Nuriman Abdullah, S.Pd.I, M.Ed, Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan UINSUNA Lhokseumawe
Nuriman.abdul@gmail.com
Dalam panggung sejarah umat manusia, selalu ada ironi yang melukai nurani antaranya pemimpin yang dielu-elukan bumi, tetapi dilaknat oleh langit. Ia disambut gegap gempita dan dielu-elukan dalam puja-puji, seolah menjadi titisan kebaikan. Namun di mata nilai-nilai abadi, ia tak lebih dari sebuah noda sebuah kesalahan kolektif yang akan ditertawakan masa depan dan disesali oleh zaman.
Pemimpin semacam ini bukan lahir dari ketulusan, melainkan dari kelicikan. Ia tak tumbuh dari kebajikan. Ia memahami cara memainkan persepsi, menyulap kepalsuan menjadi kebenaran, dan menata panggung citra bahwa ia adalah penyelamat. Ia bukan sosok yang mendaki bukit kepemimpinan karena kemurnian niat, tetapi karena kelicinan langkah.
Ia menguasai bukan untuk melayani, tetapi untuk mengendalikan. Ia membentuk loyalitas bukan dari kepercayaan, tetapi dari ketergantungan. Ia membeli dukungan dengan fasilitas, memupuk ketakutan agar kritik tampak seperti pengkhianatan, dan menyusun tafsir tunggal atas kebaikan bahwa kebaikan hanya bermula dan berakhir darinya.
Bumi menyambutnya, karena bumi telah dikotori oleh kerakusan dan nafsu dunia. Namun langit yang tak bisa dibeli, ditipu, atau digertak melihat segala yang tersembunyi. Ia menjadi pemimpin yang direstui bumi karena bumi telah kehilangan nurani. Tapi di mata langit, ia adalah tiran berjubah kebaikan, pendusta yang mengklaim cahaya, namun menebar bayang-bayang.
Langit bukan simbol awan atau angin. Ia adalah metafora dari nilai-nilai tertinggi, keadilan, kasih sayang, kejujuran, integritas, dan amanah. Ketika seorang pemimpin direstui bumi namun dilaknat langit, itu artinya ia telah ditelan oleh dunia, namun ditolak oleh nurani. Ia mungkin menang secara formal, tapi kalah secara esensial. Ia membangun rumah ibadah, tapi merobohkan keadilan.
Ia bisa bersikap ramah di depan kamera, namun di balik tirai kekuasaan, ia menjagal suara-suara yang menantangnya. Ia bisa mengutip ayat-ayat suci, namun memenjarakan kebenaran. Ia mencuci tangan di air doa, namun membasuh wajahnya dengan kebohongan. Ia membungkam nasihat langit karena takut kekuasaan runtuh oleh kejujuran.
Namun langit tak pernah lelah. Doa-doa orang yang dizalimi bukan hanya naik, tapi menembus dinding takdir. Tangisan yang tak terdengar oleh mikrofon dunia, justru paling nyaring di telinga langit. Ia mencatat, menunggu, dan menegakkan keadilan pada saat yang paling tak terduga.
Bahkan Fir’aun yang menguasai istana dan sungai pun tenggelam oleh kecongkakannya sendiri. Maka siapa pun pemimpin yang memerintah dengan kesombongan, akan mengalami hal serupa, dilucuti kehormatannya oleh sejarah, dikutuk oleh masa depan, dan diwarisi sebagai aib oleh keturunannya. Mungkin hari ini ia dielu-elukan, namun esok ia menjadi simbol kegagalan moral yang memalukan.
Jika bumi mengangkatnya tinggi hari ini, langit mungkin telah menyiapkan batu untuk menjatuhkannya. Jika para pengikutnya kini mencium tangannya, cucunya kelak mungkin mencucurkan air mata karena beban warisan kehinaan.
Sebab langit tidak melaknat karena benci, melainkan karena cinta-cinta pada keseimbangan, cinta pada kemanusiaan, cinta pada keadilan yang telah dikhianati oleh manusia bumi dan bumi yang dulu menjadi saksi puja-puji, akan menjadi tanah yang menelan kebesarannya. Sebab tidak ada yang lebih hina dari seorang pemimpin yang kehilangan restu langit, namun tetap bergelimang dalam pujian palsu manusia.
Kepemimpinan bukan tentang seberapa ramai sambutan, tapi seberapa jujur nurani. Bukan tentang berapa juta pengikut, tapi berapa banyak hati yang terayomi. Bukan tentang popularitas, tetapi tentang akuntabilitas. Bukan tentang seberapa sering menyebut Tuhan di podium, tetapi seberapa takut mengecewakan Tuhan saat tak ada yang menonton.
Kita tidak butuh pemimpin yang hanya pandai mengelola anggaran. Kita butuh pemimpin yang gemetar ketika hendak berbuat zalim, meski semua orang diam. Kita butuh pemimpin yang takut akan kutukan langit, meski seluruh bumi membisikinya untuk terus berkuasa.
Karena pada akhirnya, sejarah akan memilah, siapa yang dicintai bumi karena dusta, dan siapa yang diridhai langit karena kebenaran.







