MEDIALITERASI.ID | ACEH TIMUR – Satu kelurga di Gampong Tualang Panteng Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur, saat ini tinggal di sebuah gubuk darurat setelah rumah pasangan Zulkifli (53) dan Nurhayati (48) terbakar dua bulan lalu.
Tempat tinggal sementara yang terbuat dari tenda oranye dan atap seng bekas yang bocor menjadi tempat berteduh untuk 5 anak dari pasangan Zulkifli dan Nurhayati saat malam tiba, suasana hari yang pengap akibat panas matahari dan udara malam yang dingin masuk melalui celah tenda menjadi bagian kehidupan yang harus dilewati dengan tanpa mengeluh meski anak-anak nya meringkuk di atas tikar usang untuk menghindari tetesan air yang jatuh dari atap.
Menurut keterangan keluarga, kondisi ini telah berlangsung sejak kebakaran melanda rumah mereka. Hingga kini, mereka belum mendapatkan hunian layak dari pihak terkait.
Rumah satu-satunya yang mereka miliki hangus terbakar dalam peristiwa kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu. Kini, Zulkifli (53), sang ayah, bersama istrinya Nurhayati (48), dan kelima anak mereka, hidup tanpa rumah tetap, tanpa kepastian, dan tanpa perlindungan memadai.
“Kalau hujan turun, kami harus geser-geser tidur, air masuk dari mana-mana,” tutur Nurhayati dengan suara pelan.
Zulkifli, yang sejak lama mengalami cedera kaki karena kecelakaan saat bekerja sebagai sopir truk, kini tak lagi bisa mencari nafkah maksimal. Anak sulung mereka, Juli Yanti (22), mengambil alih sebagian beban. Tapi ia sendiri masih berjuang menyelesaikan pendidikan dan membantu adik-adiknya bertahan.
“Adik-adik sering tanya kapan kita bisa tidur di rumah sendiri lagi. Saya nggak tahu harus jawab apa,” ucap Juli lirih.
Gubuk yang mereka tempati berdiri di atas tanah pinjaman, milik seorang warga yang bersedia memberi tempat sementara. Namun status sementara itu justru menciptakan kekhawatiran baru: setiap malam, ada ketakutan akan diusir.
Kondisi keluarga ini diketahui publik setelah sebuah video tentang mereka viral di platform TikTok. Dalam video berdurasi pendek itu, tampak kelima anak tidur dalam keadaan basah dan menggigil. Video itu kemudian sampai ke telinga Wakil Ketua DPRK Aceh Timur, Junaidi, SE.
Pada Sabtu (12/7/2025), Junaidi datang langsung ke lokasi bersama rekannya Muhammad, SE. Tokoh masyarakat yang dikenal dengan nama Amad Leumbeng. Keduanya tampak terdiam saat pertama kali melihat kondisi gubuk itu. Tak lama, Amad Leumbeng menyampaikan keprihatinan mendalam.
“Ini sudah dua bulan. Kita semua harus bertanya, di mana tanggung jawab negara terhadap warganya?” kata Muhammad kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa seharusnya pemerintah daerah lebih responsif dalam menangani kasus-kasus darurat seperti ini.
Junaidi dan Muhammad kemudian bersepakat untuk membangun kembali rumah keluarga Zulkifli dengan dana pribadi. Mereka menginstruksikan tim mereka untuk segera mengumpulkan dan mengirim bahan bangunan ke lokasi.
“Ini bentuk kepedulian. Tidak perlu menunggu jabatan atau anggaran daerah untuk bertindak,” ujar Junaidi.
Zulkifli tak kuasa menahan haru. Tangannya bergetar saat menerima kunjungan dan bantuan tersebut. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih, sementara Nurhayati hanya bisa memejamkan mata dan berdoa agar semuanya benar-benar membaik.
“Semoga ini bukan hanya perhatian sesaat karena viral. Anak-anak saya butuh masa depan, bukan belas kasihan,” katanya pelan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Sosial atau instansi terkait mengenai rencana jangka panjang bagi keluarga ini. Kondisi ini menjadi refleksi lebih luas tentang bagaimana negara hadir (atau absen) dalam situasi-situasi darurat yang menimpa rakyat kecil.
Di balik gubuk berdinding tenda itu, lima anak masih menunggu rumah mereka kembali berdiri. Mereka tidak meminta istana, hanya ruang aman untuk bermimpi. (Fahmi | JMNpost.com)







