Home / BERITA

Kamis, 3 April 2025 - 11:00 WIB

Gubernur Papua Tengah Meki Friz Nawipa Larang Bakar Batu : Budaya Pengunungan Bukan Anak Adat Papua

MEDIALITERASI.ID | PAPUA TENGAH – Pelarangan tradisi Bakar Batu oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Friz Nawipa, telah memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Mayoritas masyarakat Papua Tengah bertanya-tanya, apakah gubernur yang bukan anak adat pegunungan memahami nilai budaya yang melekat dalam tradisi ini? Keputusan tersebut dianggap sebagai upaya menangkal budaya pegunungan, yang pada dasarnya merupakan bagian dari identitas adat Papua.

Bakar Batu bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan simbol kebersamaan, persatuan, dan keharmonisan antara berbagai suku di wilayah pegunungan. Tradisi ini telah lama menjadi wadah untuk menyatukan masyarakat dari berbagai wilayah, mempererat hubungan antar-suku, serta memperkuat nilai gotong royong dan solidaritas.

Baca Juga  Farchan Al Aziz Terpilih Ketua Iskada Aceh Besar

Jika seorang pemimpin merasa terbebani oleh keberagaman budaya yang ada, maka mungkin perlu dipertanyakan kembali kapasitasnya dalam memimpin daerah dengan keberagaman suku dan adat yang kuat seperti Papua Tengah. Kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan administratif, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin dapat merangkul dan menjaga keberlanjutan budaya serta kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakatnya.

Gubernur Meki Friz Nawipa seharusnya tidak melihat tradisi Bakar Batu sebagai sebuah beban, melainkan sebagai aset budaya yang harus dipelihara dan dihormati. Jika tidak mampu memahami serta menjalankan perannya dalam menjaga harmoni antar-suku melalui pelestarian tradisi ini, mungkin sebaiknya ia mempertimbangkan kembali posisinya sebagai pemimpin Papua Tengah.

Baca Juga  Literasi Putusan MK: Denny Indrayana Persoalkan Ijazah SMA Gibran, KPU Akui Tak Verifikasi Penyetaraan

Pelarangan Bakar Batu sama saja dengan menyingkirkan nilai-nilai sosial dan kasih sayang antar sesama. Tradisi Barapen atau Bakar Batu adalah wujud kebersamaan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Jika hal ini dilarang, maka generasi muda Papua akan kehilangan salah satu aspek penting dalam membangun solidaritas dan identitas mereka. Seorang pemimpin seharusnya mendukung, bukan menghapus, budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. (Mogouda Yeimo)

Share :

Baca Juga

HUKUM

Penyadapan Ilegal Diduga Sasar Prabowo hingga Jurnalis, Tiga Orang Ditetapkan Tersangka

HUKUM

Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Kasus Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo dan Pejabat Negara

ACEH

Ahli Dewan Pers Ingatkan di Gathering Medco-BPMA: AI Hanya Alat Bantu, Verifikasi Fakta Tetap Tugas Jurnalis

BUDAYA

Viral! Atraksi Sembur Api Iringi Lagu Aceh Kuthiding di Johor Malaysia, Penonton Karnival Jom Heboh 1 November 2026 Histeris

INTERNASIONAL

Terseret Duel Veda Ega vs Hakim Danish, Alvaro Carpe Gagal Kejar Quiles di Sepang

HUKUM

Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tak Sah, Penggugat Desak Prabowo Usulkan 2 Nama Calon Wapres ke MPR

HUKUM

Kronologi Penggerebekan Ma’had Hamalatul Qur’an Sukoharjo, Santriwati Dibawa Dini Hari – Polisi: Pengembangan Kasus Pembakaran Warung

INTERNASIONAL

Veda Ega Pratama Kibarkan Merah Putih di Sepang, Start P8 Finish P2 Podium Terbaik Sepanjang Karir