Oleh: Endang Kusmadi [Penulis Lepas sekaligus Penggiat Literasi]
Kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman masa depan. Ia telah nyata hadir di depan mata. Perubahan iklim semakin sulit dikendalikan, musim tak menentu, hutan ditebang secara masif demi meningkatkan perekonomian pribadi, sungai dipenuhi limbah, dan keanekaragaman hayati kian terancam punah. Bumi, rumah bersama umat manusia, sedang menjerit. Sayangnya, mimbar-mimbar dakwah masih terlalu sepi membicarakan isu ini.
Islam sejatinya adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Nilai-nilai tauhid dalam Islam tak hanya mengatur relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama makhluk dan alam semesta. Namun, ajaran ini tampaknya belum sepenuhnya tercermin dalam praktik dakwah kita hari ini. Lingkungan hidup masih dianggap sebagai urusan teknis para ahli, padahal ia adalah tanggung jawab moral dan spiritual seluruh umat Islam.
Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa manusia adalah khalifah fil ardh wakil Allah di muka bumi. Dimana dalam Al Qur’an terdapat beragam peringatan.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Sebagai khalifah tentunya manusia diberi mandat untuk merawat, menjaga, dan memakmurkan bumi. Namun yang terjadi terjadi, karena keserakahan manusia, bumi justru di eksploitasi berlebihan, gaya hidup konsumtif, dan sikap abai terhadap alam menciptakan kerusakan besar.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ironisnya, kerusakan ini tidak selalu disadari sebagai bagian dari dosa sosial atau ekologis. Padahal, Allah secara tegas melarang tindakan merusak lingkungan.
Sudah saatnya kita semua menjadikan isu lingkungan sebagai bagian utama dari agenda dakwah. Bukan hanya sebagai selingan, apalagi tambahan yang bersifat simbolik. Dakwah harus hadir menumbuhkan kesadaran ekologis umat: bahwa menjaga bumi adalah bentuk ibadah, dan merusaknya adalah pengkhianatan terhadap amanah Allah.
Islam sangat menghargai tindakan-tindakan kecil yang berdampak ekologis:
Rasulullah SAW bersabda, “Jika kiamat datang dan di tangan salah seorang di antara kalian ada benih kurma, maka tanamlah itu.” (HR. Ahmad)
Bahkan saat wudhu, beliau mencontohkan hemat air meskipun berada di sungai yang mengalir. Ini menunjukkan betapa prinsip efisiensi dan kepedulian terhadap sumber daya adalah bagian dari akhlak Islami.
Tauhid yang murni bukan hanya diucapkan di lisan, tapi harus berdampak pada perilaku. Orang yang beriman mestinya tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencemari air dan udara, dan aktif melestarikan alam.
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Sudah saatnya dakwah membentuk gaya hidup baru: hidup sederhana, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bumi. Para tokoh agama bisa memulainya dari khutbah, majelis taklim, konten media sosial, hingga aksi kolektif seperti gerakan menanam pohon atau edukasi pengelolaan sampah
Bumi ini bukan milik kita. Ia titipan. Dan setiap titipan akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan biarkan generasi mendatang mewarisi bumi yang rusak karena kelalaian kita hari ini. Seperti dalam firman-Nya:
“Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77)
Lingkungan yang sehat adalah amanah. Menjaganya adalah ibadah. Menghancurkannya adalah pengkhianatan terhadap fungsi kita sebagai khalifah. Maka mari hidupkan kembali semangat cinta lingkungan dalam setiap jengkal dakwah kita.
Karena mencintai bumi, sejatinya adalah mencintai ciptaan-Nya. Wallahu ‘aklam Bissawab







