MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE – Dewan Ekonomi Aceh (DEA) memberikan catatan penting terkait kondisi Pelabuhan Krueng Geukuh di Lhokseumawe. Lembaga ini menilai pelabuhan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pelabuhan ekspor komoditas unggulan Aceh, khususnya Crude Palm Oil (CPO).
“Secara umum kami menilai kondisi Pelabuhan Krueng Geukuh sangat positif. Penilaian ini berdasarkan tinjauan awal, meski tetap dibutuhkan kajian lebih mendalam,” ujar Sekretaris Jenderal DEA, Ismail Rasyid.
Ismail menyebut, aktivitas di pelabuhan tersebut masih mengalami stagnasi akibat kurangnya perencanaan dan pengembangan yang terarah. Selama ini, kata dia, kegiatan pelabuhan masih bergantung pada aktivitas sektor minyak dan gas di Aceh.
“Sebagian besar barang dari Aceh justru dikirim melalui Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara, kemudian dilanjutkan melalui jalur darat ke Aceh,” tambahnya.
Untuk melihat langsung kondisi pelabuhan, DEA mengutus Ismail Rasyid bersama anggota DEA, Hasballah M. Thaib atau Rocky, yang juga mantan Bupati Aceh Timur.
“Kami mendapat penjelasan dari pihak Pelindo bahwa Pelabuhan Krueng Geukuh sangat siap untuk kegiatan ekspor dan impor,” kata Rocky.
Rocky yang kini aktif di sektor perkebunan sawit menilai pelabuhan tersebut berpotensi menjadi pelabuhan utama pemuatan CPO dari Aceh.
“Melihat kondisi di lapangan, hanya diperlukan pembenahan kecil yang sifatnya tidak krusial,” ujarnya.
Dalam kunjungan lapangan pada Jumat (10/10/2025), tim DEA menyaksikan satu kapal yang baru saja selesai memuat 10.000 ton kernel (cangkang sawit) untuk diekspor ke Jepang. Selain itu, satu kapal kargo domestik juga sedang melakukan aktivitas bongkar muat.
Berdasarkan hasil tinjauan tersebut, DEA meyakini Pelabuhan Krueng Geukuh dapat dikembangkan menjadi pusat ekspor CPO Aceh.
“Pengembangan ini akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) hingga penyerapan tenaga kerja,” ujar Ismail.
Rocky menambahkan, agar fungsi pelabuhan sebagai pusat ekspor CPO berjalan optimal, dibutuhkan tambahan investasi untuk pembangunan tangki penyimpanan (storage tank). (EQ)







