
Oleh: Anang Fathurrohman. Mantan Ketua Gerakan Tani Syarikat Islam (GERTASI) Indonesia Kabupaten Bandung, Jawa Barat
OPINI – Coba bayangkan… jika Sungai Citarum bisa berbicara, mungkin ia sudah menjerit menggunakan toa di tengah keramaian:
“Hei manusia! Airku untuk menghilangkan dahagamu, bukan untuk menampung dosa limbah pabrik dan tumpukan sampah rumah tanggamu!”
Ironis, bukan? Sungai yang menjadi sumber air baku bagi jutaan manusia justru kita perlakukan seperti tong sampah raksasa gratis. Kita lupa bahwa jika airnya tercemar, kitalah yang akan meminum racun itu setiap hari—disamarkan dalam bentuk “teh limbah” yang merayap diam-diam ke dalam tubuh kita.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya sederhana: menebar benih ikan.
Ya, mungkin terdengar sepele. Tapi percayalah, in syaa Allah dampaknya luar biasa. Ikan bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi pasukan pembersih alami—memakan plankton berlebih, mengendalikan populasi serangga, dan menjadi tanda bahwa air sungai masih layak dihuni.
Bayangkan jika setiap warga mau menebar benih ikan di Citarum:
Anak-anak akan belajar bahwa ikan lahir dari sungai yang sehat, bukan dari mesin pabrik di pasar.
Masyarakat akan paham bahwa keberadaan ikan adalah bukti air yang tidak terlalu tercemar—karena ikan tak punya masker atau tabung oksigen.
Nelayan tak lagi sekadar bernostalgia, tetapi kembali bisa menebar jala dan memancing dengan senyum di wajah.
Menebar benih ikan adalah bentuk “permintaan maaf” kita kepada Citarum:
“Maaf, kemarin aku menambah dosamu dengan sampahku. Hari ini aku memberimu kehidupan baru.”
Kita tidak bisa menunggu pemerintah saja. Sungai ini butuh tangan-tangan kita. Butuh niat tulus kita. Butuh aksi kecil yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi gelombang perubahan.
Jadi, saat ada acara menebar benih ikan, jangan hanya berdiri sambil memotret lalu pulang. Turunlah, genggam benih itu, dan lepaskan ke air. Rasakan getaran hidup yang kita berikan kembali pada sungai. Itulah investasi lingkungan tidak pernah merugikan, dan keuntungannya akan kembali pada kita, pada anak-anak kita, dan pada masa depan yang ingin kita selamatkan.
Karena Citarum yang sehat bukan sekadar mimpi. Itu adalah janji kehidupan. Dan ketika kita menjaganya, suatu hari nanti, mungkin sungai itu akan berbisik lembut kepada kita.
“Terima kasih… kini aku tidak lagi rasa limbah.”, tapi untuk saat ini kata indah itu hanya sekedar harapan, jika kita semua tidak berjibaku menjaga alam dan lingkungan Citarum.







