan sikap keserakahan agar sang pencipta tak lagi murka.
Ujian nurani harus segera di atasi di tengah bencana, untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah konkret dan terkoordinasi seluruh stakeholder pemerintahan termasuk Desa dan Masyarakat agar permasalahan di tengah bencana sedikit tertanggulangi.
Diperlukan sejumlah tindakan seperti, Perlunya Cadangan LPG darurat disiapkan oleh BPBD bekerja sama dengan Pertamina di titik strategis. Distribusi harus dilakukan berbasis data keluarga terdampak, dikoordinasikan oleh RT/RW setempat, agar setiap keluarga mendapat satu tabung sesuai kebutuhan. Selian itu juga perlu ya Pengawasan ketat dan sanksi tegas terhadap praktik penimbunan dan spekulasi oleh aparat berwenang. Sekaligus mengedukasi masyarakat tentang penggunaan LPG bijak dan menahan diri dari praktik serakah, sekaligus mendorong solidaritas di masa darurat.
Banjir mungkin menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi keserakahan manusia tidak boleh menghancurkan nurani dan rasa kemanusiaan. Setiap tabung LPG yang sampai ke tangan keluarga terdampak berarti harapan tetap hidup, dapur tetap mengepul, dan solidaritas tetap ada di tengah ujian alam.
Aceh Utara, 30 November 2025






